Antara Nafsu dan Tuhan

Negeri tercinta kita seakan-akan tiada habisnya diterjang badai bencana dan penyakit moralitas yang krusial yang menjangkit seluruh jiwa individu di negeri kita. Anak bangsa yang harusnya menjadi penerus cita-cita untuk menjaga martabat bangsa, kini telah menjadi anti tesis bagi bangsanya sendiri. Pendidikan berperan aktif dalam pembangunan moral bangsa, pendidikan yang salah sejak usia dini akan merefleksikan perilaku yang buruk di masa yang akan datang. Bagai melawan derasnya ombak, pendidikan kita sulit untuk mengembangkan nilai-nilai bangsa kita sendiri di atas arus modernisme yang menjangkit seluruh kehidupan kita, informasi tanpa batas, pergaulan bebas seakan-akan telah menjadi bagian dari setiap kehidupan anak sekarang. Islam merupakan agama mayoritas di indonesia, sehingga perkembangan ajaran islam sangatlah berperan penting mengenai nasib bangsa dan martabat negara, islam yang dijunjung tinggi oleh pemeluknya kini hanya sebagai simbol sakralitas tanpa implementasi moralitas di dalamnya, hanya berhenti kepada yang sakral tanpa adanya hubungan sosial pada hal yang profan. Islam kini telah menjadi agama simbolis yang hanya disimpan di lemari kaca agar tetap bersih dan diambil jika dibutuhkan. Agama kini bukan agama. Nafsu kita yang membentuk agama baru bagi setiap orang. Nafsu kita yang mengatasnamakan tuhan, sehingga dimensi ketuhanan kita menghilang seiring nafsu diri kita yang mengambil posisi ketuhanan dalam diri tanpa kita sadari.

 

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s