Cendekiawan Muslim dalam pandangan Ali Syariati

imagesAli Syariati yang dikenal banyak orang lewat pemikirannya terutama aksinya, memandang sedikit berbeda mengenai pengertian cendekiawan Muslim itu, bagi banyak orang sering menyamakan antara seoarang Cendekiawan dengan seorang Intelektual padahal keduanya merupakan hal yang berbeda.

Di zaman modern ini, kaum intelektual menjadi sebuah strata yang relatif heterogen dalam posisi dan tradisi sosialnya, hal demikian merupakan akibat dari polarisasi makna intelektual serta perannya dalam masyarakat. Apakah intelektual sebagai kreator, distributor, atau sebagai motivator serta peran apa yang akan dijalankan di tengah masyarakatnya, apakah ia sebagai penggagas, penentang, atau pelaksana dari sebuah gagasan, atau paling tidak ia adalah pembawa gagasan atau sebuah persoalan[1]

Ali Syariati memandang bahwa seorang cendekiawan Muslim merupakan seorang intelektual yang memiliki ideologi, tanpa ideologi cendekiawan kehilangan identitasnya sebagai seorang cendekiawan di tengah umat Muslim.

Namun pada suatu definisi lain tentang ideologi yang lebih tajam dan penting daripada pengertian sebelumnya. Pengertian lain tentang ideologi adalah bahwa ia sering merupakan karakteristik suatu kelas khusus dalam masyarakat yang disebut Rhousanfikr[2].

            Tetapi istilah Roushanfikr digunakan untuk menunjuk mereka semua yang bekerja dengan otaknya: intelektual, mahasiswa, guru, sarjana dan professor. Ini adalah pengertian umum dari istilah itu, tetapi dalam pengertian khusus Roushanfikr seorang yang teguh berpegang pada ideologi yang telah dipilih secara sadar. Ideologi dan kesadaran kelas itulah yang menolongnya mencapai kesadaran istimewa tentang kehidupan dan jalan bertindak jelas, jalan hidup, dan jalan berpikir, dengan cita-cita jelas yang membentuk filsafat hidupnya. Hal-hal ini membentuk kesadarannya, ia bersedia berkorban segala-galanya untuk membela kesadaran itu. Dengan mengabdikan dirinya untuk cita-cita ideologisnya ia akan menjadi pecinta mujahid dan pejuang. Ia akan menjadi pengejawantahan kesadarannya dan keyakinannya yang telah mendorong gerakan-gerakan progresif dalam sejarah dan menyadarkan massa kemanusiaan terhadap fakta-fakta kehidupan mereka dalam masyarakat.[3]

Lebih lanjut Syari’ati mengatakan, baik ilmu maupun filsafat tidak pernah melahirkan revolusi dalam sejarah walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu. Adalah ideologi-ideologi, tegas Syari’ati, yang senantiasa memberikan inspirasi, mengarahkan dan mengoganisir pemberontakan-pemberontakan menakjubkan yang membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia. Hal ini karena ideologi pada hakekatnya mencakup keyakinan, tanggungjawab, keterlibatan dan komitmen. Ideologi, lanjut Syari’ati, menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat, sementara ilmu dan filsafat tidak, arena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan, tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi, pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi[4]

Ali Syariati dengan jiwa revolusionernya menentang para ilmuwan gadungan, elit (penguasa), dan para pemimpin-pemimpin agama yang menyelewengkan ajaran Islam, meracuni jiwa rakyat dengan fatwa dan rakyat dibuat terus sibuk dengan sesuatu yang dinamakan agama, abstraksi-abstraksi tertentu yang tak berguna seperti cinta, harapan, kebencian, ketidaksenangan, dan dengan tangisan-tangisan dan kejadian-kejadian yang hanya sedikit mereka ketahui. Rakyat dibiasakan pada kehidupan gila-gilaan dengan gagasan tentang hari akhirat, sementara keadaan masa kini mereka dan musuh-musuh mereka terlupakan.[5] Dengan kata lain, mereka selalu menawarkan gagasan kehidupan akhirat sedangkan kehidupan dunia terlupakan. Kehidupan dunia dianggap hanya sebuah permainan tuhan semata dan melihat permasalahan dunia sebagai takdir tuhan yang tak bisa diubah.

Pemikiran dunia Barat yang telah merasakan konsekuensi tragis dalam kehidupan modern dan krisis yang telah ditimbulkannya. Pada waktu ini para Cendekiawan kita menyadari keseriusan masalah ini. Perhatian penuh terhadap “apakah manusia itu?” menunjukkan bahwa manusia adalah masalah sentral pada zaman kita sekarang.

