Abu Yazid Al-Bisthami

rumi3Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur ibn ‘Isa ibn Surusyan al Bisthami. Kakeknya adalah penganut Zoroastrian, yang menurut riwayat memeluk Islam dan kemudian menjadi muslim yang taat. Ayahnya juga merupakan tokoh terkenal di Bistam sementara ibunya dikenal sebagai wanita zuhud yang menjaga kehormatannya.

Abu Yazid adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Adam dan adiknya Ali. Ketiganya tergolong orang-orang yang ahli ibadah dan ahli zuhud. Hanya, menurut al-Qushayri, Abu yazid yg paling tinggi tingkatan mistiknya.

Sebagian orang mengatakan Abu Yazid meninggal pada tahun 261 H, sebagian yang lain mengatakan tahun 234 H ketika berusia 73. Beliau dimakamkan di Bistham, kota kelahirannya, dan hingga saat ini makamnya masih sering diziarahi orang-orang. Makamnya terletak di tengah kota dan  berdampingan dengan Nasiri, Khusraw, al-Hujawiri dan Yaqut. Pada tahun 1313 H, di atas makam itu didirikan sebuah kubah yang indah, oleh seorang sultan Mongol, Muhammmad Khudabanda atas nasihat gurunya al-Shaykh Sharaf al-Din, salah seorang keturunan dari Bistham.

Riwayat Pendidikan

Ketika mencapai usia sekolah, ibunya memasukkannya ke sebuah sekolah. Pada suatu hari, pembahasan di sekolah itu sampai pada QS Luqman: 14

“Dan kemi perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”

Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid, sehinga ia memohon izin untuk pulang kepada gurunya dan diizinkan. Sesampainya di rumah ibunya menyambutnya dan menanyakan kepulangannya. Abu yazid segera berkata, “pelajaranku telah sampai pada ayat tentang perintah Allah agar aku berbakti kepada-Nya dan kepadamu. Akan tetapi aku tidak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah diriku kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkan aku kepada Allah semata seingga aku dapat hidup hanya untuk Dia.”

Ibunya menjawab, “Anakku, aku serahkan engkau kepada Allah dan aku bebaskan engkau dari semua kewajibanmu kepadaku. Pergilah kau dan jadilah seorang hamba Allah”.

Setelah ibunya menyerahkan Abu Yazid pada Allah, maka ia merantau selama tiga puluh tahun dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang dan bertirakat di malam hari.

Abu Yazid mendatangi 113 pembimbing spiritual, dan mengambil manfaat dari semuanya.

Salah satunya memiliki gelar ash-shadiq. Abu Yazid tengah duduk ketika gurunya tiba-tiba berkata, “Abu Yazid, ambilkan aku buku dari jendela itu”

“Jendela? Jendela yang mana?” tanya Abu Yazid

Gurunya balik bertanya, “Selama ini kau datang ke sini tidak pernah melihat jendela itu?”

“Tidak pernah,” jawab Abu Yazid. “Apa urusanku dengan jendela, ketika aku berada di hadapanmu aku menutup mataku dari hal-hal lain. Aku bukan datang untuk melihat-lihat.”

Mendengar jawaban Abu Yazid, gurunya berkata,“Kalau begitu, pulanglah ke Bistham, usahamu telah sempurna.”

Syatahat Abu Yazid

Syatahat ini mengungkapkan persatuan mistis:

Suatu ketika ia mengangkatku, menempatkanku di hadapannya dan berkata, “Wahai Abu Yazid, ciptaanku akan senang mencarimu.”

Aku berkata, “Hiasi aku dengan kesatuanmu, liputi aku dengan pakaian egomu dan angkatlah aku menuju kesatuanmu, sehingga ketika ciptaanmu melihatku, mereka akan berkata, “Kami telah melihatmu”; engkaulah yang terlihat, sedangkan aku tak ada lagi di sana.

