Rekonstruksi Pemikiran Shariati

ali-syariatiDinamika pendidikan dalam dunia Islam mengalami fase kemunduran dan kemajuan, terlah tercipta jurang pemisah antara Timur dan Barat yang membentuk sebuah identitas baru bahwa pendidikan yang ada di Barat bersifat empiris dan pragmatis, sedangkan di Timur bersifat ukhrawi dan statis. Perkembangan pendidikan dalam dunia Islam tidak terlepas dari peran Cendikiawan Muslim yang membentuk pola pendidikan di zaman modern sehingga Islam membentuk suatu peradaban baru yang dapat mengikuti perkembangan zaman, tidak lagi terisolasi dan statis.

Ilmu pengetahuan bukanlah hal yang asing dalam ajaran Islam, begitu banyak dalil kitab suci Al-Quran maupun Al-Hadits yang menyatakan pentingnya menuntut ilmu dalam kehidupan demi memajukan suatu peradaban, sehingga membentuk masyarakat yang madani, Islam tidak memandang ilmu pengetahuan sebagai kontradiksi dari agama, sebagaimana kita melihat di zaman kegelapan eropa yang memiliki istilah Extra eclesiam nulla salus (tidak ada kebenaran di luar gereja) sehingga menghambat kemajuan ilmu pengetahuan di eropa pada saat itu.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah SWT melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah SWT menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS 4 : 95)

Perjalanan sejarah manusia tidak pernah bisa melupakan peran penting umat Islam di era keemasan. Kekhalifaan Islam yang sempat berjaya di abad pertengahan telah memberi sumbangsih yang sangat tidak ternilai bagi peradaban modern. Boleh jadi, tanpa kontribusi dari pemimpin, ilmuwan dan cendekiawan muslim di era itu, dunia tak akan mengalami lompatan kemajuan seperti saat ini.

Pada saat ini kontribusi penting peradaban Islam di berbagai bidang itu seakan sengaja dilupakan. Akibatnya, anak-anak muda muslim pun lebih mengagumi ilmuwan Barat. Sedangkan, jauh sebelum Barat menguasai peradaban, Islam yang menguasai dunia. Kurikulum pendidikan di Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, seakan tidak pernah mengenalkan sejarah dan kegemilangan yang pernah ditorehkan umat Islam[1]

Zaman modern identik dengan zaman materialism positivism dimana padangan hidup kita dibentuk satu dimensi, yaitu hanya material dengan mengabaikan aspek spiritual, manusia sebagai makhluk dimensi tidak dapat mengabaikan salah satu dimensi tersebut, baik di dunia politik,hukum maupun Sains. Islam telah membuktikan hal tersebut di zaman keemasan Islam di zaman pertengahan bahwa kemajuan Sains tidak bertolak dengan peradaban muslim, bahkan sepertiga ayat dalam alquran berbicara mengenai Sains.

Asumsi dasar saya adalah bahwa pada umumnya manusia sekarang terkungkung dalam berbagai penjara, dan secara alami manusia benar-benar menjadi manusia setelah ia mampu membebaskan dirinya dari kondisi-kondisi deterministik ini (Ali Syariati)[2]

Ali Syariati adalah tokoh intelektual Iran yang pemikiran-pemikirannya telah memberikan gagasan dan aksi-aksinya bahwa Islam mampu mengubah wajah dunia dengan rekonstruksi pendidikan oleh Cendikiawan Muslim mampu mengantarkan Islam untuk lebih maju di Zaman Modern ini, dimana Islam dianggap mengalami kemunduran dibandingkan dengan kemajuan yang terjadi di barat. Kita, kaum muda, para intelektual, dan kelas terpelajar dari bagian dunia ini harus menyadari bahwa kita sedang menghadapi suatu konflik yang serius dalam masyarakat[3]

Revolusi Islam Iran (11 Februari 1979) menarik untuk dikaji. Setidaknya, ada tiga alasan mengapa Revolusi Islam Iran itu layak untuk dicermati: Pertama, fenomena Revolusi Islam Iran merupakan salah satu bentuk kontradiksi-paradoksal dari proses modernisasi di negara dunia ketiga, terutama di Iran. Kontradiksi-paradoksal dalam arti bahwa proses modernisasi yang memangkas peran agama dalam fungsi sosial-politik, ternyata, di satu sisi menyebabkan peran agama terpinggir, tetapi di sisi lain mengentalkan sentimen keagamaan para pemeluknya. Keotentikan dan identitas kaum beragama yang terancam modernisme mengkristal menjadi gerakan-gerakan sosial, politik, dan kultural yang tidak sungkan-sungkan menggunakan simbol-simbol agama sebagai basis aktivitasnya.

