“islam” atau “Islam” ?

Keputus asaan telah menjangkiti seluruh jiwa-jiwa kita dari setiap manusia yang ada, seperti halnya penjara yang dikelilingi samudera,kehidupan kita seakan terkukung rapat oleh segala nafsu dan belenggu dari para penjahat. Tidak ada lagi jaminan dan kebebasan yang dijanjikan oleh para pendiri bangsa, kebebasan kini telah tercabik oleh keserakahan dan fanatisme belaka. Agama yang harusnya menjadi jalan menuju kesempurnaan diri manusia kini telah menjadi alat untuk mengatasnamakan nafsu belaka. Putus asa dan kekecewaan yang saya rasakan ketika melihat agama dan pemerintahan di manipulasi oleh para “penjual ayat tuhan”  dan para tikus-tikus negara. Beragam agama,ras dan bahasa yang menjadi warna pelangi di negeri kita tercinta, kini telah hangus dibakar oleh kepentingan individu-individu, kepentingan sosial di negara yang mengaku demokratis menjadi sebuah negara yang otoriter yang memihak kepada yang berkuasa dan mengabaikan yang lemah terutama hak asasi manusia. Semua undang-undang dan peraturan negara sudah jelas sekali terjadi di depan mata kita hanya sebuah formalitas belaka tanpa pengimplementasian di dalamnya, lantas apa yang kita sebut negara demokrasi ? apa yang kita sebut bhineka tunggal ika ? apa yang kita sebut masyarakat yang mengaku madani ? jika setiap kebebasan di rampas, bukan kah para nabi dari setiap agama mengajarkan kepentingan sosial diatas individu ? lantas mengapa yang terjadi kini sebagai anti tesis dari ajaran agama yang ada ? masih eksis kah sebuah agama di indonesia ? lantas mengapa kekerasan, penganiayaan dan pembantaian justru sebagian besar diatasnamakan agama ? sehingga agama kini menjadi kendaraan untuk memenuhi nafsu belaka.

Bukankah sigmeund freud telah berkata bahwa terkadang super ego (nilai) yang salah sejalan dengan id (instink), sehingga disaat seseorang membunuh orang lain dengan alasan jihad atau membantai orang kafir, tidak akan ada perasaan bersalah bagi orang tersebut justru dia bangga atas perbuatannya, apakah ini yang dulu diucapkan oleh soren kiekeegard dalam the sickness unto death bahwa jalan keluar dari keputus asaan adalah “AGAMA”, apakah agama seperti ini yang membuat kita terhindarkan dari keputus asaan ? tapi sayangnya disaat hak asasi manusia dirampas dan kebebasan kita dirampas justru membuat semua dari kita merasa putus asa, sehingga agama tidak lagi diletakkan pada tempatnya.

Dengan mayoritas muslim dan merupakan kependudukan muslim terbesar di dunia, agama islam memainkan peran penting dalam membangun sistem masyarakat di negara kita, akan tetapi di indonesia hanya mengenal “islam” bukanlah “Islam”, kenapa saya menggunakan “islam” dengan “i” kecil karena islam di indonesia adalah sebuah islam yang sangat kaku yang terpaku pada syariat belaka, padahal misi dari keislaman adalah universal dan syariat di alquran hanyalah sebagian kecil dari ayat-ayat quran yang sebagian besar membahas mengenai akhlak dan kehidupan manusia sebagai khaifah tuhan. Sehingga “Islam” dengan “I” besar telah terasingkan di negeri kita yang merupakan Islam sebenarnya,

sebagaimana Muhammad Abduh berkata “di mesir aku melihat banyak muslim tapi aku tidak melihat Islam,di perancis aku tidak melihat muslim tapi aku melihat Islam”

 

Artikel Terkait :

3 thoughts on ““islam” atau “Islam” ?

  1. Pingback: “islam” atau “Islam” ? | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s