Islam dan Seni

LEVEL I. AL QUR’AN SEBAGAI PENJELAS TAWHID

–    Abstraksi, Representasi figurative tidak sepenuhnya dihilangkan, namun sangat jarang ditampilkan dalam tradisi seni Islam. (Mengalami denaturalisasi, stilasi)
–    Struktur modular, tersusun atas berbagai bagian (modul) yang dikombinasikan untuk membangun rancangan atau kesatuan yang lebih besar
–    Kombinasi suksesif, kombinasi berkelanjutan (suksesif) untuk membangun sebuah design yang independen. Bahkan kombinasi besar ini dapat, pada gilirannya diulang, divariasi, dan digabung dengan entitas lain yang lebih kecil maupun yg lebih besar untuk membentuk kombinasi yang lebih kompleks lagi. Sehingga pada pola infinit ini tidak hanya ada satu focus perhatian estetis, melainkan terdapat sejumlah “penglihatan” yang harus dialami (waktu) ketika mengamati modul. Disain islami selalu memiliki titik pusat yang tak terhitung jumlahnya.
–    Repetisi, Untuk menciptakan kesan infinitas (dan juga gerak/tumbuh) dalam obyek seni
–    Dinamisme, disain yang harus dialami melalui waktu. (Menurut Boas, berdasarkan waktu; sastra, music. Ruang; Senirupa dan arsitektur. Waktu dan ruang; tari dan drama)
–    Kerumitan: Detail yang rumit merupakan  ciri keenam sebuah karya seni Islam. Memperkuat kemampuan pola arabesk untuk menarik perhatian pengamat dan mendorong konsentrasi pada entitas structural yang dipresentasikannya. Sebuah garis atau figure selembut apapun diolah, tidak akan pernah menjadi satu-satunya ikon. Hanya dengan multiplikasi elemen-elemen internal serta peningkatan kerumitan penataan dan kombinasi, akan dapat dihasilkan dinamisme dan momentum pola infinit.

LEVEL II. AL QUR’AN SEBAGAI MODEL SENI

–    Seni Islam bersifat Qur’ani dalam arti bahwa Kitab suci ini menjadi model utama dan tertinggi bagi kreativitas dan produksi estetis.

–    QS disebut sebagai “karya seni utama dalam Islam” bukan berarti dia merupakan karya sastra Nabi, tetapi maksudnya Qur’an bersifat Ilahi baik bentuk maupun isinya, dalam huruf2 maupun idenya; bahwa ia diwahyukan oleh Tuhan dalam bentuk kata-kata yang sudah jadi dan bahwa susunan ayat dan surah yang ada sekarang juga telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

–    Merupakan representasi dari pola-pola  infinit dari seni Islam (Al Qur’an menjadi contoh paling sempurna dari pola infinit – contoh yang mempengaruhi segala kreasi selanjutnya dalam seni sastra, senirupa (baik dekoratif maupun arsitektur) bahkan seni suara dan seni gerak.

–    Sebagai karya sastra Al Qur’an memiliki pengaruh estetis dan emosional yang sangat kuat terhadap kaum Muslim yang membaca dan mendengar prosa-prosanya yang puitis. (Konversi, kesempurnaan sastrawi (I’jaz), peyentuhan emosi, dll.) Kontribusi kepada kebudayaan Islam ini telah memungkinkan pengadopsian dan pengadaptasian motif dan teknik yg tak terhingga jumlahnya, yang dipinjam dari berbagai kebudayaan maupun  person sepanjang sejarah.

AL Qur’an menjadi dasar bagi keenam karakteristik atau cirri pokok seni Islam

–    Pertama, Al Qur’an tidak pernah melakukan pengahadiran realistis dan naturalistic terhadap alam, serta menolak terhadap perkembangan naratif sebagai prinsip organis sastra. Tujuan utamanya bukanlah naratif melainkan pendidikan moral. Struktur utama Al Qur’an (s. Madaniyah yg panjang lebih mirip prosa berada di awal, sedangkan surat Makiyah yang pendek dengan nada puitik kuat berada di akhir)

–    Kedua, Terbagi kedalam berbagai modul sastrawi (ayat dan surat) yg muncul sebagai segmen yg utuh dalam dirinya sendiri. Masing-masing modul sudah lengkap dan tidak tergantung pada apapun yang ada sebelum dan sesudahnya. Hanya sedikit memiliki hubungan atau bahkan tidak sama sekali. Dalam pembacaan yang baik, periode diam (waqfah) menjadi tanda yang jelas bagi pemasukan modul aural ke dalam suara bacaaan

–    Ketiga, baris dan ayat bergabung membentuk entitas yg lebih besar dalam kombinasi suksesif (10 ayat membentuk ‘Usyr, beberapa ,usyr menyusun sebuah Rub’ (perempat). Empat rub’ membentuk sebuah Hizb. Dua Ahzab (jamak dari hizb) membentuk sebuah Juz (bagian). Dan 30 juz membentuk Al Qur’an yang lengkap

–    Keempat, yang dapat ditemukan dalam setiap seni kebudayaan Islam—intensitas  pengulangan yang tinggi – juga terdapat dalam prototype Al Qur’an.

–    Kelima, dari senirupa kebudayaan Islam—keharusan untuk mengalami mereka dalam waktu—dipastikan ada dalam Al Qur’an, karena semua seni sastra adalah termasuk kedalam kategori seni waktu.

–    Keenam, Kerumitan: Paralelisme, antithesis, pengulangan yang sangat banyak, metaphor, perumpamaan dan alegori adalah beberapa diantara berbagai sarana puitis Al Qur’an. Pemaduan elemen2 ini menyebabkan siapa yg membaca dan mendengar isi Al Qur’an menjadi terkesan dengan keindahan dan kesempurnaannya.

LEVEL III. AL QUR’AN SEBAGAI IKONOGRAFI ARTISTIK

–    Tulisan di Mesopotamia berumur ribuan tahun: Relief, patung bangsa Sumeria, Babilonia, Asyira, fungsi diskursif, digunakan sebagai pelengkaplogis repesentasi visual, ini berlanjut sampai zaman Byzantium.

–    Di zaman Islam, tulisan dan kaligrafi mengalami metamorfosa dari sekedar symbol diskursif menjadi bahan estetis dan sepenuhnya bersifat ikonografis
–    Al Qur’an adalah bahan ikonografis par exellen bagi karya seni Islam. (Kubah batu di Yerusalem/ Qubah Al Sakhrah; memiliki dekorasi kutipan-kutipan Al Qur’an sangat banyak, diselesaikan oleh khalifah Abd Al Malik 71/691 M
–    Ayat2 Al Qur’an telah digunakan sebagai motif dekorasi tidak hanya pada benda-benda yang memiliki fungsi religious namun juga dalam tenunan, garmen, bejana dan nampan, peti dan mebeler, dinding dan bangunan, bahkan panic untuk masak disetiap abad sepanjang sejarah Islam dan di setiap sudut negri Muslim.

Kesimpulan:

Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat menentukan, baik terhadap seni maupun terhadap keseluruhan aspek kebudayaan Islam yang lain.  Al Qur’an menyediakan ajaran untuk diekspresikan secara estetik, sekaligus prinsip-prinsip pengekspresiannya sebagaimana tertuang kedalam enam ciri yang ada dalam bentuk maupun isinya sendiri. Ekspresi dan ajaran Al Qur’an merupakan bahan dan materi terpenting bagi ikonografi seni Islam. Dengan demikian seni Islam tidak salah untuk dikatakan sebagai seni Qur’ani

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s