KALIGRAFI TRADISIONAL


–    Secara etimologis Kaligrafi berasal dari bahasa Yunani “Kaligraphia” atau “Kaligraphos”. Kallos berarti indah dan Grapho berarti tulisan. (Dua unsure: aksara dan keindahan/nilai estetis)
–    Dalam bahasa Arab disebut Khatt yang berarti “dasar garis”, “coretan pena” atau “tulisan tangan”.
–    Dalam pengertian sehari-hari-hari kaligrafi itu berarti “tulisan indah” atau “yang memiliki nilai estetis”

–    Syekh Syamsudin Al-Akfani (Ahli Kaligrafi): “Khat adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk huruf tunggal, penempatannya, dan cara merangkainya menjadi tulisan atau apa-apa yang ditulis dalam baris-baris (tulisan), bagaimana cara menulisnya dan (menentukan mana) yang tidak perlu ditulis, menggubah ejaan yang perlu digubah dan bagaimana mengubahnya”.  Pengertian ini menjelaskan bahwa  ilmu khat mencakup tata cara menulis huruf, menyusun dan merangkainya dalam komposisi tertentu demi mencapai keserasian (harmony), irama (ritme) dan keseimbangan (equilibrium) yang dituntut setiap karya seni.

MACAM-MACAM GAYA KALIGRAFI

Tumbuh sejak masa daulah Umayyah, Baghdad (Abbasiyah 132H/750M – 656H/1258M). Proyek penerjamahan karya klasik Yunaniberpengaruh bukan saja tumbuh suburnya minat terhadap keilmuan secara umum, tetapi juga merangsang tumbuhnya studi bahasa dan kaligrafi. Yang sangat monumental dalam perkembangan kaligrafi di Baghdad adalah dirumuskannya kaidah penulisan berdasarkan rumusan  geometri dengan tokohnya yang berpengaruh; Ibn Muqlah (w.328H/940M) dan dilanjutkan oleh Ibn Bawwab (w.413H/1022M)
Pada masa ini kaligrafi tumbuh semakin beragam dan bersifat kursif (lentur dan ornamental). Gaya Kufi yang banyak digunakan untuk penyalinan Al Qur’an periode awal, pada awal pertumbuhannya sangat kaku. Gaya ini kemudian berkembang lebih ornamental dan sering dipadu dengan ornament floral. Gaya kaligrafi kursif yang tumbuh pada masa itu, yakni: Sulus, Naskhi, Muhaqqaq, Riqa, dan tauqi. Keenam gaya ini dikenal dengan Al Aqlam as-Sittah atau Shis Qalam (Persia), atau The six hands/styles.
Riqah dan Tauqi berangsur surut, menghilang. Luruh dalam gaya yang berkakarter sangat mirip yaitu Sulus. Yang lain berkembang sampai pada puncaknya dimasa Usmani Turki (abad 16) dan safawi di Iran.
Di Turki: Syikastah, Syikastah Amiz, Diwani, Diwani Jali, Riqah dan Ijazah/Raihani (Perpaduan Naskhi dan Sulus).
Di Iran: Farisi (Ta’liq) dan Nasta’liq
Delapan model ini merupakan gaya utama yang paling sering digunakan sampai sekarang.
Naskhi digunakan untuk naskah Al Qur’an (mudah dibaca), Riqah untuk tulisan tangan biasa atau keperluan praktis (sangat sederhana dan memungkinkan untuk ditulis cepat)
Sulus sangat ornamental, banyak hiasan tambahan, mudah dibentuk dalam omposisi tertentu untuk memenuhi ruang tulisan yang tersedia. Banyak digunakan sebagai ornament arsitektur masjid, sampul buku, dekorasi interior, dsb.
Riqah, Ijazah atau Raihani, lazim digunakan untuk menulis ijazah, karakternya seperti Sulus hanya lebih sederhana dgn sedikit hiasan tambahan dan tidak lazim ditulis bertumpuk.
Gaya Diwani (dikembangkan Ibrahim Munif dan Syaikh Hamdullah, Usmani abad 15 dan awal 16M)  semula untuk menulis kepala surat resmi kerajaan (tidak berharakat). Saat ini model ini banyak digunakan untuk ornament masjid, sampul buku dsb
Diwani Jali, (Dikenal juga dengan nama Humayuni/kerajaan) pengembangan gaya Diwani oleh Hafizh Usman (w1698), lebih ornamental, padat dan terkadang bertumpuk, harakat melimpah demi tujuan dekoratif dan tidak seluruhnya berfungsi sebagai tanda baca. Sulit dibaca. Biasa untuk interior masjid atau benda hias.

