Karakteristik Cendekiawan Muslim dalam Pandangan Ali Syariati

mek_demo1979shariatikhomeinipostersAli Syariati memandang bahwa seorang cendekiawan Muslim harus memiliki beberapa karakter khusus selain “tercerahkan” akan tetapi harus mampu menanggung tugas berat yaitu menggiring umat Islam yang beku kepada progresivisme, sehingga umat Islam menjadi masayarakat yang dinamis, bukan hanya memberikan janji-janji yang bersifat abstraksi belaka tanpa aksi.

Sejak awal sejarah, di kala manusia berperan di muka bumi senantiasa terhadap masyarakat manusia dan bergerak kedua arah atau kutub yang saling berlawanan, dua front yang saling bermusuhan. Tergantung pada keadaan sosial dan historis, perang dua pihak tersebut mengambil berbagai bentuk dan gambaran. Kutub pertama merupakan kutub negatif yang diwakili oleh mereka yang menghambat kemajuan dan evolusi dengan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, dekadensi, dan penyelewengan dengan jalan menindas, memperbudak, dan memperbodoh massa kemanusiaan, dengan jalan menegakkan tirani atas rakyat, dan merampok hak-hak serta keperluan-keperluan mereka serta menanamkan benih-benih  rasisme, agresi,  dan fanatisme dalam masyarakat, keluarga, suku, ras dan lembaga-lembaga mereka. Mereka adalah pelopor-pelopor “kebajikan gelap”, kebajikan yang berasal dari supertisi, kebajikan yang dirancang  untuk melestarikan kepentingan dari tujuan mereka sendiri, bukan kepentingan dan tujuan massa manusia. Filsafat hidup mereka dan tujuan persengkokolan kolektif mereka adalah menghalangi kemajuan intelektual, ekonomi dan sosial-politik dan menghambat kemajuan massa. Keadilan universal, persatuan dan persamaan selalu ditentang dan dimusuhi oleh filsafat sosial dari kutub negatif ini, sebagaimana dapat disaksikan dalam catatan-catatan biografis mereka.[1]

Ilmu telah memperkuat atau memperkasa manusia, tetapi secara moral tetap lemah. Mungkin ia suatu ketika dapat membombardir planet Mars dari bumi; mungkin ia dapat menaklukan angkasa luar dan mengarunginya dengan mesin-mesin yang sangat ampuh yang dimonitori dari bumi. Namun sayang sekali manusia yang sangat cerdas ini secara moral sangat lemah, terikat oleh upah dan mata duitan; ia mau melakukan apa demi uang. Kadang-kadang dikatakan orang bahwa perbudakan masih dipraktekan di Afrika. Ada orang-orang yang memburu budak yang masuk ke luar desa dan hutan mencari budak dan anak-anaknya untuk dijual di pasaran gelap. Akan tetapi Ali Syariati menyaksikan jenis perbudakan lain yang sedang dipraktekan di pusat-pusat intelektual di Eropa, di Cambridge dan Sorbonne, di mana budak-budak yang diperdagangkan bukannya manusia-manusia primitif dari rimba raya Afrika, akan tetapi adalah intelektual-intelektual yang sangat pintar di muka bumi yang diletakkan dalam suatu pelelangan untuk harga yang paling tinggi. Sesungguhnya mereka sendirilah yang menawarkan dirinya untuk di lelang di hadapan barisan para kapitalis dan agen-agen korporasi dan perusahaan-perusahaan raksasa dari Amerika Serikat, Eropa, Cina, Rusia, dan  bagian-bagian lain dunia industrial.[2]

Sementara itu masalah-masalah ilmu, yang mempunyai perjalanan evolusioner berbeda, tidak dapat dilihat dalam prespektif ini. Sebagai contoh, ilmu pada abad ke-20 adalah lebih maju dari pada ilmu pada abad ke-19 dan ilmu pada abad ke-19 lebih maju dari pada ilmu pada abad ke-18. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Barat telah mengungguli Timur, karena ilmu pengetahuan bergerak lewat perjalanan evolusioner. Namun bila menyangkut masalah-masalah reflektif, moral, dan spiritual, yang berlainan dengan ilmu dan yang tidak mempunyai pola evolusioner dan perjalanan progresif dalam sejarah. Kita tidak dapat memberikan penilaian begitu saja secara mudah.[3]

