Perzinahan dan Keturunan

PENDAHULUAN

Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai “meninggalkan zina untuk mengokohkan keturunan”  sebelum membahas apa itu zina maka wajib kita mengetahui apa definisi dari zina itu sendiri ? apakah zina hanya ada dalam istilah dalam agama tertentu ? atau setiap agama sesungguhnya memberikan aturan kepada pelaku zina ? atau apakah setiap agama melarang perzinahan atau ada yang membolehkan ? lalu apa dampak dan hukuman dari pelaku zina itu sendiri, dan yang terakhir apa korelasi antara zina dan mengokohkan keturunan ? yang yang paling krusial apa hubungannya zina dengan dampaknya bagi keturunan ? masalah-masalah itu yang sering muncul dalam benak kita jika kita membicarakan atau membahas mengenai mengenai perzinahan ini.

 

PEMBAHASAN

Definisi zina

Zina menurut kamus bahasa Indonesia adalah persetubuhan yang dilakukan oleh bukan suami isteri

Zina menurut kamus islam ialah hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan ; tindakan pelacuran atau melacur

Zina menurut alkitab hubungan seksual yang tidak diakui oleh masyarakat

Saya sengaja mengambil definisi-definisi diatas agar kita dapat melihat pandangan zina dari beberapa aspek tidak hanya dari aspek agama saja, pada dasarnya tanpa dalil agamapun di Indonesia zina dianggap sebagai perbuatan yang amoral dan tidak etis, karena zina mengakibatkan hal yang buruk bagi pelakunya dan mayarakat.

 

Zina dalam alquran

Pada dasarnya Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, yang membedakan antara yang haq dan yang batil. Di dalam alquran terdapat berbagai aturan hidup sebagaimana ala mini memiliki keteraturan, sehingga jika hilang keteraturan alam maka yang terjadi adalah kebinasaan, symbol “pohon larangan” yang ada di “surga” adalah symbol aturan-aturan hidup yang Allah berikan demi keteraturan hidup manusia menurut prof. quraish shihab.

Larangan melakukan zina adalah salah satu aturan dalam islam

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)

Bahkan di ayat yang lain dengan celaan dan hukuman yang berat baik di dunia maupun di akhirat

 

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (an-Nuur: 2-3)

الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (al-Furqaan: 68-69)

Di ayat yang terakhir bahkan allah meletakkan zina sebagai dosa besar setelah menyekutukan Allah swt dan membunuh tanpa alasan. Ini menandakan bahwa zina sangat lah dilarang di dalam agama Islam.

Zina dalam hadist

Jika kita melihat dalil zina di dalam hadist bukan hanya dalil yang melarang perbuatan zina, akan tetapi segala hal yang mengarahkan kepada perbuatan zina. Islam mengambil langkah preventif terhadap perbuatan zina, hal-hal yang menjerumuskan seseorang kedalam perzinahan juga dilarang dan dianjurkan di dalam islam

Dalam Sunan Abi Dawud, Dari Abdillah bin Buraidah, dari ayahnya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali Bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu:

يا علي، لا تتبع النظرة النظرةَ، فإن لك الأولى وليس لك الآخرة

Hai Ali, Janganlah engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya. sesungguhnya bagimu hanya boleh dalam pandangan yang pertama dan tidak yang selanjutnya.

Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita (yang bukan mahram) Seorang laki-laki bertanya: Bagaimana tentang kerabat suami?
Nabi menjawab: Kerabat suami (jika berduaan dengan wanita itu menyebabkan kehancuran seperti) kematian
 (HR. Bukhari dan Muslim)

maka dari itu segala sarana yang mengantarkan kepada tujuan zina dilarang dalam islam, sebagaimana ayat alquran memerintahkan untuk menjulurkan hijab kepada wanita adalah salah satu langkah preventif islam untuk mencegah perzinahan, di dalam tulisan syahid muthahahri wanita dan hijab beliau menulis bahwa menghormati wanita bukan hanya ada di zaman islam di zaman sebelum islam wanita kerajaan dan wanita terhormat lainnya tidak akan dilihat (menggunakan hijab) oleh orang lain kecuali sesama orang terhormat, sedangkan di dalam islam memandang semua wanita terhomat muslimah adalah terhormat dan diperintahkan menggunakan hijab dan hanya muhrimnya yang dapat melihatnya.