Gaya Farisi dikembangkan orang Persia, menjadi huruf resmi bangsa safawi sampai sekarang. Mengutamakan unsure garis, ditulis tanpa harakat dan kepiawaian penulisnya ditentukan oleh kelincahannya mempermainkan tebal-tipis huruf dalam “takaran” yang tepat. Banyak digunakan pada eksterior masjid di Iran dipadu dengan warna-warni Arabes, disamping untuk kegunaan praktis lain.

KEDUDUKAN KALIGRAFI DALAM SENI ISLAM

–    Memperoleh kedudukan paling tinggi dan merupakan ekspresi spirit Islam yang sangat khas (leluhur seni visual)
–    Berpengaruh besar terhadap bentuk ekspresi cultural secara umum
–    Pengejawantah Firman Allah yang suci (seni suci)
–    Dihasilkan oleh orang Islam sendiri
Seiring dengan tumbuh suburnya penyalinan Al Qur’an, muncul juga gaya Mudawwar (bundar), Musallas (segi tiga), Ti’m (kembar, perpaduan bundar-segitiga). Kemudian Ma’il (miring), Masyq (membesar) dan Naskh (inskriptif), sebelum munculnya Kufi yg kelak sangat masyhur pemakaiannya untuk menyalin mushaf awal- di Kufah.

