ARSITEKTUR ISLAM

Apakah yang dimaksud dengan arsitektur Islam ? Apakah arsitektur yang dibuat untuk dan oleh orang-orang Muslim untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah.  Atau apakah semua karya bangunan (arsitektur) baik yang mempunyai fungsi keagamaan maupun fungsi sekuler yang dihasilkan di negri-negri Islam? Jika benar ada arsitektur Islam seperti itu, kwalitas-kwalitas apa yang membedakannya dengan arsitektur lain di luar Islam?
Sesuai dengan pandangan bahwa Islam bukan sekedar sebuah agama yang hanya mementingkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga pandangan hidup yang memberikan pedoman kepada manusia dalam semua aspek kehidupan, maka arsitektur Islam harus dipahami sebagai arsitektur yang mengungkapkan pandangan hidup kaum Muslim. Dalam arti ini arsitektur Islam tidak terbatas pada arsitektur yang diciptakan untuk melayani fungsi keagamaan seperti masjid, makam dan madrasah tetapi juga yang dibangun untuk melayani fungsi-fungsi sekuler seperti istana,benteng, pasar, dan Karavanseray (Caravansery, sejenis hotel berhalaman luas, tempat menginap para khalifah). Dalam arti ini yang penting bahwa arsitektur Islam mengekspresikan  pandangan hidup orang Muslim, entah arsitektur itu dihasilkan oleh orang Muslim atau oleh non Muslim yang dipekerjakan oleh orang Muslim.
Menurut M. Abdul Jabbar Beg, bangunan masjid adalah Islam (Islami) bukan hanya karena bangunan itu terutama direncanakan oleh orang-orang muslim sebagai tempat menyembah Allah, tetapi juga karena kenyataan bahwa bangunan suci itu mengekspresikan pandangan hidup Islam. Asal usul kebangsaan atau agama si tukang atau seniman dengan sendirinya menjadi kurang penting dalam ruang lingkup seni Islam. Jadi karya seni lebih penting daripada seniman atau tukang.
Tidak diragukan lagi bahwa Islam mempunyai hubungan dengan arsitektur. Hubungan itu terwujud dalam kenyataan bahwa tenaga yang menggerakkan kreativitas seni arsitektur Islam adalah Islam. Arsitektur Islam tidak mungkin ada jika Islam tidak ada. Sebelum Islam tidak ada arsitektur yang disebut arsitektur Islam. Karena intisari Islam adalah tauhid, maka dapat dikatakan bahwa tenaga yang menggerakkan arsitektur Islam, paling tidak, sebagian adalah Tauhid. Pengaruh Tauhid Nampak misalnya pada Ikonoklasme atau anikonisme. Ini termanifestasi pada hiasan atau dekorasi dinding bangunan yang bersih dari gambar makhluk bernyawa. Konsekwensinya dekorasi yang digemari adalah Kaligrafi sebagai sarana untuk mengungkapkan ayat-ayat Al Qur’an, bentuk-bentuk geometris dan arabesk.

CIRI CIRI ARSITEKTUR ISLAM

Menurut Ernst J Grube,cirri-ciri arsitektur Islam tampak tipikal dan harus dijelaskan sebagai ekspresi suatu kebudayaan yang diciptakan oleh Islam, yang menunjukkan sikap fundamental yang berbeda dengan kreasi-kreasi arsitektural non-Islam.
Salah satu ciri monument-monumen arsitektural Islam adalah Fokus (pusat perhatian) terletak pada ruang tertutup, yakni pada bagian dalam, bukan pada bagian luar, depan, atau artikulasi eksterior bangunan. Contoh yang paling umum terlihat pada rumah-rumah kaum Muslim dengan focus pada halaman dalam (Courtyard), rumah itu menampakkan pada dunia luar dinding-dinding tinggi tanpa jendela yang disela hanya oleh satu pintu rendah saja.
