Al-Ghazali dan Ibn Rusyd

Pada saat al ghazali mengarang ihya ulumuddin sebenarnya yang perlu kita perhatikan ialah pergeseran paradigma, karena menurutnya perkembangan ilmu pengetahuan di tangan para filosof telah mati, maka dari itu di ihya ulumuddin dia memberikan pernyataan dan membagi ilmu menjadi 2 bagian yaitu yang fardhuain dan fardhu kifayah, ilmu yang fardhuain ialah ilmu agama maka dari itu paradigma bergeser orang-orang lebih cenderung pada ilmu agama dibanding pada ilmu diluar agama/sekuler. Pada saat inilah dianggap menjadi kemenangan para fuqaha atas para filosof, para fuqaha yang sering menafsirkan ayat secara literal dan para filosof yang sering menafsirkan ayat dengan penuh dengan kerasionalannya, maka dari itu disaat ismailiyah mendirikan al azhar di mesir yang penuh dengan rasional karena ismailiyah adalah syiah dan syiah identik dengan pemikiran mu’tazilah walaupun tidak bisa kita samakan pemikiran syiah dengan pemikiran mu’tazilah ju. Bani abbas ga mendirikan suatu akademi seperti yang didirikan oleh ismailiyah serupa al azhar yaitu nizamiyah dan al ghazali pun pernah mengajar disini. Nizamiyah berbeda dengan al azhar pada zaman itu yang identik dengan rasionalitasnya. Nizamiyah cenderung lebih literal dan lebih kepada ilmu agama dan teologi sebagaimana pemikiran dari al ghazali.

Masuk ke zaman ibn rusyd di kordoba yang merupakan seorang komentator dari para filosof yunani karena ibn rusyd banyak mengomentari karya-karya filsafat yunani. Ibn rusyd adalah seorang qadhi,fuqaha dan sekaligus sebagai seorang filosof, hal ini seperti ini adalah hal yang sangat unik. Karena ibn rusyd adalah seorang sunni yang taat dan ibn rusyd membuktikan bahwa ahlusunnah adalah aliran yang rasional tidak hanya dalam pemikiran syiah. Menarik untuk kita bahas ialah bahwa ibn rusyd seorang fuqaha yang terkenal literal dan ia juga seorang filosof yang dianggap memiliki paripatetik murni yang sebelumnya berlawanan anatar fuqaha dan para filosof.

Karya ibn rusyd juga yang paling terkenal adalah tahafut at tahafut yang menjawab dari karya al ghazali tahafut al falasifah di karyanya itu ibn rusyd membela pemikiran para filosof dari para mutakallimun. Dan ibn rusyd adalah seorang aristotelianisme yang murni maka dari itu ia disebut paripatetik murni, dan ibn rusyd berusaha mengembalikan filsafat kembali memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat, akan tetapi di zaman itu para faqih terkenal dengan kedekatannya dengan raja dan raja pada zaman itu ingin menarik masyarakat karena di zaman itu adalah zaman perang salib, maka dari itu ibn rusyd di penjara dan diasingkan dan pada saat perang salib buku-buku ibn rusyd di Seville di kordoba dibakar habis justru murid-murid ibn rusyd adalah orang yahudi dan nasrani. Jika di dalam islam ilmu filsafat ditolak dan ilmu agama diterima dan dibarat justru ilmu sains dan ilmu agama ditolak karena berhubungan dengan gereja yang otoriter dalam imu pengetahuan. Jadi rusydian yang dibawa ke barat adalah ibn rusyd yang sangat sains dan anti agama karena para murid-muridnya yang membawanya ke barat dan lebih di apresiasi di barat dari pada di islam, di islam ilmu yang bersifat holistic menjadi ilmu yang sangat religious.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s