PENGARUH AL QUR’AN YANG MENDORONG BERKEMBANGNYA KHAT

–    Surat Pertama (QS 96: 1-5)
–    Surat Al Qalam (68); 1: Nun, wa al-qalami wama yasturun (demi pena dan apa yang mereka tulis)
–    Pengertian Simbolis pentingnya tulisan, misalnya Al Qur’an yang tertulis dalam Lauh Mahfuz (QS 85: 21-22). Dua malaikat yang mencatat perbuatan manusia (QS 17:73, 10:62, 34:4). Perumpamaan seluruh pohon di bumi dijadikan pena (QS 31:27),  dan perumpamaan laut sebagai tinta (QS 31:27, 18:109). Seluruh ayat ini merupakan penghargaan yang sangat tinggi terhadap pena, tinta, buku atau catatan. Maka dapat dipahami bahwa pentingnya tulisan memperoleh asal-usul yang langsung dari Allah.
–    Pengertian simbolis ini membawa pengaruh kuat pada persepsi kaum Muslim tentang pentingnya budaya tulis menulis. Bahkan lebih dari itu para kaligrafer disamping percaya bahwa menulis adalah ibadah kepada Allah yang berpahala besar merekapun menganggap menulis sebagai perbuatan  yang menyerupai apa yang dilakukan oleh Allah “yang mengajari manusia dengan pena”. Dalam sejarah kaligrafi nilai Al Qur’an ini menjadi roh dan semangat bagi para kaligrafer untuk terus berkreasi.
PENGARUH-PENGARUH LAIN
Pertama
–    Pengaruh ekspansi kekuasaan Islam (urbanisasi besar-besaran kewilayah baru, pertemuan budaya (akulturasi) antara Islam dan budaya wilayah taklukan, dan proses Arabisasi pada wilayah tersebut). Pada masa Umayyah, (ke Timur mencapai perbatasan Cina dan India. Ke barat wilayah tepian Atlantik) diikuti pengaturan administrasinya.
–    Orang Arab berurbanisasi ke wilayah yang jauh, Suriah, Mesir, Afrika utara, Mesopotamia atau ke Khurasan (Iran). Migrasi yang mau tak mau melibatkan seniman dan budayawan Muslim memungkinkan terjadinya pertemuan budaya antara Arab (Islam) dan wilayah pusat kebudayaan seperti Mesopotamia, Byzantium, dan Persia. Hal mana berpengaruh besar bagi kekayaan dan kemajuan seni Islam.
–    Meluasnya penggunaan bahasa Arab di wilayah taklukan sehingga bahasa Arab bukan saja bahasa liturgis tetapi juga cultural, yag akhirnya menjadi bahasa akademis dan kesusastraan.
–    Di pihak lain huruf Arab kemudian menjadi huruf untuk bahasa non Arab, seperti bahasa Parsi, Urdu, Turki dan Melayu. (Mengakibatkan semakin berkembangnya kaligrafi bahkan dengan corak local)
Kedua: Peranan Raja dan elite social (erat kaitannya dengan dukungan dan fasilitas yang diberikan oleh raja dan kaum elite social).
–    Diceritakan bahwa gaya tulisan Tumar( lembaran halus daun pohon Tumar) diperintahkan langsung oleh Khalifah Muawiyah, menjadi tulisan resmi pemerntahan daulah Umayyah.
–    Begitu juga fasilitas  di zaman Abbasiyyah, dimana titik kulminasinya pada zaman khalifah Al Ma’mun.
–    Beberapa sultan daulah Usmani di Turki terkenal sebagai ahli kaligrafi. Mereka bahkan tak segan belajar kaligrafi kepada para penulis istananya.
–    Pembukaan kota besar sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Islam membawa pengaruh bagi tumbuhnya kaum elite di masyarakat. Ditunjang berbagai pengaruh, baik ekonomi maupun kontak budaya. Kalangan ini mempunyai perhatian yang cukup besar terhadap karya seni. Benda seni seperti keramik bertuliskan kaligrafi sangat disukai.
–    Pada masa itu muncul pengrajin dari bangsa Yunani dan koptik serta terdapat pula pengaruh-pengaruh benda seni dari Cina.
Ketiga: Pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan
–    Dari ilmu agama melebar ke filsafat, kedokteran dll. Penerjamahan karya Yunani, Persia, Sanskrit memicu semangat ilmu pengetahuan dalam Islam. Diikuti oleh pertumbuhan took buku, perpustakaan (pribadi maupun umum) dan kelompok studi keilmuan. Nah kecintaan pada buku merangsang pengindahan. Dan dengan adanya kertas yang dikenalkan orang Arab dari Cina di Samarkand (113 H/ 751M) memungkin berkreasi secara leluasa. Kertas mempengaruhi perkembangan kaligrafi, misalnya Tumar, Sulus, Jali dan Nisf segera berkembang lebih halus seperti Khalif as-Sulus, Khalif as-Sulusain, dan Ri’asi. Tak lama kemudian muncul gaya lain yang dikenal senbagai enam gaya poko kaligrafi awal (Al Aqlam as-Sittah); Sulus, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa dan Tauqi.

PEMAKAIAN KALIGRAFI
–    Masa Umayyah masih terbatas, lebih menonjolkan dekorasi floral dan geometris yang merupakan pengaruh Hellenisme dan Sasanid
–    Masa Abbasiyah, menunjukkan keragaman yang sangat nyata; dipakai sebagai ornament arsitektur. Kufi dipakai dalam prasasti dan nisan dengan bentuk yang lebih dekoratif
–    Kontak Daulah Abbasiyah dengan Dinasti Tang 133 H/751 M segera berpengaruh besar terhadap keramik Abbasiyah dan berlanjut sampai abad berikutnya. Akhirnya kaligrafi muncul pada hamper semua benda fungsional; seperti senjata, alat music, daun pintu, penyekat ruang, kotak penyimpan barang, peralatan rumah tangga. Dan media sangat beragam; emas, tembaga, perak, kayu, tembikar hingga keramik. Ini bersifat menyeluruh di wilayah manapun Islam berada, dari Spanyol di Barat sampai Indonesia di Timur. (Menunjuk kepada ajaran Islam tidak adanya pemisahan dunia akhirat, fine art dan applied art)

Artikel Terkini :

6 thoughts on “KALIGRAFI TRADISIONAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s