Beberapa rumah  sering tergabung bersama dalam sebuah kompleks besar berdinding tembok, yang dapat dimasuki hanya melalui satu pintu (keluar masuk). Pintu ini menuju ke sebuah gang tersendiri di sebelah dalam, yang dilewati untuk mencapai tempat-tempat tinggal individual. Rumah-rumah itu, dan dalam beberapa kasus bahkan kompleks bangunan besar menandai penampilan khas kota-kota Muslim tradisional yang tetap bertahan sampai hari ini pada banyak contoh pusat-pusat kota kuno (qasabah [kota kecil], misalnya Heart di Afganistan; madinah [kota], misalnya Baghdad di Iraq, dan kota tua di seluruh dunia Islam, misalnya Allepo di Suriah.
Ketidak pedulian pada penampilan luar sebuah bangunan sering berkembang menjadi sikap ekstrem yang bahkan membuat sebuah bangunan monumental, seperti masjid jemaah jum’at  sepenuhnya tersembunyi karena secara keseluruhan dikelilingi bangunan-bangunan berdampingan yang tidak begitu penting, mislnya sebuah bazaar atau pasar. “Ketersembunyian” atau “Penyembunyian” monument-monumen utama itu bersamaan dengan ketiadaan total indikasi indikasi eksterior, ukuran, fungsi atau arti sebuah bangunan.
Sekalipun sebuah bangunan memiliki bagian depan yang dapat dilihat atau portal, cirri-ciri ini benar-benar tidak banyak bercerita tentang bangunan yang terletak di belakangnya.Dengan kata lain, bagian depan suatu bangunan Islam jarang menunjukkan bentuk bagian dalamnya atau  tujuan penggunaanya. Suatu bangunan Islam dan ciri utamanya jarang dapat dikenal melalui penampilan bagian luarnya.
Contoh: Dapat dilihat pada sebuah kubah yang tampak di atas tumpukkan sebuah bangunan. Kubah itu terlihat dari kejauhan tetapi tenggelam dalam susunan kubah-kubah kecil yang membingungkan dan atap bangunan-bangunan yang ada di sekelilingnya ketika didekati. Kubah mungkin saja menunjukkan sebuah masjid, istana, atau makam; kubah mungkin menutup ruang shalat, kamar di ujung ruang resepsi, atau makam bujur sangkar, bulat atau octagonal. Kubah mungkin juga adalah ciri utama bangunan yang didisain disekitarnya. Sebaliknya kubah mungkin hanya unsure kecil dalam bangunan amat besar yang mengelilingi area  yang berkubah; kubah mungkin juga hanya salah satu dari antara kubah-kubah yang tersembunyi atau setengah tersembunyi oleh bangunan-bangunan lain seperti parapet (tembok-tembok rendah di tepi atap yang datar, di tepi jembatan dan sebagainya) atau kerangka-kerangka portal sebelah dalam.
Dengan tidak menegaskan jenis spesifik arsitektur atau bangunan khusus dengan fungsi tertentu, kubah nampak sebagai symbol umum yang menyatakan kekuasaan, kota kerajaan, dan titik pusat pertemuan. Oleh karena itu kubah dapat melayani tujuan-tujuan religious dan sekuler sekaligus. Penampilannya yang Nampak dari luar sebenarnya tidak membantu untuk dapat dipahami, ditafsirkan atau dikenal sebagai bangunan apapun.
Pada semua zaman di dunia Islam dapat ditemukan “arsitektur tersembunyi” yaitu arsitektur yang menjadi ada hanya ketika dimasuki, dilihat dan dialami dari dalam;bukan dilihat sebagai monmen atau symbol yang tampak pada semua sisi. Meskipun ada pengecualian-pengecualian, “arsitektur tersembunyi” dapat dipandang sebagai cirri utama dan dominan dalam arsitektur Islam yang sesungguhnya. Masjid Raya Umayyah di Damaskus adalah sebuah contoh tipikal, sedangkan Kubah Batu di Yerusalem adalah sebuah pengecualian tipikal.
Kubah batu yang berdiri sendirian merupakan bangunan unik dalam kebudayaan Islam. Bangunan ini didasarkan secara keseluruhan pada model-model pra Islam, yang hamper pasti diambil alih secara sadar. Dalam arti ini Kubah batu bukan bangunan Islam sama sekali. Yang membuat monument itu merupakan bangunan Islam bukan bentuknya, tetapi tujuannya yang diungkapkan bukan dalam bahasa artistic yang dimilikinya melainkan dengan cara non arsitektural, yakni tulisan-tulisan Arab.
