Nilai barang (karl marx dan engels)

PENDAHULUAN
“Barang” adalah kata yang sudah tidak asing lagi di kuping kita, karena setiap hari roda kehidupan akan dihadapkan pada kata benda ini. Sesuatu yang familiar di kehidupan kita akan tetapi menyimpan banyak nilai di dalamnya. “barang dagangan” itulah yang sering kita sebutkan untuk barang yang akan dijual atau ditukar dengan barang lainnya, dengan maksud mencari suatu keuntungan atau nilai lebih dari transaksinya.
Nilai dalam barang dan hasil tenaga kerja yang terksitalisasi dalam barang menjadi acuan seberapa berharga barang tersebut, karl marx dan engels sesuai konteks zamannya membahas ekonomi dan segala hal aktivitas ekonomi manusia berdasarkan zamannya yang sangat kental dengan perbedaan kelas antara “borjuis” dan “proletariat” sehingga pemikiran-pemikiran yang memiliki banyak pengikut dan menjadi sebuah paham yang kaum buruh bilang komunis dan kaum menengah menyebutnya sosialis, terlepas dari semua itu pemikiran-pemikiran mereka sangatlah berharga dari sisi historis perkembangan pemikiran dalam ilmu ekonomi sehingga menyumbangkan ide-ide besar bagi para pemikir setelahnya.
Barang dagangan yang dibahas pada bab 1 dalam das capital volume pertama ini yang akan saya ambil dan akan saya bahas mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Saya mohon maaf jika ada segala kekurangan karena ketidakmampuan intelektual pada diri saya untuk menangkap semua ide-ide dalam teori ini seutuhnya.

Kerangka teori
Dua faktor barang-dagangan: nilai pakai dan nilai (substansi nilai dan besaran nilai)
Kekayaan masyarakat di mana cara produksi kapitalis berkuasa, tercermin dari adanya “Suatu akumulasi barang-dagangan yang sangat luas atau besar,”  sedangkan satuannya dihitung berdasarkan per buah barang-dagangan. Oleh karena itu penelaahan kita harus mulai dengan analisa terhadap barang-dagangan.
Barang-dagangan, bila dilihat dari tempatnya, pertama-tama adalah suatu obyek/benda yang berada di luar kita, sesuatu, yang karena sifat dan caranya, dapat memuaskan kebutuhan manusia. Tidak menjadi soal  apakah sifat kebutuhan tersebut berasal dari perut atau pun fantasi. Tidak dipersoalkan juga bagaimana caranya kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh obyek tersebut, apakah secara langsung seperti terhadap kebutuhan subsistensi, atau pun secara tidak langsung seperti oleh alat-alat produksi.
Tiap-tiap barang yang berguna, seperti besi, kertas dan sebagainya, seharusnya dipandang dari dua segi, yakni segi kualitas dan kuantitas. Barang-barang tersebut merangkum berbagai sifat, oleh karena itu barang-barang tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara. Menemukan berbagai kegunaan barang-barang tersebut merupakan kerja/karya yang bersejarah  Demikian juga bila menemukan standar ukuran (perhitungan kuantitas) sosial kegunaan obyek-obyek tersebut (dalam sifatnya), atau pun karena kebiasaan-kebiasaan (persetujuan sosial).
Kegunaan suatu barang menyebabkan barang tersebut memiliki nilai pakai.  Namun pengertian kegunaan tersebut tidak bisa diterapkan pada barang seperti udara. Karena barang-dagangan ditentukan oleh sifat fisiknya, ia tidak akan memiliki eksistensi bila tanpa badan fisiknya (berujud). Oleh karena itu, barang-dagangan seperti besi, gandum, intan, dan sebagainya, sejauh sesuatu yang sifatnya material, adalah juga nilai pakai, sesuatu yang memiliki kegunaan. Sifat barang-dagangan tersebut tidak tergantung dari kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas kegunaannya. Bila berbicara tentang nilai pakai, kita selalu mengasumsikannya dengan sejumlah kuantitas tertentu, misalnya lusin untuk jam, yard untuk kain, ton untuk besi dan seterusnya. Nilai pakai-nilai pakai barang-dagangan melengkapi sifat materialnya, yang berguna bagi keperluan studi tertentu yakni guna pengetahuan tentang sifat komersil barang-dagangan.  Nilai-pakai menjadi kenyataan hanya bila telah digunakan atau dikonsumsi; nilai-pakai merupakan tolok ukur substansi kesejahteraan, apapun bentuk sosialnya. Di dalam bentuk masyarakat yang kita amati, nilai-pakai merupakan perangkum sifat material dari nilai tukar. Nilai tukar, pada pandangan pertama, merupakan cermin dari hubungan kuantitas, sebagai proporsi di mana nilai-pakai suatu jenis barang dipertukarkan dengan nilai-pakai jenis barang lainnya,  suatu hubungan yang selalu berubah sesuai dengan waktu dan tempatnya. Oleh karena itu, nilai-tukar muncul sebagai sesuatu yang kebetulan dan relatif semata-mata, dan akibatnya nilai yang intrinsik dan bersenyawa dengan barang-dagangan nampaknya berada dalam posisi contradictio in adjectio (contradiction in terms) .
CAPITAL Jilid I, Encyclopedia Britanica, Inc., London, 1952