Ali Syariati memandang kesadaran diri merupakan hal yang penting, Ali Syariati membedakan dirinya dengan Descartes yang mendasarkan prinsip kesadaran pada pemikiran,[6] maupun Gide yang mendasarkannya pada perasaan. Ali Syariati cenderung sependapat dengan Camus, yang mendasarkan kesadaran pada tindakan yang lebih sadar: “Saya memberontak, karena itu saya ada”.[7] Memberontak menurut Ali Syariati memperlihatkan proses “menjadi” secara sangat dramatis. Selama manusia hidup tanpa salah di alam surgawi, ia justru tidak manusiawi. Hanya dengan memberontak, ia menjadi manusia. Ketika ia mengetahui bahwa ia ditakdirkan tanpa salah dan tidak produktif di dalam surga, ia memberontak dengan memakan buahnya pengetahuan, buahnya pemberontakan dan kesadaran. Demikianlah ia diusir dari surga-surga yang penuh kesenangan, kemudahan, konsumsi, dan kepuasan. Di bumi ini, ia merasakan tanggung jawab atas dirinya dan kehidupannya.[8]

Keberadaan manusia di bumi, menjadikannya sadar bahwa ia berbeda dari seluruh binatang karena ia dikaruniai kebebasan untuk memilih. Maka pencapaiannya pada tahap kesadaran diri itulah yang memungkinkannya untuk memilih bagi dirinya. Kesadaran diri menjadikannya seorang pemberontak terhadap suasana terbelenggu di surga bagaikan seekor hewan tanpa salah, seperti halnya hewan-hewan lainnya. Pemberontakannya tidak saja dalam melawan kehidupan mirip hewan yang menghambat hidupnya, melainkan juga dalam melawan kemauan tertinggi yang telah menentukan ketaatan dan pemujaan darinya. Setelah membebaskan dirinya dari ketaatan dan pemujaan buta, manusia lantas bertekad mencapai kemerdekaan dan keluhuran spiritual lewat pilihannya sendiri tentang ketaatan dan penyembahan. Di surga manusia membangkang karena ia memilih bagi dirinya atas dasar kemauan bebasnya, bukan atas dasar insting hewaniahnya.[9]

Dari sini, terlihat bahwa konsep Camus mengenai pemberontakan melawan alam, masyarakat, dan kebiasaan-kebiasaan, sesungguhnya sesuai dengan asumsi-asumsi Syariati di atas. Alasan mengapa manusia memberontak, adalah keinginannya untuk memilih bagi dirinya. Ia memberontak untuk menyatakan dirinya. Sedangkan Descartes memandang bahwa manusia menyatakan eksistensi “saya ada” dengan mengatakan bahwa ia berpikir, maupun Gide dengan mengatakan ia merasa, tidak satu pun dalam kedua pernyataan tersebut, bagi Syariati, manusia sudah terwakili dalam tahap apa yang dimaksud sebagai insan. Dengan demikian, manusia adalah satu-satunya makhluk di alam yang telah meraih kesadaran. Kesadaran tersebut menurut Ali Syariati, adalah pengalamannya tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia, serta hubungan antara dirinya dengan dunia dan alam. Makin mendalam kesadarannya terhadap ketiga unsur ini, makin cepat manusia bergerak kearah tahap-tahap yang lebih tinggi dalam proses kemajuannya.[10] Kesadaran diri dengan demikian, adalah sifat penting manusia yang memungkinkannya pergi melampaui insting hewaniahnya. Maka dari itu pendidikan diperlukan untuk menggiring manusia melampaui insting hewaniahnya.

Sebagaimana halnya ujung ekstrem pandangan hidup materialistis melahirkan  pemburu-pemburu kenikmatan semacam Umar Khayyam, maka ujung ekstrem pandangan  hidup religius membuahkan serba keakhiratan dan pengkerdilan manusia. Sementara pandangan dunia materialistis didasarkan semata-mata pada ilmu, pandangan hidup religius yang ekstrem didasarkan atas sisa-sisa takhayul masa lampau, tanpa terpengaruh oleh dampak ilmu modern.

