Demokrasi Pendidikan dan Transisi

blog-Democracy_and_Education

Albert Einstein pernah berucap “politics is more difficult than physics and the world is more likely to die from bad politics than from bad physics”[1]. Apa yang dikemukakan Einstein merupakan pernyataan yang secara langsung menunjukkan betapa pentingnya menciptakan system pendidikan yang baik. Dari prespektif keilmuan, ilmu politik merupakan bagian dari ilmu sosial, bersama dengan ilmu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan psikologi.

Dalam kaitan dengan system politik yang baik, era modern ini tidak dapat dilepaskan dari system politik demokrasi. Untuk menciptakan system politik demokrasi, pendidikan harus mampu menciptakan manusia yang ‘demokratis’. Tanpa manusia yang demokratis, masyarakat demokratis hanya menjadi impian belaka. Masyarakat yakin bahwa pada masyarakat yang demokratis terbuka kesempatan bagi warga bangsa itu untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan kebebasan.

Demokrasi senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Perkembangan dari system otoriter ke system demokrasi akan melewati masa transisi. Pada masa transisi ini, perkembangan demokrasi tidak selamanya bersifat linear, melainkan bias kearah positif atau negatif, atau bahkan kembali ke system politik otoriter. Oleh karena itu, pada masa transisi, rekayasa atau usaha keras harus dilakukan untuk menjamin agar demokrasi berkembang kea rah cita-cita yang ideal. Rekayasa ini terutama diarahkan untuk mengembangkan kultur masyarakat yang demokratis. Pendidikan diharapkan dapat memainkan peran yang penting untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan cita-cita demokrasi di kalangan siswa, sehingga mereka memiliki kesadaran serta sikap dan perilaku yang mendorong terwujudnya masyarakat yang demokratis.

Hubungan antara demokrasi dan pendidikan amat erat, saling memberi, dan saling membutuhkan. John Dewey, bapak pendidikan modern, menyatakan keterkaitan antara demokrasi dan pendidikan secara lebih spesifik, dengan menyatakan “democracy has to be born a new in each generation and education is its midwife”. Sebaliknya masih menurut Dewey, pendidikan tanpa demokrasi akan menjadi kering, menjemukan, dan merana. Dalam kesempatan lain dewey sebagaimana dikutip oleh Bremer menguraikan bagaimana kaitan erat antara pendidikan dan demokrasi lewat pengalaman hidup. Demokrasi adalah system kehidupan sosial yang ditandai dengan kontak/interaksi yang terbuka di antara warga masyarakat. Kontak/interkasi ini memungkinkan setiap individu mendapatkan pengalaman yang tidak terbatas. Pengalaman yang diperoleh oleh masing-masing individu pada hakikatnya merupakan pendidikan,. Sehingga masing-masing individu akan mampu mengembangkan pengalaman yang diperoleh dan untuk mendapatkan pengalaman baru. Tanpa kontak/interaksi, tidak akan pernah ada pengalaman, dan tanpa ada pengalaman tidak aka nada learning. berikutnya tanpa ada learning, kontak social sangat terbatas, dan pada gilirannya akan membatasi terwujudnya demokrasi.[2]


[1] Moh Suhardi, 2012, Pengantar Pendidikan: Teori dan Aplikasi, Indeks, Jakarta, hal. 105

[2] Moh Suhardi, 2012, Pengantar Pendidikan: Teori dan Aplikasi, Indeks, Jakarta, hal. 106

 

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s