Junayd menanggapi syatahat ini dengan mengatakan bahwa, Abu Yazid telah mencapai maqam yang dekat dengan Tuhan tapi tidak berada di dalamnya.

Sementara al-Sarraj menyatakan pernyataan yang lebih membela Abu Yazid dengan hadits Rasulullah,

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa nabi saaw berkata saat hendak mendirikan salat, “Aku berdiri di hadapan Raja Yang Mahakuasa”

Menurut Sarraj, ungkapan Abu Yazid itu merupakan percakapan intim antara ia dengan Tuhan.

Syatahat Yang Lain

Diantara syatahat Abu Yazid yang disyarah oleh Junayd dan disyarah kembali oleh Sarraj adalah;

Syaikh (yaitu Sarraj sendiri) berkata, “Aku berkata—dan telah diriwayatkan darinya—bahwa Abu Yazid berkata:

  “seketika saat aku tiba dalam keesaannya aku menjadi burung bertubuh kesatuan dengannya (ittihad) dan bersayap keabadian. Lalu aku terus terbang menuju eter (ruang cakrawala) kebagaimanaan (kaifiyyah) selama sepuluh tahun hingga aku mencapai cakrawala itu ribuan kali. Aku terus terbang tanpa henti sehingga aku mencapai ruang keazailan dan melihat pohon kesatuan (tauhid).

Selanjutnya ia menjelaskan bagian-bagian dari pohon itu, seperti akar-akarnya, tangkai, batang, dahan, dan buanya, lalu berkata, “Lalu aku melihat dan mengetahui bahawa semua itu hanyalah tipuan.”

Mengomentari ini, Junayd menyatakan bahwa kata-kata Abu Yazid ini menunjukkan kejap pertama ia dalam tauhid. Ia menjelaskan apa yang ia lihat, memaparkan tujuannya dalam kondisi pencapaian itu serta kemenetapannya di tempat yang sementara. Semua itu hanyalah satu titik kecil sepanjang perjalanan orang-orang yang terpanggil untuk menemukan hakikat ilmu tauhid dengan tanda-tanda yang terlihat dari makna-maknanya.

Sementara Sarraj mengungkapkan, bahwa kata-kata Abu Yazid yang sebenarnya kontroversial adalah pernyataannya sebagai burung  yang tak pernah berhenti terbang.

Hal ini bukan menunjukkan penerbangan fisik yang dilakukan oleh seorang manusia, melainkan hati, jiwa atau pikirannya yang terbang meninggalkan dunia ini. Dalam ungkapannya yang menghubungkan sayap dan tubuhnya dengan keesaan dan keabadian bermakna bahwa ia menelanjangi dirinya dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri dalam perjalanan terbangnya, yakni untuk mencari tujuan terakhirnya.

Kontroversi

Diantara syatahat Abu Yazid yang menuai kontroversi adalah ketika Abu Yazid mengucapkan “subhanii”

Ibn Salim menyebutkan bahwa ucapan Abu Yazid itu adalah ucapan kekafiran. Bahkan lebih kafir dari Firaun yang pernah berkata “Akulah tuanmu yang paling tinggi”

Menanggapi hal ini, Sarraj mengungkapkan bahwa tidak ada yang dapat memastikan bahwa pada saat itu Allah tengah memuji DiriNya sendiri melalui lidah Abu Yazid atau ungkapan itu murni ungkapan Abu Yazid sendiri. Akan tetapi, tampak tidak masuk akal jika kita mengkafirkan seseroang yang terkenal dengan kesalihan, ibadah, pengetahuan dan kedalaman ilmunya.

Dalam buku Madjid Fakhri, a history of Islamic Philosophy; dituliskan bahwa Nicholson dan R.C.Zaehner mengatakan bahwa konsep-konsep tasawuf Abu Yazid al-Busthami dipengaruhi oleh mistik Hindu, India yang diperoleh dari gurunya Abu ‘Ali al-Sind.