Kedua, pengaruh Revolusi Iran telah menerobos seluruh penjuru dunia Islam, mulai dari Maroko sampai ke Indonesia, dari Bosnia di jantung Eropa sampai ke Afrika. Oleh karena itu, dampak revolusi tersebut sangat berpotensi mengubah peta konstelasi politik regional, khususnya kawasan Timur Tengah, maupun internasional.

Ketiga, Theda Skocpol, dalam Social Revolutions in the Modern World, mengategorikan Revolusi Islam Iran sebagai salah satu revolusi sosial terbesar di samping Revolusi Prancis, Rusia dan Cina[4]. Revolusi Islam Iran adalah akumulasi kekecewaan dan ketidakpuasan seluruh komponen bangsa Iran, bukan hanya ketidakpuasan kelompok elit mullah (religious scholars) dan intelektual.

Citra yang tertangkap secara umum ketika kita menelaah Revolusi Islam Iran adalah citra sebuah revolusi para mullah dengan instrumen ideologi religius murni. Citra tersebut mengakibatkan pemerintahan Iran pasca Revolusi Februari 1979 kerap dituding dengan istilah mullahocracy (kekuasaan kaum mullah). Namun, bila disorot secara lebih tajam dan cermat, sesungguhnya, ada pula konstruk ideologis semi-religius.

Secara simplistik, ada dua gugus ideologi yang menjadi pilar Revolusi Islam Iran, yaitu: ideologi religius tradisional Syi’ah yang diusung oleh para ulama atau mullah, dan ideologi semi-religius yang tetap berbasis atas peristilahan-peristilahan Syi’ah, tetapi dibawa oleh para intelektual berlatar pendidikan sekuler. Dalam kategori pertama bisa disebut dua nama yang paling populer, yaitu Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini dan Ayatullah Murtadha Muthahhari. Pada kategori kedua yang paling menonjol adalah Ali Syari’ati, Mehdi Bazargan, dan Bani Sadr. Meski punya misi-praktis yang sama, yaitu menggulingkan rezim represif Syah Iran, kedua kelompok ideologis ini kadang saling berhadap-hadapan.

Yang paling sering disinggung dalam studi-studi tentang para ideolog Revolusi Iran adalah Khomeini. Tokoh-tokoh yang lain seakan tenggelam di bawah bayang-bayang nama besarnya. Memang harus diakui, dengan berbekal kecerdasan dan kharismanya, Khomeini mampu menyatukan gerakan-gerakan revolusioner yang berbeda-beda di Iran saat itu yang menuntut penghapusan monarki. Lalu, apakah fungsi Khomeini dan Syariati dalam Revolusi Iran tersebut? Sebagaimana diungkap John L. Esposito, Khomeini, dalam Revolusi Islam Iran, lebih berperan sebagai pemimpin revolusi, sedangkan perumus dan penyedia ideologi revolusinya sendiri adalah Ali Syariati[5] Bahkan menurut Nikki R. Keddie, “Ali Syari’ati-lah yang telah sangat mempersiapkan (secara ideologis) orang muda Iran untuk perjuangan revolusioner itu”[6]

Dr. Ali Syariati adalah salah seorang figur paling popular di iran sekarang semasa revolusi tahun 1979, foto dan tulisan-tulisannya tersebar luas di seluruh penjuru Iran. Sikap acuh tak acuh dari pemimpin keagamaan berikutnya membuat reputasinya semakin diperhitungkan. Ali Syariati memiliki pengikut yang banyak, khususnya dikalangan mahasiswa, karena kritik-kritiknya terhadap kepemimpinan politik dan keagamaan yang represif[7]

Ali Syariati merupakan sosok yang menarik, ia tumbuh di keluarga yang sangat religious di Iran, sedangkan ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah sekuler termasuk di Sorbonne Perancis tempat ia meraih gelar Doktornya, pemikiran dan aksinya seakan menjembatani benturan peradaban antara timur dan barat yang sebagaimana di ramalkan oleh Huntington bahwa akan ada benturan peradaban di Zaman Modern, Rekonstruksi dalam bidang pendidikan merupakan masalah utama yang menjadi sorotan pemikiran Ali Syariati terutama mengenai peran Cendikiawan Muslim yang ia kritik menghambat kebebasan berpikir maju.


[1] Heri Ruslan, 2010, Khazanah, Republika, Jakarta, hal. V

[2] Charles Kurzman, 2003, Wacana Islam Liberal, Paramadina, Jakarta, hal.300

[3] Ali Shariati, 2001, Tugas Cendekiawan Muslim. Srigunting,  Jakarta , hal.84-85

[4] Theda Skocpol, 1994, Social Revolutions in the Modern World, Cambridge University Press, Cambridge

[5] John L. Esposito, 1987, Islam and Politics, Syracuse University Press, New York

[6] Nikki R. Keddie, 1981,  Roots of Revolution: An Interpretative History of Modern Iran, Yale University Press, New Haven and London

2 thoughts on “Rekonstruksi Pemikiran Shariati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s