Apa yang dinamakan bangsa-bangsa terbelakang, karena tidak mempunyai kecakapan teknis modern dan kualifikasi modern untuk menggali sumber-sumber mereka, terpaksa akan bergantung pada kepandaian teknis dunia Barat. Sumber-sumber mereka seringkali demikian kejam diperas oleh bangsa-bangsa Barat yang secara teknis lebih maju sehingga mereka menjadi bangsa-bangsa yang tergantung dan pasrah pada kekuatan-kekuatan luar. Bangsa-bangsa keterbelakang itu kemudian direduksi ke arah kemiskinan kultural dan materiil, kehilangan identitas kulturalnya, dan menemukan dirinya dalam keadaan bergantung pada kebudayaan asing. Berhubung Barat lebih mengetahui Timur disbanding Timur terhadap dirinya sendiri, Barat telah menunjukkan kemampuan prespektif dalam menarik gagasan-gagasan baru dan mazhab-mazhab pemikiran baru dari sumber-sumber kebudayaan dan agama kita. Dalam kenyataan, interpretasi atau penafsiran mereka tentang kebudayaan kita sendiri adalah demikian prespektif dan mendalam sehingga kita terpaksa meraih-raih sumber-sumber kesarjanaan mereka. Sementara itu kita seringkali tidak mempunyai pemahaman yang cukup bahwa akar-akar dari apa yang dianggap Barat sesungguhnya sebagian terbesar adalah Timur. Hal ini disebabkan Timur tidak mampu menemukan dan memproduksi kembali sumber-sumber kebudayaannya sendiri. Hal ini pula yang menyebabkan Timur dituduh miskin secara cultural, moral, spiritual, dan material.[4]

 

Dalam konteks ini, menarik melihat analisis Ali Syariati bahwa pada masa ini, terjadi asimilasi antara ilmu dan materi yang sepanjang sejarahnya berada pada pihak yang berlawanan. Namun kini keduanya bersatu untuk melahirkan berbagai dampak positif ataupun negatif. Di saat perjodohan itu berlangsung, telah ditetapkan pula kedudukan masing-masing unsur, siapa yang berperan sebagai suami (dipertuan), dan siapa yang menjadi istri (dikuasai). Pada tahap ini, Ali Syariati melihat bahwa ilmu menjadi pihak yang dikuasai oleh penguasa modal dan harta. Ilmu menjadi alat yang dikuasai oleh para penguasa dan dimanfaatkan untuk peperangan, dan menjadi bahan kosmetik terpenting untuk mempercantik wajah kotor dari beragam konsep dan aliran. Ali Syariati bahkan mengatakan bahwa ilmu telah menjadi alat bagi terselenggaranya perbudakan terselubung. Baginya, pasar budak yang sebenarnya kini tidak lagi berada di Afrika atau amerika Selatan, melainkan berada di pusat-pusat ilmiah seperti Universitas Cambridge, Harvard, maupun Sorbonne. Di sana diperjualbelikan budak dalam kemasan baru. Namun berbeda dengan budak kuno yang tidak mempunyai hak untuk memilih siapa majikannya, budak modern sanggup memilih sendiri majikan mana yang dikehendakinya untuk dipertuan.[5]

Finally, let us look at the gatekeeper of this paradise:capitalism, but capitalism armed with science and technology— a new magician bewitching humanity into new captivity amid the massive pitiless wheels of mechanism and techno-bureau-cracies. And man? An economic animal whose only duty is to graze in this paradise. The philosophy of “consume, consume, consume”!

