Filsafat Iluminasi

PENDAHULUAN

Ilmu merupakan hal yang sangat krusial dalam setiap institusi terutama agama, berkembangnya ilmu disuatu agama akan merefleksikan bagaimana agama itu dapat berevolusi disetiap zamannya, maka dari itu filsafat ilmu adalah bagian yang penting dipelajari disuatu innstitusi yang bergerak di pendidikan “Islam” dengan memahami metode-metode dari ilmu tersebut maka akan mudah kita memahami sesuatu fenomena dalam sebuah agama terutama agama islam yang merupakan agama penyempurna dari agama samawi sebelumnya. Pengalaman mistik adalah salah satu metode/cara/alat epistemology untuk sampai kepada pemahaman kepada sesuatu, akan tetapi apakah pengalaman mistik sesuai dengan syariat islam yang menolak rabbaniyah? Apakah pengalaman mistik menafikan akal teoritis sebagai alat epistemology? Dan yang paling penting dari semua itu apakah pengalaman mistik objektif dalam memahami sesuatu? Di makalah ini akan kita bahas bagaimana pengalaman mistik menjadi alat epistemology dalam islam.

PEMBAHASAN

Paripatetik dan Iluminasi

Filsafat dari zaman yunani klasik sampai post modern sekarang yang terkesan dengan positivism ada dua aliran besar yang diakui sebagai alat epistemology yaitu “akal” dan “Hati”, walaupun sekarang positivism cenderung lebih bersifat empiristik dan metodenya hanya observasi yang digagas oleh hume dan john locke. Akan tetapi di zaman pertengahan kita tidak melihat “inderawi” sebagai alat epistemology yang diakui karena memilki beberapa kelemahan (walaupun kelemahan itu dibantah sekarang dengan dalil-dalil dari para filosof empirisme) jika kita kembali kepada zaman yang menyambung rantai pemikiran filsafat dari yunani klasik kepada filsafat modern yang digagas oleh rene Descartes maka kita akan menemukan peradaban bangsa arab yang mengembangkan atau kita kenal dengan filsafat islam, dengan para filosof muslim yang menerjemahkan kitab-kitab klasik yunani yang dimulai dari al kindi. Ada dua aliran besar dalam filsafat islam yaitu “paripatetik” atau yang dikenal “masyaiyyah” dan “iluminasi” atau yang dikenal “isyraqiyah”. Menurut penganut mazhab paripatetik seperti al farabi dan ibn sina bahwa hanya akal yang mempunyai kemampuan untuk menangkap realitas sesuatu. Sedangkan menurut penganut iluminasi mengkritik kualitas akal sebagai alat epistemology dan lebih bersifat sufistik, maka dari itu kelompok ini yang digagas oleh suhrawardi al-maqtul  lebih kepada teosofi, teoritis dan sufistik.

 

Suhrawardi

Membahas pengalaman mistik maka kita tidak dapat lepas dari sang penggagas iluminasi yang telah berjasa besar membangun iluminasi menjadi suatu ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, karena pada dasarnya sufi terdahulu hanya menghasilkan antithesis bagi yang lainnya karena tidak dapat menjelaskan pengalaman spiritual yang dialaminya dalam bentuk keilmuan yang terikat dengan susunan-susunannya. Suhrawardi lah yang mengilmiahkan untuk pertama kalinya. Dengan bekal belajar teologi dan mantiq dan ilmu-ilmu intelektual islam lainnya suhrawardi kemudian belajar mengenai ilmu kebatinan/sufistik bahkan ia menjadi sufi dengan modal ini ia telah berjasa menggabungkan dua kekuatan yang besar yaitu intelektual teoritis dengan batin sufistik atau disebut dengan teosofi. Ia terus mengembangkan gagasan-gagasan dari pemikirannya dan banyak kita dapati karyanya terutama yang sangat terkenal hikmah al-isyraq, tetapi yang sangat disayangkan ia hanya hidup sampai umurnya 39 tahun karena dituduh menyebarkan ajaran sesat dan dituduh sebagai syiah ismailiyah, karena pada zaman itu adalah zaman penguasa sunni yang fanatik maka ia divonis hukum gantung.

