Filsafat Paripatetik

800px-Le_Serment_du_Jeu_de_paumeFilsafat Paripatetik merupakan turunan filsafat yunani yang dianut oleh Aristoteles dan pada masa keemasan Islam filsafat ini dikenal dengan Masyaiyyah atau Filsafat Paripatetik. dan tokoh utama dari filsafat ini ialah seperti al farabi dan ibn sina.

ketika kita masuk ke dalam pembahasan filsafat kita memasuki pembahasan pemikiran, sebagaimana ada berbagai macam pikiran dan berbagai macam metodologi

ada beberapa alur bepikir yang merupakan logis eksklusif (tidak ada sesuatu diluar itu)

  • Apa dengan Apa —-> SAINS
  • Ada dengan Apa —-> Filsafat
  • Ada dengan Ada —-> Gnosis
  • Apa dengan Ada —-> Imanen

pada dasarnya “ada” harus dipelajari dengan “ada” untuk mengetahui, akan tetapi dikarenakan kita sejak lahir dan dari kecil terbiasa dengan “apa” maka untuk mengetahui “ada” kita menggunakan “apa” walaupun ke “apa” an itu akan mengantarkan kita pada “ada” dengan “ada”

filsafat mempelajari sesuatu dari mayor to minor atau deduksi dan orang berfilsafat bukan berpikir rumit akan tetapi berpikir simple

  • berpikir simple bertindak rumit
  • berpikir rumit bertindak simple
  • berpikir simple bertindak simple —> Filsafat

Filsafat mengajarkan kita mengenai cara berpikir yang benar bukan berpikir yang rumit karena filsafat merupakan cara berpikir yang aksioma-aksioma dan sangat simple hanya saja sering kali kita berpikir tidak berdasarkan metode yang benar sehingga menghasilkan kerancuan berpikir

6 thoughts on “Filsafat Paripatetik

      • Lho, yg kritiknya itu Tahafutul Falasafah. Klo Maqashidul Falasifah ini adalah semacam ringkasan adaptatif dari Alghazali, belum dimasukkan kritik di situ. Bahasanya mudah, ndak njlimet ketimbang saat kita baca Asysyifa’, misalnya.

      • Iya saya paham, masalahnya al ghazali bukan bagian dr filosof di maqashid falasifah al ghazali memandang rasionalitas filsafat islam dr kacamata rasionalitas teolog. Lbh parah di tahafut. Itulah resiko ide yg jelimet sulit di transformasikan di kata yang simple. Apalagi karya2 mulla shadra

      • Saya kok tidak berpandangan begitu, mas. Alghazali memandang rasionalitas filsafat peripatetik Islam dengan rasionalitas teolog itu hanya terjadi di Tahafutul Falasifah. Sedang di Maqashidul Falasifah, Alghazali hanya meringkas dan mengutip semata.
        Btw, Alfarabi pun salah seorang peripatetis Muslim, tapi tulisan2nya juga mudah dicerna mas. Bahkan, konon Ibn Sina sangat terbantu dengan tulisan Alfarabi mengenai pemikiran Aristoteles. Jadi, tak jadi soal bahasa yg simpel itu, menurut saya

      • Itu hanya dalam metafisik aristoteles al farabi mudah dibaca sehingga dijadikan rujukan ibn sina. Akan tetapi di karya lainnya terutama terkait emanasi jauh lbh sulit.

        Al ghazali sebatas menjelaskan pemikiran filosof muslim maka itu dia mengatakan falasifah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s