Ernst J Grube menarik kesimpulan;
1.    Sangat sedikit tipe bangunan di dunia Islam  yang mengartikulasikan ruang interior melalui eksteriornya
2.    Bangunan-bangunan itu sama sekali fungsional, misalnya jembatan-jembatan dan menara-menara pengawas, atau pengecualian atas kebiasaan yang ada, yaitu tidak fungsional atau tidak berfungsi kecuali hanya sebagai pajangan arsitektural. Dalam hal menara, makam atau mouseloum ditemukan monument-monumen pengecualian yang pada dasarnya perlu tampak dan berdiri bebas.
3.    Ciri lain dari “arsitektur tersembunyi” adalah ketiadaan bentuk arsitektural yang spesifik untuk suatu fungsi yang spesifik. Sedikit sekali bentuk arsitektur Islam yang tidak dapat disesuaikan dengan berbagai tujuan. Sebaliknya sebuah bangunan Islam yang melayani satu fungsi spesifik dapat menerima berbagai bentuk.
Contoh yang sangat bagus dari fenomena ini adalah bangunan berhalaman dalam  dengan empat iwan (ruang beratap atau berkubah yang terbuka pada salah satu pinggirnya) di Asia tengah dan Iran, yang juga ditemukan di bagian-bagian lain di dunia Islam. Bangunan-bangunan itu berfungsi dengan baik sebagai istana, masjid, madrasah, karavansai, pemandian maupun tempat tinggal pribadi. Pada masa yang berbeda dan tempat yang berbeda sebenarnya bangunan-bangunan itu dibangun untuk melayani semua fungsi ini. Dengan kata lain bentuk sebuah bangunan Islam tidak secara otomatis menunjukkan fungsi yang dilayaninya. Sebuah bangunan Islam tidak perlu didisain untuk melayani suatu tujuan tertentu, tetapi dalam hampir semua keadaan bangunan itu adalah sebuah pola abstrak dan sempurna yang dapat digunakan untuk berbagai fungsi tanpa kesulitan.
Pada umumnya arsitektur Islam cenderung menyembunyikan bagian-bagiannya yang menarik atau cirri-ciri utamanya dibalik eksteriornya. Arsitektur Islam tidak perlu mengubah bentuk suatu bangunan untuk melayani berbagai fungsi, tetapi lebih cukup menyesuaikan fungsi-fungsi itu dengan bentuk yang telah ada sejak awal, yang pada dasarnya adalah ruang-ruang bagian dalam yang dilingkupi bangunan itu.
Dengan pengecualian makam, maoselum dan bangunan-bangunan berkubah lain yang srupa, bangunan-bangnan Islam jarang memperlihatkan cirri arah dan porosnya. Sebaliknya arah fisik sebenarnya dari sebuah bangunan sering berbeda dengan arah fungsionalnya. Dengan kata lain bentuk fisiknya sering tidak menunjukkan fungsi-fungsi yang dilayaninya. Tamu yang memasuki sebuah masjid khususnya halaman sebuah masjid yang dikelilingi oleh tembok-temboknya, pada umumnya akan lebih tertarik melihat sekeliling tepi ruang shalat di ujung halaman sebelah dalam yang luas itu. Ciri sering ditemukan pada sudut siku-siku untuk menunjukkan arah metafisika seperti yang diwakili oleh kiblat dan pada gilirannya oleh mihrab. Ketiadaan petunjuk ini dalam banyak kasus membuat sang tamu tidak mengetahui dengan yakin arah atau posisinya; sesuatu yang tidak akan pernah dipermasalahkan didalam sebuah kuil klasik.