 

 

 

Husuli dan huduri

“Dan pernyataannya yang diperoleh dari Syaikh (Ibn Sina) pada banyak bagian dari kitab-kitabnya  bahwa bentuk eksistensial eksternal seperti yang diperoleh dari langit dan bagian-bagiannya serta bentuk-bentuk eksternalnya  melalui indera dan pengamatan atas  bentuk rasionalnya dan pada bagian lain bahwa bentuk visual objek yang tercerap tidak berdasarkan indera akan tetapi sebaliknya seperti bentuk visual dari rumah yang akan dibangun, hadir lebih dahulu pada mental karena kemampuan imajinatif  dan bentuk visual tersebut memotivasi anggota tubuh untuk melakukan aktivitas sampai pada realisasinya secara eksternal. Tidaklah bentuk visual ilmiah tersebut  berasal dari objek eksternal akan tetapi justru eksistensi eksternalnya yang mengikuti eksistensi mental sebagaimana yang telah dijelaskan pada persoalan kualitas mental” (al-Asfar J.3 : 39)

Pembagian yang dilakukan Mulla Shadra di atas dikategorikan kedalam dua jenis ilmu yaitu : Ilmu Husuli (Korespondensi) dan Ilmu Hudhuri (Kehadiran)

Ilmu Husuli adalah ilmu atau pengetahuan yang didapat berdasarkan proses korespondensi yang terjadi antara subjek dengan objek eksternal. Antara keduanya terdapat eksistensi independent yang berbeda dan tidak berkaitan satu sama lain. Keduanya memiliki dimensi dan derajat spesifik dalam kemaujudan dirinya dan tidak bergantung satu sama lain atau dapat kita sebutkan tidak adanya hubungan kausalitas di antara keduanya. Ketidak terikatan dua eksistensi tersebut meliputi seluruh hal baik ontologis, epistemologis dan logis

Allamah Thabathaba’i menjelaskan ilmu Husuli sebagai berikut :

حصول العلم لنا ضرورى، وكذلك مفهومه عندنا؛ وإنما نريد فى هذا الفصل معرفة ما هو أظهر خواصه، لنميز بها مصاديقه وخصوصياتها.

فنقول : قد تقدم فى بحث الوجود الذهنى : أن لنا علما بالامور الخارجة عنا فى الجملة، بمعنى أنها تحصل لنا وتحضر عنجنا بماهياتها، لا بوجوداتها الخارجية التى تترتب عليها الآثار، فهذا قسم من العلم، ويسمى ((علما حصوليّا)).

 

    “Kami katakan : Sebagaimana telah dibicarakan pada pembahasan Eksistensi Mental : Bahwa sesungguhnya kita memiliki ilmu terhadap persoalan eksternal yang berada di luar diri kita, bermakna tersampaikan dan terhadirkan pada diri kita dalam bentuk aksidennya dan bukan eksistensi eksternalnya yang memiliki efek, bagian ilmu ini disebut Ilmu Korespondensi”

      Muhammad Husayn Thabathaba’i, Bidayat al-Hikmat, (Qom : Muasasat Nashr al-Islami, 1415) h. 138.

Ilmu huduri berbeda dengan Ilmu korespondensi bahwa yang hadir pada mental subjek adalah bentuk visual entitas objek tapi pada Ilmu Kehadiran yang hadir pada mental subjek adalah eksistensi objek.

Allamah Thabathaba’i  mendeskripsikan Ilmu Hudhuri sebagai berikut :

ومن العلم : علم الواحد منا بذاته، التى يشير إليها بـ ((أنا))، فانه لا يغفل عن نفسه فى حال من الأحوال؛ سواء فى ذلك الخلاء والملاء، والنوم واليقظة، وأية حال أخرى.