And the watchwords? Liberalism! –that is, apathy. Democracy!- that is, “Elect those who have already chosen your lot for you. “Life? Material existence. Morals? Opportunism and egoism. The goal? Consumption. The philosophy of life? Satiation of the natural appetites. The ultimate aim? A life of leisure and enjoyment. Faith? Ideals? Love? The meaning of existence? The meaning of man? Forget it! But Adam rebelled, even in this paradise on earth.[6]

Jika pertanyaan tentang manusia tidak terjawab, jika manusia tidak dimengerti dan didefinisikan secara menyakinkan maka pendidikannya, betapapun modernnya, tidak akan menghasilkan kesuksesan dan manfaat sesungguhnya. Seperti telah saya tunjukkan pada kesempatan lain, alasan mengapa demikian banyak sistem pendidikan yang diaplikasikan di berbagai kawasan dunia tidak dapat mendidik manusia secara benar adalah disebabkan bahwa tujuan pokok sistem-sistem pendidikan itu bukanlah manusia itu sendiri.[7]

Ali Syariati menkankan bahwa ciri khas karakteristik dari seorang cendekiawan ialah tugasnya membangun sebuah masyarakat terutama dalam Islam yang selaras dengan nilai-nilai Islam, Ali Syariati memandang bahwa justru saat ini banyak kita temukan seorang cendekiawan yang membawa kehancuran dibandingkan sebuah kemajuan, ketika terjadi pengkhianatan intelektual dari seorang cendekiawan oleh para borjuis yang dapat membelinya dengan uang.

Permasalahan ini merupakan permasalahan sental, karena begitu pentingnya peran cendekiawan di tengah umat Islam, sehingga ketika cendekiawan itu melakukan pengkhianatan intelektual maka akan memberikan dampak dekadensi moral, perbudakan, dan kejumudan. Pada saat seperti itu seorang cendekiawan menjadi antitesis dengan tujuan mulia Islam mengantarkan masyarakat kepada kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Peranan Cendekiawan Muslim dalam Rekonstruksi Pendidikan di Zaman Modern

Ali Syariati memandang bahwa faktor pertama yang memajukan suatu pandangan hidup materialistis adalah ilmu atau sains. Faktor kedua adalah sosialisme, setelah mendasarkan prinsip-prinsip pokoknya atas materialisme, sosialisme muncul sebagai sesuatu kekuatan yang tangguh dalam melawan agama pada abad ke-19. Dengan perkataan lain. Baik kecermatan ilmiah maupun pandangan hidup filosofis, demikian juga pandangan tentang manusia, sangat dipengaruhi oleh spirit zaman yang sangat dominan dan spirit ini, atau kecermatan zaman, sudah barang tentu didorong oleh pertumbuhan dan kemajuan peradaban Barat. Aspek menonjol dari zaman itu adalah bangkitnya kaum borjuis baru di dunia Barat pada abad ke-19.[8]

Ketika periode zaman tengah mencapai ujung akhirnya, bintang-bintang baru muncul di puncak piramid membicarakan zaman baru yang segera datang. Bertentangan dengan semangat yang ada pada waktu itu mereka bersikap memikirkan masa depan. Mereka yakin bahwa ilmu harus dibebaskan dari kungkungan gereja, supaya ilmu dapat mengalami sekularisasi dan berkembang melampaui kerangka-kerangka yang telah ditetapkan oleh gereja. Ilmu harus digunakan untuk mengabdi manusia, hanya saja kaum gerejani yang sudah mapan telah memisahkan Sains dari kehidupan dan membatasinya untuk kepentingan agama, agar ilmu dapat membenarkan agama dan melayani kepentingan-kepentingan gereja sebagaimana diinginkan oleh gereja.[9]

Realitas yang kita hadapi di dunia sekarang di Timur, dan khususnya di masyarakat Islam dan Iran, kontradiksi yang tampil, krisis-krisis perubahan, datang dari hancurnya kualitas manusia. Itu datang dari penciptaan agitasi (hasutan) yang sangat kuat yang mempengaruhi jalan perilaku suatu masyarakat dan jalan-jalan pemikirannya. Pada prinsipnya bentuk manusiawi yang berubah-ubah telah menghasilkan suatu tipe khusus lelaki dan perempuan terdidik secara intelektual, modernis, yang menentang laki-laki atau wanita tradisional. Kontradiksi ini terpaksa menjadi ada. Tak ada yang cukup mampu menghentikannya. Itu suatu paksaan yang tiada suatu kekuatan dapat mencegahnya.[10]

