Refleksi Zaman Modern

79860504

Kata Modern, berasal dari bahasa Latin moderna yang berarti masa kini, terbaru atau mutakhir. Modern juga bisa berarti sikap atau cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman.[1] Dalam hal ini, gerakan kemodernan adalah kerangka konseptual yang oleh Bede Griffiths disebut sebagai filsafat materialis. Kemunculan tren filsafat ini sekaligus menandai berakhirnya pengaruh pola pemikiran Abad Pertengahan yang sangat idealistik dan spiritual.[2]

  1. Pemikiran Masyarakat Modern

Humanisme Modern yang mengambil sikap kritis terhadap monopoli tafsir kebenaran yang dipegang oleh persekutuan ajaib negara dan agama, mekar seiring perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Hampir setiap hal yang membedakan dunia modern dari abad-abad sebelumnya diatribusikan pada sains, yang mencapai puncak kejayaan luar biasa pada abad ke-17. Renaisans Italia tidak bersifat modern, namun lebih terkait dengan zaman keemasan Yunani. Sementara abad ke-16 yang asyik dengan teologi, lebih dekat dengan ciri Abad Pertengahan. Dunia modern, sejauh berkenaan pandangan tentang jiwa, dimulai pada abad ke-17.[3] Berdasarkan studi tentang perkembangan pemikiran dan kultur masyarakat, banyak ahli menarik kesimpulan secara historis, gerakan kemodernan pertama kali hadir secara eksplisit pada masa Renaisans dan Aufklarung/Pencerahan, yakni sekitar tahun 1500, dan dalam konteks dunia Barat yang Kristen. Salah satu pilar utama gerakan kemodernan adalah kerangka konseptual yang oleh Bede Griffiths disebut sebagai filsafat materialis. Kemunculan tren filsafat ini sekaligus menandai berakhirnya pengaruh pola pemikiran Abad Pertengahan yang sangat idealistic dan spiritual, sebagaimana terjelma dalam dogma/ajaran Gereja yang sangat berpengaruh hingga saat ini.[4]

Dalam sejarah Barat modern, pencerahan adalah masa puncak optimism Barat terhadap kekuasaan rasio manusia. Masyarakat mulai mencurigai berbagai bentuk ajaran agama dan filsafat sebagai mitos atau khayal-khayal kosong. Sebagai gantinya, mereka menaruh kepercayaan besar kepada ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat itu berkembang subur. Proses kesadaran yang dibawa pencerahan, selain emansipasi dari alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, juga emansipasi social melalui penghancuran rezim-rezim feodalistis. Dengan meletusnya revolusi Perancis di bidang sosio-politis dan revolusi industry di bidang teknis, optimism masyarakat Barat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi memuncak. Bersamaan dengan itu, berkembang subur paham Demokrasi dan Liberalisme yang melahirkan masyarakat Kapitalis Liberal yang menekankan kebebasan swasta untuk mengembangkan modalnya. Dalam konteks perkembangan Kapitalisme-Liberal pada masa revolusi industri ini, telah muncul refleksi kritis atas ketidakadilan sistem ekonomi politik ini. Pemikiran yang kritis terhadap system kapitalisme ini tentu saja Karl Marx. Pemikiran-pemikirannya melahirkan gerak lawan kapitalisme yang diwujudkan secara sosio-politis oleh Lenin dalam bentuk Negara komunis Uni Soviet.[5]

Namun demikian, segala bentuk optimisme akan kebebasan,rasionalitas, daya cipta ilmu, dan teknologi seakan-akan berbalik menjadi ancaman dengan bangkitnya rezim-rezim otoriter dan totaliter Nazisme dan Stalinisme. Segala janji tentang kebebasan social yang terkandung dalam perkembangan ilmu dan teknologi justru bermuara pada dua perang dunia. Selain itu Fritjof Capra juga menggambarkan bahwa sejak awal dua dasawarsa terakhir abad ke-20, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, kualitas lingkungan, hubungan social, ekonomi, teknologi, dan politik. Krisis tersebut merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang diyakini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia.[6]

Persoalan humanisme modern, terutama berpusat pada supremasi rasio dan otoritas subjek. Dalam system berpikir modern, ada-an (being) yang dianggap paling absolute adalah subjek itu sendiri, tempat dimana rasionalitas bersarang dan beraktivitas. Pangkal dari segala bentuk pengobjekan dan manipulasi yang membangkitkan rezim-rezim modern dan terciptanya dekadensi moral adalah subjek dan pikiran rasional manusia yang diabsolutkan. Pemahaman ini terlihat dari konsep Descartes yang membagi realitas menjadi pikiran (res cogitans) dan materi (res extensa). Dengan dictum Cogito Ergo Sum (Saya berpikir maka saya ada), Descartes menjadikan pikiran sebagai subjek; sementara realitas luar (materi) sebagai objek. Hal tersebut menunjukkan penekanannya pada superioritas rasio atas segala sesuatu.[7]