وليس ذلك بحضور ماهية ذاتنا عندنا حضورا مفهوميا وعلما حصوليا؛ لأن المفهوم الحاضر فى الذهن كيفما فرض لا يأبى الصدق على كثيرين وإنما يتشخص بالوجود الخارجى، وهذا الذى نشاهده من أنفسنا ونعبر عنه بـ ((أنا))  أمر شخصى لذاته لا يقبل الشركة، والتشخص شأن الوجود، فعلمنا بذواتنا إنما هو بحضورها لنا بوجودها الخارجى الذى هو ملاك الشخصية وترتب الآثار؛ وهذا قسم آخر من العلم ويسمى ((العلم الحضورى))

 

        “Dari bagian ilmu : Satu bentuk ilmu pada kita  (hadir) dengan esensinya yang di isyaratkan dengan (Aku) karena sesungguhnya dia (Aku) tidak pernah hilang dari diri kita dalam kondisi apapun ; baik dalam kesendirian maupun dalam kesibukan, tidur ataupun terjaga, atau keadaan apapun lainnya. Dan yang demikian itu bukanlah hadirnya aksiden esensi (Aku) pada diri kita dalam bentuk hadirnya mafhum dari ilmu korespondensi: karena mafhum yang hadir pada mental bagaimanapun kita gambarkan tidak akan lepas dari relasinya dengan yang plural dan teridentitaskan dalam eksistensi eksternal, dan hal ini yang kita saksikan dari diri kita yang kita sebut dengan (Aku) merupakan identitas yang pada  esensinya tidak terkomposisi dan teridentitas dalam dimensi eksistensi, maka kita memiliki ilmu terhadap esensi kita (Aku) dan hadir pada diri kita dengan eksistensi eksternal yang merupakan dasar identitas yang memiliki efek : dan ini merupakan satu jenis yang lain dari ilmu yang disebut Hudhuri”       Bidayatul Hikmah., h. 139.

 

Ciri ilmu huduri

  1. Dia hadir secara eksistensial di dalam diri  Subjek.
  2. Bukan merupakan konsepsi yang dibentuk  dari silogisme yang terjadi pada mental.
  3. Keterlepasan dari dualisme kebenaran dan kesalahan.

 

Mulla shadra

Objek eksternal merupakan eksistensi eksternal, pencerapan melalui proses korespondensi menyampaikan pada diri subjek bentuk visual dari objek. Bentuk visual bukanlah substansi objek karena substansinya adalah eksistensinya. Jika pengetahuan subjek terhadap objek didasarkan kepada bentuk visual entitas yang hadir sementara bentuk entitas objek bukanlah objek itu sendiri maka subjek tidak memiliki ilmu terhadap objek eksternal tersebut, hal ini akan berujung pada skeptisisme

Objek eksternal terikat pada ruang dan waktu serta mengalami proses perubahan dengan perjalanan waktu, akan tetapi pada objek mental yang merupakan bentuk ilmiah dari objek eksternal tidak bergantung pada ruang dan waktu serta bersifat tetap, sehingga kapanpun dan dimanapun ketika subjek menginginkan kehadirannya objek mental tersebut akan hadir pada diri subjek. Hal tersebut membuktikan bahwa objek yang yang hadir pada diri subjek merupakan eksistensi mental dari eksistensi eksternal objek

 

 

KESIMPULAN

Jadi pada intinya para penganut mazhab pengalaman mistik atau yang lebih kita kenal dengan iluminasi atau isyraqiyah adalah memberikan gagasan untuk mendapatkan suatu pemahaman yang terhindar dari subjektifitas dan sangat objektif walaupun pada setelahnya banyak menuai kritik dari para penerus paripatetik seperti ibn rusyd, akan tetapi isyraqiyah  telah mengkoreksi banyak kesalahan dari paripatetik yang akan terus dikaji lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Suhrawardi kritik falsafah paripatetik, Dr. Amroeni Drajat, M.A.

Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Seyyed Hossein Nasr and Oliver Leaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s