Sigmund Freud dan Agama

portrait-freud

Sigmund Freud (1856-1939) adalah seorang psikolog dari Vienna, Austria yang pada abad ke-19 telah menggemparkan dunia kedokteran dan masyarakat umum dengan analisa baru tentang kepribadian manusia. Freud dilahirkan di Moravia pada tahun 1856, bagian dari Eropa Tengah yang kemudian berada dibawah kekuasaan kerajaan Austro-Hongaria[1] keluarganya adalah penganut agama Yahudi. Pekerjaan utama Freud adalah dokter, khususnya dalam bidang riset tentang otak manusia.

Setelah mengembangkan ide dasarnya tentang psikoanalisa, Freud menempatkan agama sebagai satu objek studi lanjutan yang menantang. Semasa kanak-kanak, dia telah mendapatkan pengetahuan dasar agama Yahudi. Walaupun sebagian besar dari keluarganya tidak saleh, dia memahami betul isi cerita dan tulisan perjanjian lama[2].

Freud sendiri merupakan penolak yang begitu kompleks terhadap agama. Para penulis biografi yang sangat dekat dengan Freud mengatakan dengan terus terang bahwa Freud menjalani hidup semenjak awal sampai akhir hayatnya sebagai seorang yang benar-benar ateis[3]. Freud tidak menemukan satu pun alasan untuk percaya kepada Tuhan. Freud menyimpulkan perilaku orang beragama mirip dengan tingkah laku pasien neurotisnya. Misalnya, keduanya sama-sama menekankan bentuk seremonial dalam melakukan sesuatu, dan sama-sama akan merasa bersalah seandainya tidak melakukan ritual-ritual tersebut dengan sempurna (Obsessive Actions and Religious Practices, 1907).

Dalam kedua kasus itu, upacara-upacara yang dilakukan juga diasosiasikan dengan represi terhadap dorongan dasariah. Gangguan psikologi biasanya muncul dari ketertekanan hasrat seksual, sedangkan dalam agama sebagai akibat ketertekanan diri (ke “aku” an), yaitu pengontrolan diri terhadap insting-ego. Jadi, jika represi seksual terjadi dalam gangguan obsesi mental diri seseorang, maka agama yang dipraktekan oleh lebih banyak kalangan bisa dikatakan sebagai gangguan obsesi mental secara universal[4], perbandingan ini merupakan tema kunci dalam seluruh tulisan Freud tentang agama. Dalam pandangannya perilaku agama selalu mirip dengan penyakit jiwa. Maka konsep yang paling tepat untuk menjelaskan agama adalah konsep-konsep yang telah dikembangkan dalam psikoanalisa

Agama akan menjadi penyakit saraf yang menganggu manusia sedunia[5]


[1] Rieff, Phillip, 1979, Freud: The Mind of the Moralist, edisi ke-3 (London: Hogarth Press)

[2] Bakan, David. 1958, Sigmund Freud and the Jewish Mystical Tradition, (Princetown, NJ: D. Van Nostrand Company, Inc)

[3] Jones, Life and Work of Freud, 3:351

[4] Freud, 1907, Obsessive Actions and Religious Practices, dalam Standard Edition, jilid 9, hlm. 126

[5] The Future of an Illusion, dalam The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s