PEMBAHASAN
“Barang” adalah kata yang sudah tidak asing lagi di kuping kita, karena setiap hari roda kehidupan akan dihadapkan pada kata benda ini. Sesuatu yang familiar di kehidupan kita akan tetapi menyimpan banyak nilai di dalamnya. “barang dagangan” itulah yang sering kita sebutkan untuk barang yang akan dijual atau ditukar dengan barang lainnya, dengan maksud mencari suatu keuntungan atau nilai lebih dari transaksinya.
Teori karl marx dan engels sangat menarik mengenai barang dagangan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti sejumlah barang tertentu misalnya 1kg beras dipertukarkan dengan ,sejumlah apel dan sebuah jam tangan dapat ditukarkan dengan barang tersebut dalam porsi atau tingkatan yang berbeda, dengan demikian beras tidak hanya memiliki satu nilai tukar akan tetapi memiliki beragam nilai tukar di dalamnya. Demikian juga dengan apel dan jam tangan harus memiliki nilai tukar tertentu yang dapat menggantikan satu sama lain, maka dari itu nilai tukar haruslah valid dan pasti untuk ditukarkan dengan barang tertentu. Nilai tukar pada dasarnya adalah manifestasi perwujudan dari sesuatu yang terkandung di dalamnya.
ambillah dua contoh barang-dagangan, gandum dan besi. Apa pun proporsi hubungan pertukarannya, ia tetap dapat digambarkan dalam suatu persamaan, di mana sejumlah gandum disamakan dengan sejumlah besi, misalnya seperempat kilo gandum = 100 pon besi. Apa yang bisa dikatakan oleh persamaan tersebut? Apa yang dapat kita pahami dari persamaan tersebut adalah, bahwa dalam dua barang yang berbeda-seperempat kilo gandum dan 100 pon besi-terdapat kesamaan kuantitas yang umum bagi keduanya. Oleh karena itu dua benda harus dapat disamakan dengan benda ketiga, simultan, bukan hanya benda-benda tertentu saja. Masing-masing dari kedua benda tersebut, selama merupakan nilai-tukar, harus dapat direduksi menjadi sama dengan benda yang ketiga.
Jadi pada dasarnya setiap barang mengandung nilai tukar yang menggambarkan perwujudan barang tersebut dan kuantitas barang dapat dibandingkan dengan disesuaikan kuantitas barang lainnya. Seperti yang terlihat pada contoh di atas bahwa gandum dan besi memiliki kuantitas yang berbeda akan tetapi memiliki nilai tukar yang sama berdasarkan perbendingan antara gandum dan besi.
“Suatu macam barang yang satu sama baik seperti yang lainnya, jika nilai-tukarnya sama. Karena tidak ada yang dapat membedakan barang-barang yang nilai-tukarnya sama.”
Barang dinilai berdasarkan nilai tukarnya, dalam barang dagangan persamaan barang yang satu dengan barang yang lainnya adalah dibandingkan berdasarkan nilai tukar yang terdapat pada barang tersebut sehingga dengan membandingkan nilai tukar tersebut barulah kita dapat mengetahui berapa kuantitas yang pantas untuk ditukar dengan barang lainnya.maka dari itu sebagai nilai pakai maka barang dagangan harus memiliki kualitas yang berbeda-beda akan tetapi tidak hanya nilai pakai yang terdapat dalam barang dagangan akan tetapi ada hal yang paling penting di dalam esensi barang dagangan tersebut yaitu hasil tenaga kerja
Marilah kita lihat apa yang tersisa dari hasil-hasil produksi tersebut; tak ada yang tersisa selain daripada realitas abstrak yang sama, suatu pembekuan belaka dari kerja manusia yang tak memiliki perbedaan, yakni tenaga kerja manusia yang dikeluarkan–dengan mengesampingkan cara bagaimana tenaga kerja itu dikeluarkan. Dalam barang-barang tersebut tersimpan tenaga kerja, yakni terdapat timbunan tenaga kerja manusia di dalamnya. Bila dilihat sebagai kristalisasi substansi sosial, maka kesamaan yang ada pada mereka adalah: nilai.
Di dalam hubungan pertukaran barang-dagangan, nilai-tukar mereka sama sekali tidak tergantung kepada nilai-pakai mereka, itu yang telah kita lihat. Jika kita sekarang mengabstraksikan dari nilai-pakai mereka, maka kita akan mendapatkan nilai mereka seperti yang telah didefinisikan di atas. Oleh karena itu, substansi umum yang terwujud dalam nilai-tukar barang-dagangan, di mana pun mereka dipertukarkan, adalah nilai mereka. Proses penyelidikan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa nilai-tukar adalah satu-satunya bentuk di mana nilai barang-dagangan dapat mewujudkan atau mengekspresikan diri. Sekarang, bagaimana pun juga, kita harus mempertimbangkan hakikat nilai yang tidak tergantung dari bendanya.
Suatu nilai-pakai, atau kegunaan benda, oleh karenanya, hanya mempunyai nilai karenanya, hanya mempunyai nilai karena kerja manusia abstrak telah dibekukan atau dimaterialkan ke dalam benda tersebut. Sekarang bagaimana kita mengukur besaran nilainya? Jawabannya, dengan jumlah “substansi pembentuk nilai” yang terkandung di dalamnya, yakni kerja. Jumlah kerja diukur dengan waktu berlangsungnya (lama kerja), dan waktu kerja tersebut memiliki standarnya, misalnya minggu, hari, jam dan seterusnya.
Jadi, hanya jumlah jam kerja yang dibutuhkan secara sosiallah (the labour time socially necessary) yang menentukan besaran nilai suatu benda, atau jam kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk memproduksi sesuatu
Dalam hal ini, setiap satuan barang-dagangan dinilai sebagai sampel rata-rata yang mewakili jenisnya (klasnya)
Oleh karenanya, barang-dagangan, di mana di dalamnya mengandung jumlah kerja yang sama, atau yang dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, memiliki nilai yang sama. Nilai satu barang-dagangan lainnya dapat dikatakan sebagai hubungan di mana satu sama lainnya memiliki jam kerja yang dubutuhkan untuk memproduksinya. “Sebagai nilai-nilai, semua barang-dagangan hanyalah merupakan ukuran jam kerja yang telah dibekukan atau dimaterialkan.”
Suatu benda bisa memiliki nilai-pakai, tanpa memiliki nilai. Hal ini bisa terjadi jika kegunaannya bagi manusia bukan dikarenakan kerja (tidak dihubungkan dengan kerja). Misalnya udara, tanah perawan, padang rumput alami, dan sebagainya. Satu benda bisa saja memiliki kegunaan, dan merupakan hasil kerja manusia, namun tidak bisa disebut barang-dagangan. Siapa saja yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan hasil kerjanya sendiri memang menciptakan nilai-pakai, namun bukan menghasilkan barang-dagangan. Untuk menghasilkan barang-dagangan, seseorang tidak saja harus menghasilkan nilai-pakai, tapi nilai-pakai untuk orang lain, nilai-pakai sosial. (Dan sama sekali bukan hanya “untuk orang lain.: Petani abad pertengahan juga menghasilkan pajak padi-padian persepuluh untuk pendeta (Zentkorn).
Tetapi kedua jenis pajak tersebut tidak bisa disebut barang-dagangan persyaratannya adalah, pertama, harus dihasilkan untuk orang lain, kedua, memiliki nilai-pakai, dan ketiga, dialihkan melalui pertukaran