Persoalan pandangan dunia (vision de monde) perlu dibahas sebagai masalah filosofis, sosiologis, dan antropologis. Manusia tidak pernah melihat dunia sebagaimana Ilmu Geografi mendefinisikan dan melukiskannya. Pandangan dunia dari seorang individu seringkali dipengaruhi oleh aspek-aspek spiritual dan materiil yang khas dari masyarakatnya.[11]

Ali Syariati memandang sebagai cendekiawan, anda tidak diharapkan hanya sebagai penonton. Peranan anda adalah membantu masyarakat berkembang lebih cepat dengan cara mengenalnya, mempengaruhinya, dan memanfaatkannya, serta mengaktifkan organ-organ dan hubungan sosialnya, sehingga ia tidak tertinggal di belakang dunia modern.

Dengan cara ini ia tidak perlu melalui semua periode dan tahap-tahap sejarah secara berurutan. Ada beberapa masyarakat seperti itu di Timur jauh yang tidak mengalami perubahan apapun yang cukup menentukan sampai munculnya abad ini. Selama dua ribu enam ratus tahun sampai waktu belakangan ini, sejak zaman Konfusius, mereka tidak berubah sama sekali, sementara di Eropa, di Iran dan di Mesopotamia, dan di India ratusan peradaban dengan berbagai tingkatan telah berkembang dan laju. Akan tetapi suatu lompatan sosial dan kultural luar biasa secara tiba-tiba melakukan revolusi atas mereka dengan cara perubahan sosial dan politik sedemikian rupa sehingga masa seribu tahun ditinggalkan di belakang dan peradaban modern dapat dikejar. Melalui peran intelektual sajalah lompatan semacam itu dapat dilakukan sehingga determinisme  historis dapat dikuasai, dimodifikasi atau dipotong, dan kemajuan besar dalam masyarakat dapat diharapkan dengan sukses besar.[12]

Pada abad ke-18 dan 19, di masa kejayaan Renaissance, kaum intelektual banyak yang tertipu ketika agama, setelah kehilangan esensi yang sesungguhnya, diubah menjadi sebuah bentuk spiritualitas palsu. Atau ia diubah menjadi semacam humanisme yang sesuai dengan ilmu positif dan rasionalisme dengan elemen-elemen yang diturunkan dari logika dialektik dan instink manusia. Dua faktor luar yang menyebabkan penipuan terbesar dalam sejarah ini telah diabaikan demikian luas oleh para intelektual dan pemikir zaman kita sehingga saya perlu membahasnya sebagai teori atau sebagai sudut pandangan pribadi. Teori ini melihat bahwa pandangan-pandangan dunia yang materialistis dan anti agama adalah juga dualistik dan semua ini merupakan pandangan hidup praktis dari kelas penguasa modern dalam berbagai masyarakat dunia.[13]

Perbedaan seperti itu antara kaum intelektual dan gerejani dan para bintang yang bangkit pada ujung terakhir periode zaman itu sesungguhnya mencerminkan konflik besar antara Zaman Pertengahan dan Zaman Renaissance. Adalah para bintang baru yang melakukan intensifikasi konflik itu dan menyebabkan terbenamnya zaman pertengahan. Individu-individu seperti Kepler, Galileo, Descartes, Kant, Francis Bacon, Roger Bacon, dan tokoh-tokoh lainnya yang cukup terkenal di Zaman Renaissance merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam zaman itu. Merekalah yang menyebabkan jatuhnya gereja Zaman Pertengahan dengan Teokrasinya dan kaum intelektual Gerejaninya yang telah bercokol, para bintang itu memotong tangan Paus yang agresif dengan segala tanduk serakahnya dalam kehidupan intelektual, moral,  mental, dan sosial masyarakat. Dengan datangnya zaman baru maka seni, sastra, filsafat, dan Sains mengubah arah dan tujuan yang lama. Dengan munculnya Renaissance para seniman, cendekiawan, dan penulis menjadi bebas, mereka juga membebaskan seni, ilmu, dan sastra dari kerangka-kerangka tradisi Zaman Pertengahan yang serba kaku. Mereka menghidupkan kembali semangat vital klasikisme serta mengubah penyelidikan tentang metafisika menjadi penyelidikan tentang hukum-hukum fisis dan hukum-hukum material dari alam yang mendorong kemajuan ekonomi.[14]