Annemarie Schimmel meragukan bahwa al-Sind dalam nama Abu ‘Ali al-Sind merujuk pada dataran Hindus. Ia lebih cenderung menyebutkan bahwa Sind merupakan nama desa yang tak jauh dari Bistham. Hal ini dikarenakan secara geografis terlalu jauh jarak kedua tempat tersebut.

Menyinggung mengenai persamaan ajaran antara al-fana dan nirwana, A.J Arberry menyatakan bahwa keduanya berbeda.

Nirwana merujuk pada hilangnya kepribadian

Sementara al-fana merupakan hilangnya kesadaran seorang sufi akan wujud kasarnya, kemudian ia merasa terus hidup.

Dalam mengemukakan pendapatnya terhadap syatahat Abu Yazid, Sarraj menggunakan hadits Qudsi berikut ini,

Hamba-Ku terus berupaya mendekat kepada-Ku melalui penyerahan diri (ibadah) sepenuhnya sehingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi mata yang dengannya ia melihat, menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, dan menjadi tangan yang dengannya ia menggenggam.

Maka menurut Sarraj menjadi tidak aneh apabila Abu Yazid dengan ketinggian spiritualnya, mengungkapkan syatahat-syatahat terkadang menuai kontroversial. Karena ketika ia sedang berada dalam kondisi fana, mabuk ia bahkan tidak menyadari apa yang ia katakan.

Pemikiran Abu Yazid

Abu Yazid adalah pionir pemikiran sufistik al-fana, al-baqa dan al-ittihad. Maksudnya menghilangkan kesadaran terhadap dirinya sendiri dan alam sekitarnya (fana) yang kemudian ia akan kekal dalam Tuhan (baqa). Sehingga pada level ini, tidak adal lagi sifat buruk dalam dirinya. Semua sifat yang ia miliki adalah sifat Allah.

Al-ittihad, dalam istilah Abu Yazid yaitu penyatuan dengan Allah tanpa diperantarai oleh suatu apa pun.

Salah satu syatahat Abu Yazid adalah ‘Aku telah keluar dari Abu Yazidku seperti ular keluar dari kulitnya. Dalam pandanganku yang mencintai dan dicintai itu sendiri adalah satu karena seluruhnya telah menjadi satu dalam penyatuan. Ular tidak bisa dilihat dzatnya karena ia terbungkus dengan sifatnya yang merupakan sarung. Apabila ular itu sudah terpisah dari sarungnya, barulah ia berkata, “akulah ular.”

Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa rohani merupakan bagian terdalam dari diri manusia. Di samping terbungkus oleh jasad kasar dan komponen-komponennya, ia juga terbungkus oleh sifat-sifat kemanusiaannya. Dalam kondisi ittihad, rohani Abu Yazid telah keluar dari dirinya. Pada saat seperti inilah terjadi penyatuan dengan Tuhan.

Berkaitan dengan kata-kata ‘aneh’ yang sering diucapkan oleh Abu Yazid, dikalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Junayd misalnya, menyampaikan kritik atau penafsiran yang negatif terhadap kata-kata ‘aneh’ itu. Sementara Sarraj mengungkapkan bahwa, ketinggian spiritual Abu Yazid hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang telah mencapai maqam itu. Kritik dan celaan yang datang bertubi-tubi terhadap seseorang yang anggota tubuhnya terkendali dan dibimbing oleh pengetahuan serta adab merupakan kesalahan bagi orang yang berilmu, kekeliruan bagi seorang suci, dan kesalahan yang jelas bagi orang pintar. ucapan dan celaan itu datang dari orang-orang yang tidak menggunakan perspektif pengetahuan orang pertama (Abu Yazid) sehingga dalam mengkritiknya pun terdapat kerancuan.

Artikel Terkini :

2 thoughts on “Abu Yazid Al-Bisthami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s