        Menurut Levin, pengertian ‘subjek’ dalam wawasan humanisme rasional Cartesian ini sebenarnya sarat dengan kekaburan dan paradox, oleh karena di satu pihak, penyanjungan kemampuan akal budi manusia yang menjadikan manusia sebagai subjek yang merdeka, self-determination dan self-affirmation merupakan awal dari keterputusan manusia dari tuhan, dilain pihak, konsep rasional ini justru diandalkan oleh Descartes sebagai perangkat untuk membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri. Model humanisme rasional Descartes ini pada perkembangan selanjutnya justru semakin ‘memperparah’ kondisi kemanusiaan, utamanya dalam menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan. Manusia kemudian hanya dihargai sebagai pengedepanan nilai-nilai rasionalitas, padahal sisi ini hanya satu bagian dari bagian lain nilai kemanusiaan. Akhirnya, dominasi rasionalitas ini ‘mematikan’ aspek spiritualitas kemanusiaan, bahkan nilai kemanusiaan itu sendiri.[8]

Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, telah memungkinkan manusia modern untuk ‘mengukir sejarahnya sendiri’ di dunia sebagai suatu proses self-determination, dengan manusia menciptakan kriteria-kriteria dan nilai-nilai untuk perkembangan diri mereka sendiri sebagai subjek yang merdeka.[9] Hal demikian, seirama dengan apa yang dikatakan oleh Arnold Toynbee, bahwa modernisme semula muncul di Barat ketika mereka berterima kasih bukan kepada Tuhan, melainkan kepada diri mereka sendiri karena mereka telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan.[10]

Lyotard lewat bukunya The Postmodern Condition, secara radikal menyerang modernism yang mengusung prinsip kesatuan ontologism semenjak era Renaisans. Menurutnya, prinsip kesatuan ontologis tidak relevan lagi dalam dunia teknologi mutakhir kini. Kekuasaan telah terbagi-bagi dan tersebar berkat demokratisasi teknologi. Karena itu, prinsip kesatuan ontologism harus didelegitimasi oleh prinsip paralogi atau prinsip yang mengakui eksistensi pluralitas anasir dan permainan, dengan logikanya masing-masing tanpa harus saling menguasai dan merepresi. Prinsip dasar modernism yang sangat menentukan arah pergerakan semesta seperti rasio, ego, ide absolute, totalitas , teleologi, oposisi biner, subjek, kemajuan sejarah linier yang disebutnya Grand Narrative telah kehilangan legitimasi dan kredibilitasnya. Cerita-cerita besar modernisme tersebut merupakan kedok semata, mistifikasi, yang bersifat ideologis, eksploitatif, dominatif, dan pseudo, tanpa peduli apa model unifikasi/universalisasi yang digunakan.[11]

Sejarah telah membuktikan kapasitas Islam untuk beradaptasi dengan realitas sosiologis dan manusia, namun memasuki masa modern dalam ipteknya khususnya sejak abad ke-19, banyak pengamat yang memandang Islam sebagai suatu masa semi-mati yang menerima pukulan-pukulan destruktif atau pengaruh-pengaruh formatif dari Barat.[12]


[1] David B. Guralnik, 1987, Webster New World Dictionary of the American Languange, New York , Warner Books, hal.387

[2] Bede Griffiths, 1989, A New Vision of Reality, London , Collins Sons & Co. Ltd, , hal.12

[3] Bertrand Russel, 2007, Sejarah Filsafat Barat, Jakarta , Pustaka Pelajar, , hal.691

[4] Griffiths, 1989, A New Vision of Reality, London , Collins Sons & Co. Ltd, , hal.12

[5] F. Budi Hardiman, 2003, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyakarta , Kanisius, , hal.133

[6] Fritjof Capra, 1997, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan, terj. M. Thoyibi, Yogyakarta , Yayasan Bentang Budaya, , hal.3

[7] Griffiths, 1989, A New Vision of Reality, London , Collins Sons & Co. Ltd, , hal.13

[8] David Michel Levin, 1988, The Opening of Vision: Nihilsm and the Postmodernism Situation, London , Routledge, , hal.3

[9] Yasraf Amir Piliang, 1999, Hiper-Realitas Kebudayaan,  Yogyakarta , LKiS, , hal.16

[10] Arnold Toynbee, 1957, A Study of History,  Oxford , Oxford University Press, , hal.148

[11] Jean Francois Lyotard, 1984, terj. Geoff Bennington dan Brian Massumi, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge,  Minneapolis , University of Minessota Press, , hal.37

[12] H. M Taufik, 2005, Pemikiran Fazlur Rahman: Modernisasi dan Integritas Intelektualisme Islam,  Jakarta , Kreasi Cerdas Utama, , hal.102

Artikel Terkini :

2 thoughts on “Refleksi Zaman Modern

  1. bagus ini. aku pernah tahu modern berarti kini, di sini, dunia sini. maksudnya pemikiran modern adalah pemikiran atau cara pandang dan pola pikir yang mementingkan kehidupan di dunia ini dibandingkan ajaran agama atau akhirat. filsafat modern menghasilkan gagasan2 seperti rasionalisme, empirisme, humanisme dan sebagainya. mereka anti tradisi, agama, kredo atau hal2 supranatural. akibatnya orang modern menjadi sekuler bahkan materialis karena memuja ilmu pengetahuan yang dianggap sebagai tiang alam semesta. orang sekuler percaya agama tapi tidak mau diatur oleh agama. mereka lebih mementingkan kehidupan dunia ini. itulah pemikiran modern.

    • Iya tp terkadang sekuler tidak sama dengan tidak bertuhan, kadang di zaman modern orng mendefinisikan beragama dengan pandangan yg berbeda itulah yang merumuskan zaman post modern (setelah modern)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s