 

Jika masyarakat barat kontemporer kita lihat berdasarkan pendekatan piramidis, kita akan melihat bahwa lapisan intelektualnya sama dengan lapisan intelektual pada abad-abad ke-17, 18, 19, dan awal abad ke-20 di mana karakteristik-karakteristiknya mengalami titik puncak pada abad ke-19. Saintisme, Konsumerisme, dan Uang! Uang!, membentuk unsur-unsur pokok filsafat hidupnya.

Akan tetapi dalam masyarakat ini bintang-bintang tertentu yang terpisah-pisah ini mulai bermunculan di atas lapisan kelas cendekiawan dan memainkan peranan sama seperti yang telah dimainkan oleh bintang-bintang yang berserakan, yang muncul pada akhir zaman pertengahan. Bintang-bintang baru itu berpikir dan bertindak berbeda dari apa yang telah dilakukan oleh kelas cendekiawan yang telah mapan. Perenungan, ramalan, pandangan, perasaan, asumsi-asumsi ilmiah, ideologi, dan konsep-konsep mereka tentang kehidupan dan peradaban modern selalu bertentangan dengan kaum cendekiawan pada umumnya pada masa kita.[15]

Nilai-nilai kultural kita itulah yang sesungguhnya mendorong pembentukan dan pendewasaan kepribadian kita. Akan tetapi kita telah lama dipisahkan dari nilai-nilai ini, karena itu tampak kita tidak memiliki kepribadian. Pertama-tama jurang antara masa lalu kita dan masa kini yang membingungkan harus dijembatani agar masa lalu itu dapat dihayati dan ditemukan dalam masa kini. Kita harus menemukan diri kita sendiri dalam konvergensi antara masa lampau dan masa kini agar dapat memperoleh kemampuan dan kekuatan untuk memilih bagi diri kita sendiri. Disamping itu semua, kita harus menyadari kenyataan bahwa sejumlah besar nilai-nilai historis, religius, esoterik, dan sastra yang kita miliki, yang telah mengalami degenerasi dan menjadi pemikiran-pemikiran dekaden, penuh takhayul dan menidurkan, harus diregenerasi menjadi kekuatan-kekuatan yang kreatif, produktif, dan konstruktif. Pendek kata masa lalu harus dipersegar dan dibangkitkan dengan suatu semangat yang kreatif dan dinamik. Bagaikan seorang insinyur, kaum cendekiawan harus memainkan peranan menyusun, menata dan membentuk barang-barang dari bahan mentah dan gagasan-gagasan. Ia bertanggung jawab mengubah bahan-bahan mentah kebudayaannya menjadi energi yang konstruktif, kreatif, berkembang dan menerangi, kendatipun di atas permukaan bahan-bahan mentah kebudayaan itu kelihatan remeh dan tidak menarik. Ia harus mengabdikan dirinya pada usaha menghidupkan kembali masa lalu dan kemudian membangun masa sekarang di atas fondasi yang kokoh dari warisan kulturalnya, jika ia memang ingin menghidupkan esensi intelektual yang sejati.[16]

Akan tetapi zaman Renaissance, abad-abad ke -15 dan 16 adalah periode sejarah dimana Eropa menemukan kesadarannya. Ia adalah periode dimana suatu generasi mulai mengalami proses menjadi, proses penemuan dirinya, dan proses gerak dari tradisi ke ideologi.