KESIMPULAN

Jadi, tak satu pun bisa memiliki nilai, tanpa menjadi obyek kegunaan (tanpa merupakan yang dapat dipakai) dan dapat dirasakan atau dinikmati fungsinya atau kegunaannya karena itulah satu-satunya motivasi seseorang ingin memiliki suatu barang mustahil tidak ada kegunaan dalam barang tersebut lantas ia ingin membelinya. Bila sesuatu benda kehilangan gunanya, maka demikian pula kerja yang terkandung di dalamnya; kerja tersebut tidak bisa dihitung sebagai kerja yang menghasilkan nilai

DAFTAR PUSTAKA

CAPITAL Jilid I, Encyclopedia Britanica, Inc., London, 1952
Karl Marx, “Zur Kritik der Politischen Oekonomie,” Berlin 1859, hal. 4.

Nicholas Barbon, “A Discourse on Coining the New Money Lighter. And Answer to Mr. Locke’s Consideration etc.,” London 1696, hal. 2, 3

John Locke, “Some Consideration on the Consequences on the Lowering of Interest,” 1691, dalam Works, London, 1777, Volume II. Hal. 28

Le Trosne, De l’Interest Social, dalam Physiocrates, ed. Daire, Paris, 1845, hal. 889

Some Thought on the Interest of Money in General, and Particularly un the Public Funds, etc., London, hal. 36

Karl Marx, op.cit., hal. 6.

 

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s