Ketiadaan indikasi suatu arah atau focus dalam disain arsitektur Islam terlihat pada semua massa dan semua bagian dunia Islam. Hal ini juga tampak dengan jelas pada ketiadaan keseimbangan antar bagian dalam sebuah kompleks bangunan. Arsitektur Eropa umumnya didisain sebagai sebuah rancangan seimbang yang sempurna, sedangkan arsitektur Islam biasanya tidak memperlihatkan struktur dasar seperti itu. Sebagai akibatnya tambahan-tambahan pada sebuah rancangan asli tdak dihalangi oleh prinsip inheren yang menguasai keseluruhan dan menentukan semua bagian dengan suatu cara yang sama.
Dapat dikatakan bahwa arsitektur Islam jarang didisain sebagai sebuah unit seimbang yang tunggal. Setiap disain yang asalnya dirancang seperti itu akan segera lenyap menjadi bagian sebuah kompleks yang lebih besar. Salah satu karakteristik arsitektur Islam yang tidak dimiliki arsitektur kebudayaan lain adalah kemungkinan memperbesar sebuah struktur tertentu dalam setiap aspeknya dengan menambahkan unit-unit baru yang bentuk dan ukurannya sama sekali mengabaikan bentuk struktur asli.  Manifestasinya yang paling mengesankan terdapat pada istana-istana di dunia Islam, misalnya istana Topkapi di Istambul atau istana Fatehpur Sikri di India, tempat pertimbangan-pertimbangan financial, hokum atau material tidak akan pernah menjadi sebab ketidakberaturan perencanaannya.
Ciri penting lain arsitektur Islam menurut Ernst J Grube adalah ruang tertutup yang dibatasi oleh tembok-tembok, arcade (gang gang beratap yang disangga pilar-pilar) dan atap-atap yang melengkung. Ini menjadi penting bukan karena sedikitnya pada penampilan luar atau penampakkan bangunan, tetapi khususnya oleh kenyataan bahwa sebagian besar dekorasi dibuat untuk mengartikulasikan dan menghias interior kecuali kubah dan portal jalan masuk.

SECARA garis besar arsitektur Islam dapat dibagi dalam dua jenis;
1.    Arsitektur keagamaan
Diciptakan untuk melayani fungsi keagamaan, seperti masjid, madrasah dan makam.
2.     Arsitektur Sekuler
Diciptakan untuk fungsi sekuler, seperti istana, benteng, pasar dan karavenserai.

Ini tidak berarti bahwa bangunan-bangunan  keagamaan seperti masjid tidak dipakai untuk kegiatan social politik dan cultural. Dan tidak pula berarti bahwa bangunan sekuler seperti istana tidak digunakan untk kegiatan-kegiatan kegamaan, ibadah ritual. Dalam kenyataan bangunan-bangunan keagamaan dan sekuler seriung melayani fungsi-fungsi keagamaan dan sekuler sekaligus. Pada umumnya kedua jenis bangunan ini terletak dalam satu area atau satu kompleks. Secara normative Islam tidak memisahkan kehidupan kegamaan dan kehidupan sekuler.

MASJID
Tempat beribadah atau bangunan tempat orang-orang Muslim melakukan salat disebut masjid. Berasal dari bahasa Arab, masjid, yang secara harfiah berarti tempat sujud. Masjid berfungsi bukan hanya sebagai pusat kehidupan keagamaan di seluruh dunia Islam, tetapi juga terutama pada masa-masa awal sejarah Islam, sebagai pusat kegiatan-kegiatan politik, social dan cultural. Masjid dapat dipandang sebagai sebuah symbol Islam. Masjid adalah wakil paling menonjol dalam arsitektur Islam. Oleh karena itu masjid adalah arsitektur Islam par excellence (tiada bandingan, yang terbaik diantara yang sejenis)
Arsitektur Islam bermula dari masjid. Masjid pertama adalah masjid Nabi, didirikan oleh Nabi pada 622 H setibanya di Madinah dalam peristiwa Hijrah. Masjid itu adalah bagian yang menyatu dengan rumah Nabi saw sehingga sering pula dikatakan bahwa masjid itu adalh rumahnya. Rumah Nabi adalah sebuah ruang sederhana berpagar empat persegi panjang yang mencakup kamar-kamar untuk Nabi saw dan istri-istrinya, serta sebidang area yang menaungi di sebelah selatan halaman, yang dapat digunakan untuk salat dengan menghadap ke arah kiblat di Mekkah. Dindingnya terbuat dari lumpur yang dikeringkan, tiang-tiang dari pohon kurma menopang atap datar dari daun kurma untuk melindungi ummat dari matahari ketika mereka berkumpul disana. Di ujung utara sebidang area  beratap yang lebih kecil berfungsi sebagai temat bernaung bagi orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Ruang-ruang tempat tinggal Nabi dan istri-istrinya terdiri dari empat kamar dengan bagian-bagiannya, dan lima gubuk yang berhubungan dengan halaman melalui dinding Timur. Dinding-dinding bagian Timur, Utara dan Barat halaman masing-masing mempunyai sebuah pintu gerbang.