 

Zina dan Pernikahan

Pada dasarnya sudah sebuah keniscayaan laki-laki tertarik pada perempuan sebagai lawan jenisnya. Sebagaimana Allah swt menjadikan laki-laki sebagai manifestasi dari sifat jalaliyah nya dan wanita sebagai manifestasi jamaliyah tuhan, tujuan sebuah pernikahan adalah untuk saling menyempurnakan dan saling mengisi kekurangan antara laki-laki dan wanita. Banyak para pemikir muslim sekarang mengaitkan zina sebagai penyebab penyakit HIV/AIDS yang marak kita jumpai sekarang ini sebagai penyakit yang mematikan yang belum ditemukan obatnya, apakah hanya alasan itu Allah swt melarang zina, saya kira tidak. Karena pada dasarnya HIV/AIDS dalam hal seksual diakibatkan Karena berganti-ganti pasangan, sedangkan dalam pernikahan kita juga bisa berganti-ganti pasangan misalnya memiliki istri 4 dan cerai dan menikah lagi. Walaupun memang di dalam pernikahan di semudah di dalam pergaulan bebas (diluar nikah) sehingga kecil kemungkinan terjangkit penyakit ini. Akan tetapi menurut saya pernikahan adalah ikatan suci dimana sepasang manusia membentuk sebuah keluarga yang akan menghasilkan keturunan yang baik dari sebuah pernikahan yang baik pula dan saling menjaga satu sama lain. Sebagaimana Allah swt menciptakan laki-laki memiliki kecenderungan kepada jiwa kepemimpinan dan menciptakan seorang wanita yang memiliki kecenderungan yang memiliki sifat ketaatan. Di dalam psikologi juga dijelaskan bahwa wanita cenderung mengkuti lelaki yang memiliki jiwa pemimpin walau beberapa tokoh feminis menolak pendapat ini dan menanggap sebagai diskriminasi gender.

Korelasi meninggalkan zina dan mengokohkan keturunan

Salah satu dampak dari zina ialah tidak jelasnya nasab dari keturunannya, si anak akan sulit mengetahui siapa orang tua sebenarnya, dan ini tentu akan menjadi masalah karena dalam islam berbakti pada orang tua adalah persoalan penting, yang kedua, sang anak tidak akan tumbuh dengan baik jika tidak tumbuh dalam ikatan keluarga, ikatan keluarga yang memberikan kasih sayang adalah aspek penting dalam masa pertumbuhan jiwa anak, yang ketiga yang paling penting menurut husein mazhahiri, munculnya pemikir-pemikir yang sesat disebabkan kelainan jiwanya disaat ia kecil, kita melihat sigmeund freud,nietzche,karl marx semuanya memiliki masa lalu yang kelam di saat masa kecilnya, maka dari itu agama selalu memerintahkan kita menyantuni anak yatim agar anak yatim mendapat kasih sayang seorang ayah sebagaimana anak yang lainnya. Yang terakhir dalam psikologi anak, anak haruslah melewati semua fase pertumbuhannya satu fase saja terlewati maka aka nada kelainan disaat ia dewasa nanti, fase itu adalah disaat dia bermain,disaat dia membutuhkan kasih sayang orang tua, disaat dia belajar, tanpa kehidupan bersama keluarga maka fase ini terasa mustahil bagi anak

 

KESIMPULAN

Setelah tadi kita membahas mengenai zina maka dapat kita simpulkan bahwa zina adalah perilaku yang bukan manusiawi,amoral,tidak etis dan pada dasarnya zina tidak dapat diterima oleh masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas, maka dari itu pernikahan adalah satu-satunya jalan untuk mengikat ikatan suci manusia, dan yang perlu diperhatikan adalah dampak zina bagi keturunan, zina dapat mengahncurkan keturunan, tanpa adanya ikatan pernikahan maka akan sulit terwujudnya keturunan yang baik.

 

 

 

REFERENSI

AlQuran

Shohih muslim

Sunan Abi Dawud

Wanita dan Hijab , Murtadha Muthahahri

Jihad Melawan Hawa Nafsu, Husein Mazhahiri

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s