Dewasa ini kaum intelektual dari masyarakat kita sedang mengalami transisi yang sama, bergerak maju dari agama dan keyakinan tradisional kearah ideologi dan pemikiran-pemikiran baru. Namun transisi ini tidak berarti bahwa mereka lantas membuang sama sekali agama lama. Jika memperoleh bimbingan yang benar, keberangkatan dari agama tradisional ini akan berubah menjadi fase atau tahap yang paling efektif, angkatan muda akan melewati tahap ini menuju agama yang mereka pilih sendiri. Dengan kata lain, pikiran yang segar harus dibebaskan dari kerangka-kerangka kaku agama tradisional sehingga angkatan muda dapat menerima Islam dalam bentuknya yang paling sublim atau paling mulia, yang merupakan bentuk ideologi.[17]

Infrastruktur dalam sistem keyakinan Islam adalah pandangan dunia tauhid, sedangkan suprastrukturnya adalah Islam sebagai ideologi. Esposito mengatakan bahwa Ali Syariati mengajarkan apa yang dapat diistilahkan sebagai teologi pembebasan, yang menggabungkan penafsiran kembali atas keyakinan Islam dengan pemikiran sosiopolitik modern. Sedangkan ideologi Islam yang dibawanya dimaksudkan untuk membebaskan bangsa Iran, sebagai individu-individu dan sebagai komunitas, dari penindasan politik dan asimilasi budaya.[18]

Pada dasarnya, kewajiban agama monoteisme adalah pemberontakan, penolakan, dan berkata tidak di hadapan kekuasaan yang lain. Sebaliknya, bertentangan dengan penyembahan Tuhan, ada penyembahan pemimpin arogan yang memberontak melawan perintah-perintah Tuhan, taghut yang menyeru umat manusia untuk melawan sistem kebenaran yang mengatur alam dan kehidupan manusia, menimbulkan perbudakan, dan berbagai macam berhala yang mewakili berbagai kekuasaan masyarakat.[19]

Akan tetapi, memahami Islam dalam artian sebuah ideologi sesungguhnya memiliki cara yang berbeda. Hal tersebut, dikarenakan Islam sebagai bentuk ideologi, bukan sebuah spesialisasi ilmiah. Islam sebagai bentuk perasaan seseorang berkenaan mazhab pemikiran sebagai suatu sistem keyakinan, bukan sebagai suatu kebudayaan, Islam sebagai bentuk ide, bukan sebagai kumpulan ilmu, Islam sebagai bentuk gerakan kemanusiaan, historis, dan intelektual, bukan sebagai gudang informasi teknis dan ilmiah, dan sampai pada pandangan bahwa Islam sebagai bentuk ideologi dalam pikiran seorang intelektual, bukan lagi sebagai ilmu-ilmu agama kuno dalam pikiran seorang ahli agama.[20]

Ali Syariati memandang bahwa ideologi Islam sejalan dengan semangat pembaruan dan itu merupakan tugas utama seorang cendekiawan bagaimana mereka berperan aktif dalam meramu sebuah ideologi baru yang dibentuk sesuai zamannya tanpa menghilangkan esensi dari nilai-nilai ideologi yang lama, dengan cara itu seorang cendekiawan dapat mengantarkan umat Islam kepada kemajuan dan menjadi masyarakat yang dinamis.

Rekonstruksi masyarakat merupakan hal yang kompleks salah satu jalan untuk membangun suatu masyarakat ialah lewat pendidikan, rekonstruksi pendidikan merupakan hal yang menurut Ali Syariati sangat efektif sebagaimana yang dilakukan Barat pada zaman Renaissance yaitu mengembalikkan ilmu pengetahuan ke koridor yang seharusnya sehingga ilmu pengetahuan dapat bergerak maju tanpa hambata dari gereja.


[1] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.30-31

[2] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.78

[3] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.124

[4] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.126

[5] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.38-39

[6] Ali Syariati, 1980, Marxism and Other Western Fallacies, Mizan Press, Berkeley, hal.39-40

[7] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.50

[8] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.40

[9] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.99

[10] Ali Syariati, 2008, Fatimah az-Zahra, Zahra, Jakarta, hal.62

[11] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.17

[12] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 213

[13] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.40

[14] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.101-102

[15] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.108

[16] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.152

[17] Ali Syariati, 2001, Tugas Cendikiawan Muslim, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.177

[18] John L. Esposito, 1986, What Is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance, The Institute for Research and Islamic Studies, Texas, hal.xi

[19] Ali Syariati, 2000, Agama Versus  “Agama”, Pustaka Hidayah, Bandung, hal. 19

[20] Ali Syariati, 1995, Islam Mazhab Peradaban dan Aksi, Mizan, Bandung, hal. 18

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s