Nabi kadang berkhutbah dengan berdiri di halaman yang ternaungi dan bersandar pada sebuah batang kurma. Namun sejak tahun 7 H/629M, ketika berkhutbah ia menggunakan sebuah tempat duduk yang tinggi dengan tiga anak tangga. Setelah wafat bagian yang menarik ini, yang dikenal sebagai mimbar, semula dipandang sebagai keuntungan atau hadiah yang dapat disamakan dengan tahta yang diterima oleh pemimpi umat. Tetapi kemudian mimbar ini diguakan secara umum di masjid-masjid. Mimbar telah menjadi tempat menyampaikan khutbah, suatu pidato dalam rangkaian salat Jum’at yang menyebut nama penguasa yang diakui oleh ummat. Maka penggunaan mimbar melambangkan hubungan dekat agama dan politik dalam Islam.
Masjid nabi pada waktu itu adalah sebuah bangunan sederhana yang belum mempunyai cirri khusus arsitektural seperti manara (manarah), mihrab (mihrab), kubah (qubbah) atau maqsurah (area yang dipagar dekat mihrab dalam masjid pada zaman dulu yang digunakan untuk melindungi khalifah atau orang penting dari pembunuhan.
Arsitektur Islam tumbuh dan berkembang dari bangunan sederhana ini. Banguan ini menjadi model bagi masjid-masjid di kemudian hari dengan tata ruang halaman dasar yang sama dengan area salat ke arah dinding kiblat.
Masjid adalah ekspresi keagamaan Islam yang bertolak dari iman kepada Allah SWT. Iman kepada Allah menuntut penyerahan diri,ketundukan, kepatuhan (Islam) seseorang kepada-Nya. Penyerahan diri itu termanifestasi dalam ibadah-ibadah salat, puasa, zakat dan haji dengan syahadat sebagai pusat atau porosnya. Salat adalah rukun yang terkait langsung denga masjid. Karena dalam salat seseorang harus menghadap kea rah Kabah, maka masjid pada umumnya di bangun menghadap ke arah yang sama.
Masjid dapat dipahami sebagai sebuah bangunan yang didirikan disekitar sebuahporos yang merupakan factor penentu utama disainnya. (Roda Raksasa) dimana Ka’bah sebagai Axis Mundi (poros dunia). Sebagai pusat dunia Ka’bah adalah symbol primordial titik persilangan antara poris vertical spirit dan vidang horizontal eksistensi fenomenal.
Masjid tidak menyerupai candi Yunani atau gereja Kristen, karena masjid tidak dipakai untuk penyimpanan badan orang suci yang sudah mati atau perhiasan untuk melaksanakan upacara ibadah. Berbeda dengan candi Yunani atau gereja Kristen yang berbentuk memanjang, masjid melebar ke kanan dan ke kiri untuk memungkinkan semua pengunjung berada pada posisi yang lebih dekat untuk menghadap kiblat.
Dalam kapasitasnya sebagai rumah ibadah masjid mempunyai sekumpulan unsure dan perlengkapan arsitektura standar dengan variasi-variasi kecil yang tergantung pada ketentuan, misalnya bangunan itu adalah tempat suci di desa kecil yang dipakai terutama untuk salat individual, atau sebuah masjid jamaah, atau masjid utama untuk shalat Jumat.
Unsur-unsur standar: Mihrab, Mimbar, Kubah, Menara, Pancuran, Dikkah. Perlengkapan lain, kursi dan beduk.

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s