Pandangan hidup religius ekstrem itu pada hakikatnya otoriter, dekaden, melakukan dehumanisasi, dan sangat tegar mengingkari esensi dan kepribadian manusia. Akan tetapi pandangan hidup religius yang humanistik yang mensublimasikan unsur manusia adalah progresif, selalu mencari kesempurnaan dan sangat manusiawi. Pandangan keagamaan ini dicerminkan oleh kaum intelektual pasca Renaissance sebagai reaksi terhadap system kepercayaan dan praktek yang serba kaku yang dipeluk oleh Gereja Zaman Pertengahan

Pemahaman dialektis yang menyandingkan dua kecenderungan dan arus yang tampak berlawanan, baik dalam diri Ali Syariati maupun dalam analisisnya tentang manusia dan Islam, sebagaimana dicatat Rahnema, tampak sangat dipengaruhi oleh Iqbal. Kuliah Ali Syariati mengenai “Iqbal pembaharu abad ini” merupakan sebuah tanda perubahan penting dalam perkembangan pemikirannya. Melalui Iqbal, ia menyadari bahwa Islam bukanlah sebuah agama “satu dimensi”, bukan hanya politik ataupun Gnostic semata, melainkan sintesis dari keduanya. Islam memperhatikan urusan keduanya, baik di hari kemudian, maupun di dunia ini. “Kebudayaan Islam”, tegas Ali Syariati, bukan hanya spiritual, etis, dan metafisik, melainkan juga sosial, politik, etis dan membangkitkan pertanggungjawaban. [11]

Perkembangan masyarakat modern merupakan revolusi kebudayaan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Modernitas adalah pemacu prestasi manusia dalam memahami dunianya secara rasional setelah kebekuan pemikiran abad Pertengahan. Hal ini, sebagaimana dikatakan Suseno, karena proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alam semesta, tradisi, dan agama. Manusia dalam subjektivitasnya, dengan kesadarannya dan keunikannya, telah menjadi titik acuan pengertian terhadap realitas.[12] Manusia memandang alam, sesama manusia, dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Supremasi keyakinan teologis telah melebur dalam relasi-relasi kehidupan. Kekuasaan Tuhan atas alam semesta telah diambil oleh subjektivitas manusia sebagai penakluk alam semesta. Manusia menjadi lebih bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Manusia berkembang sebagai makhluk pekerja (homo faber) yang bebas untuk menata kehidupannya di dunia. Modernitas sebagai periode sejarah yang khas dan superior telah membuat orang percaya bahwa zaman modern lebih baik, lebih maju, dan memiliki referensi kebenaran yang lebih banyak dari zaman sebelumnya. Modernitas menciptakan sikap optimisme dan berbagai kualitas positif tentang masa depan. Kemajuan kemudian menjadi tujuan utama sejarah kehidupan manusia.[13] Melalui logika kemajuan itu pula, kita dapat memahami ide-ide dasar tentang ideologi liberalisme Barat.

Peradaban modern adalah pincang karena tekanannya yang berlebihan kepada kekinian dan kedisinian, dan kurang sekali memperhatikan hal-hal yang bersifat lebih mendalam dan langgeng. Karena itu wajar bila kehidupan modern sekarang ini tampil dengan wajah yang antagonistik. Satu sisi, modernisasi telah mendatangkan kemajuan spektakuler dalam bidang material. Tetapi pada sisi lainnya, modernisasi menghasilkan wajah kemanusiaan yang buram, seperti terlihat pada akibat-akibat kemanusiaan yang ditimbulkannya.[14]

Dalam mencari pemecahan atas masalah-masalah sosial, kita harus mencari cara-cara yang jitu walaupun lama dan menelan waktu. Barangkali itulah sebabnya mengapa banyak diantara cendikiawan dalam masyarakat ini gagal mencapai tujuan yang dicita-citakan. Mereka bukannya mencoba melewati satu cara yang jitu yang mungkin memang lama, tetapi mereka tersesat dalam mencoba mempertimbangkan dan menemukan beberapa cara dihadapan mereka. Tidak aneh jika mereka selalu mengeluh tentang jauhnya mereka dari tujuan. Karena merasa frustasi, mereka menjadi kecewa dan menarik diri dari masyarakat. Sebagian dari mereka mulai menulis puisi modern, tetapi sia-sia! Mereka suka menyatakan bahwa mereka benar-benar telah terjun ke dalam masyarakat, berpadu dengan banyak orang, berteriak dan menjerit, namun mereka tidak sampai kemana-mana. Dan oleh sebab itu mereka beralih ke puisi! Namun ini adalah kekalahan dan penyerahan mereka kepada keputusasaan. Padahal kita tidak punya hak untuk kecewa dan apatis.[15]

Ali Syariati memaknai cendekiawan lebih luas dibanding pemikir lainnya, disini kita dapat melihat bahwa kritik keras Ali Syariati terhadap cendekiawan yang terasingkan dari umat Muslim justru yang banyak kita dapatkan di Zaman Modern ini sehingga ketertinggalan umat Muslim atas Barat semakin jauh, mengembalikkan ideologi Islam yang telah lama hilang adalah jalan keluarnya, merupakan tugas seorang cendekiawan Muslim mengembalikkan umat Islam kepada masa kejayaannya. Pemikiran Ali Syariati selalu memiliki cirri khas yang mengantarkan manusia kepada aksi-aksi yang dapat direalisasikan dalam masyarakat, sehingga para cendekiawan tidak hanya sebagai intelektual belaka.

