Ibu dan Peradaban

 Dalam memperingati hari ibu saya ingin sedikit menulis di dalam tulisan saya ini mengenai sosok wanita yang mampu membentuk peradaban suatu bangsa di setiap zamannya

Membahas mengenai wanita tidak akan terlepas dari pembahasan modern ini yaitu perihal gender, mungkin benar bahwa di zaman dahulu kala bahwa wanita dipandang sebelah mati dan kondisi sosial masyarakat  patriarki, bahkan jika kita kembali ke zaman yunani klasik 6 abad SM kita akan menemui para filosof yang dipandang sebagai orang yang paling pintar dan bijaksana di zamannya juga menganggap wanita itu bukan wanita seutuhnya, jadi ada diskrimanasi gender pada wanita dari zaman dahulu hingga kini, bahkan dizaman nabi zakaria as dianggap sebagai kehinaan memiliki anak perempuan.

Pada dasarnya yang membedakan antara manusia dan hewan adalah “akal”, akal disini sebagai “fashl” “pembeda” yang membedakan manusia dan selainnya, sedangkan di dalam diri setiap manusia entah ia wanita atau laki-laki mereka tetap disebut sebagai manusia karena memiliki akal yang sama dan tidak ada perbedaan dalam hal ini, maka dari itu sebenarnya tidak ada perbedaan seharusnya dan tidak ada diskriminasi gender kepada para wanita ini, permasalahan mengapa laki-laki lebih dominan daripada wanita karena sedikitnya kesempatan dan informasi untuk wanita, akan tetapi dizaman modern sekarang ini kita dapat melihat peran wanita di masyarakat kini, karena informasi dan kesempatan terbuka bagi siapapun.

Lalu apa peran wanita dalam membangun peradaban ? kita mengetahui bahwa perkembangan anak lebih banyak dihabiskan bersama ibunya, sebelum ia masuk sekolah bersama gurunya ibu lah yang menjadi guru pertamanya, ibu adalah madrasah pertama bagi anak, di dalam psikologi anak balita memiliki otak yang belum sempurna , pikirannya seperti kamera yang menangkap apa saja yang ia indera dari ibunya, disaat ibunya membaca bismillah sebelum makan dia akan mengikuti ibunya, disaat ibunya sholat dia akan mengikuti gerakannya, disaat ibunya member dengan tangan kanan ia akan member juga dengan tangan kanan, sifat-sifat mulia sang ibu akan membentuk sifat-sifatnya dengan proses internalisasi ini maka sang anak akan tumbuh dalam madrasah sang ibu, begitu pentingnya peran seorang ibu dalam membangun bangsa kita, akan tetapi sering sekali kita melupakan guru pertama kita disaat kita tumbuh dewasa seperti sekarang ini, kita lupa siapa yang menanamkan nilai-nilai agama dan moral di dalam diri kita sampai sekarang ini.

 

Semoga kita dapat memuliakan “ibu” kita sampai akhir hayatnya. Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s