            Rhousanfikr pada dasarnya memiliki arti yang lebih luas dari seorang cendekiawan atau seorang intelektual, karena seorang Rhousanfikr merupakan karakteristik suatu kelas khusus dalam masyarakat, disini Ali Syariati memandang bahwa tidak hanya seorang cendekiawan atau intelektual saja yang dapat mengantarkan umat Islam kepada kemajuan akan tetapi seseorang dari profesi lainnya entah seorang guru, pedagang, mahasiswa yang memiliki ideologi yang ia pertahankan dan jadikan pedoman hidup yang dapat memberikan nyawa pada setiap perjuangannya.

Cendekiawan Muslim karena merupakan bagian dari Rhousanfikr maka begitu penting bagi seorang cendekiawan untuk memiliki ideologi yang mereka perjuangkan dan jadikan pedoman hidup, menurut Ali Syariati tanpa ideologi cendekiawan kehilangan fungsinya dan terasingkan di tengah-tengah umat Islam.


[1] Muhammad ‘Abid Al-Jabiri, 2003, Tragedi Intelektual “Perselingkuhan Politik dan Agama”, Pustaka Alief, Yogyakarta, hal.44

[2] Rhousanfikr adalah bahasa Persia yang artinya “Pemikir yang tercerahkan.” Dalam terjemahan Inggris terkadang disebut intelectual atau free thinkers. Rhousanfikr berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang Rhousanfikr menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaiman adanya, Rhousanfikr memberikan penilaian seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, Rhousanfikr seperti para Nabi berbicara dengan bahasa kaumnya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, Rhousanfikr harus melibatkan diri pada ideologi. Lihat Jalaluddin Rahmat, “Ali Syaria’ti ; panggilan untuk Ulil Albab” Pengantar dalam, Ali Shari’ati. Ideologi Kaum Intelektual, Suatu Wawasan Islam, Syafiq Bashri dan Haidar Baqir (penrj), Mizan, Bandung, 1994, hal 14 – 15. intelektual dan sosial kepada massa/ rakyat. Rhousanfikr dicontohi oleh pendiri agama-agama besar (para Nabi), yaitu pemimpin yang mendorong terwujudnya pembenahan-pembenahan stuktural yang mendasar di masa lampau. Mereka sering muncul dari kalangan rakyat jelata yang mempunyai kecakapan berkomunikasi dengan rakyat untuk menciptakan semboyan-semboyan baru, memproyeksikan pandangan baru, memulai gerakan baru, dan melahirkan energi baru ke dalam jantung kesadaran masyarakat. Gerakan mereka adalah gerakan revolusioner mendobrak, tetapi konstruktif. Dari masyarakat beku menjadi progresif, dan memiliki pandangan untuk menentukan nasibnya sendiri. Seperti halnya para nabi, Rhousanfikr tidak termasuk golongan ilmuwan dan bukan bagian dari rakyat jelata yang tidak berkesadaran dan mandek. Mereka individu yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab untuk menghasilkan lompatan besar.

[3] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.183-184

[4] Ali Syari’ati, 1994, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam , Mizan, Bandung, hal. 81

[5] Ali Syariati, 1993, Membangun Masa Depan Islam “pesan untuk para Intelektual Muslim”, Terj. Rahmani Astuti, Mizan, Bandung, hal.67

[6] Bertrand Russel, 1965, History of Western Philosophy, George Allen & Unwin Ltd, London, hal.548

[7] Albert Camus, 2000, terj. Max Arifin, Pemberontak, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, hal.21-23

[8] Ali Syariati, 1998, Humanity and Islam dalam Liberal Islam: A Sourcebook ed. Kurzman, Charles, Oxford University Press, Oxford, hal.189

[9] Ali Syariati, 1998, Humanity and Islam dalam Liberal Islam: A Sourcebook ed. Kurzman, Charles, Oxford University Press, Oxford, hal.189

[10] Ali Syariati, 1998, Humanity and Islam dalam Liberal Islam: A Sourcebook ed. Kurzman, Charles, Oxford University Press, Oxford, hal.190

[11] Ali Rahnema, 2002, Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, Erlangga, Jakarta, hal. 381

[12] Franz Magnis Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta, hal.60

[13] Fachrizal A. Halim, 2002, Beragama dalam Belenggu Kapitaslime, Indonesia Tera, Magelang, hal.19-20

[14] Zulfan Taufik, 2012, Ilusi & Harapan: Pembacaan Humanisme Ali Shari’ati, Impressa, Jakarta, hal.181

[15] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.204-205

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s