Mengenal Islam Syiah

A Shia Muslim man in prayer in IraqAWALPERPECAHAN UMAT ISLAM [1]

Setelah Rasulullah meninggal dunia, umat Islam mulai disibukkan dengan berbagai hal yang berdampak memecah belah umat itu sendiri. Salah satunya adalah peristiwa Saqifah Bani Saidah, dimana kaum Anshar berkumpul di tempat tersebut dan melakukan pemilihan siapa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Meskipun pada saat yang sama keluarga Rasul yang terdiri atas Ali bin Abi Thalib, Fathimah az-Zahra, keluarga-keluarga lain, juga beberapa sahabat dekat beliau sedang sibuk memersiapkan pemakaman Rasulullah.

Kaum Anshar di Balairung Bani Saidah telah memilih Saad bin Ubadah yang berasal dari kaum Anshar juga sebagai khalifah mereka. Mendengar berita tersebut, Umar ibn Khaththab mengajak Abu Bakar untuk datang mengunjungi Balairung tersebut dan melihat apa yang sedang dilakukan umat di sana. Namun, di Balairung tersebut, Umar menyatakan ketidaksetujuannya atas hasil pemilihan kaum Anshar. Umar menyatakan bahwa Rasulullah berasal dari Suku Quraisy, sehingga yang berhak menggantikan beliau hendaklah berasal dari Suku Quraisy juga. Umar menunjuk Abu Bakar sebagai orang yang pantas menggantikan Rasulullah dan menjabat sebagai khalifah. Selain itu, Umar juga menjadi orang yang pertama kali melakukan baiat terhadap Abu Bakar.

Melihat peristiwa tersebut, Kaum Anshar sendiri terbagi ke dalam dua kubu. Satu kubu sepakat dengan Umar, mengenai pengangkatan Abu bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah, sementara kubu lain tetap berpegang pada keyakinan pertama mereka, hasil musyawarah sebelumnya bahwa yang Saad bin Ubadah yang berhak menjadi khalifah pengganti Rasulullah. Sebagian orang yang setuju dengan Umar langsung membaiat Abu Bakar, dan sebagian lain meninggalkan balairung dikarenakan oleh ketidaksetujuan mereka atas tindakan Umar.

Dalam keadaan seperti itu, tidak satu pun dari umat Islam itu yang ingat untuk menguburkan jasad Rasulullah. Sementara keluarga nabi sedang dalam proses pemakaman, Umat malah melakukan pertemuan membahas siapa pengganti Rasulullah. Seolah gema nama Rasulullah hilang bersamaan dengan naiknya Ruh Suci beliau ke Rahmatullah, bertemu Yang Maha Kuasa. Umat Islam tidak lagi menghiraukan junjungan mereka yang jasadnya masih belum terkubur dnegan tenang, namun mereka disibukkan oleh rayuan kekuasaan.

Demikianlah awal mula perpecahan yang terjadi diantara umat Muslim. Keluarga nabi yang masih sibuk mengurusi jenasah beliau adalah Ahl Bayt Nabi, yang sebenarnya telah mengemban amanah kepemimpinan yang diributkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar di Balairung Bani Saidah. Imam Ali bin Abi Thalib telah ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’, di Ghadir Khum, sebuah tempat lapang dimana Rasulullah memerintahkan umatnya untuk beristirahat sejenak dan beliau berpidato ‘man kuntu mawla fa hadza ‘aliyyun mawla’, barang siapa yang menganggapku sebagai pemimpinnya, maka ia juga menganggap Ali sebagai pemimpinnya. Pernyataan ini menjelaskan bahwa pada saat itu juga Rasulullah mengangkat Imam Ali sebagai pengganti beliau. Namun entah tidak sadar atau tidak mau menyadari pernyataan tersebut, Umat Islam disibukkan oleh hal-hal lain yang bersifat duniawi menggoda mereka untuk melupakan pidato terakhir nabi tersebut.

Demikianlah sedikit kisah mengenai awal mula perpecahan yang terjadi diantara umat muslim. Perpecahan ini merupakan kejadian yang disebabkan oleh umat Islam itu sendiri. Padahal sebenarnya Rasulullah telah memberikan wasiat kepada umat mengenai siapa yang berhak menjadi penggantinya, tetapi secepat Rasul pergi, secepat itu pula mereka melupakan pernyataan tersebut.

Meskipun demikian, pada akhirnya Imam Ali tidak menjabat sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rasulullah. Meskipun demikian Imam Ali memilih untuk tidak masuk dalam konfrontasi politis dengan kaum penentang kepemimpinan beliau. Imam Ali memilih untuk memberikan nasihat dan konsultasi kepada Khalifah Abu Bakar dan Umar. Yang menjadi perhatian utama Imam Ali adalah kesejahteraan kaum muslimin. “Demi Allah akan aku jauhi konflik sepanjang kepentingan kaum muslimin terlindungi”[2]

APAKAH SYIAH ITU?

Menurut az-Zajaj yang dikutip oleh Hashim al-Musawi (2008:19) syiah adalah pengikut dan pendukung setia seseorang. Definisi lain disampaikan oleh al-Azhari yaitu syiah adalah orang yang mengikuti ahlul Bayt Nabi. ‘Bila seseorang disebut syiah itu berarti dia adalah satu dari mereka yaitu penganut mazhab syiah. Sebutan syiah ini berasal dari masyaiah yang artinya kesetiaan’.[3]

Seorang Filosof besar Iran Muhammad Baqir ash-Shadr juga mengungkapkan tentang syiah, yaitu bahwa kaum muslim yang tidak memilih Ali sebagai penerus kepemimpinan mambenarkan ini dengan membolehkan penyimpulan yang berbeda dengan pernyataan-petnyataan nabi yang menguatkan kepemimpinan Ali sepeninggal beliau. [4]

Syiah adalah sebuah kelompok teologi yang menyatakan bahwa mereka adalah pengikut setia Imam Ali dan pada keluarga nabi, atau yang kemudian dikenal dengan sebutan ahlul bayt. Perjalanan sejarah menceritakan bahwa syiah berpusat pada Imam Ali sebagai Imam pertama setelah wafatnya Rasulullah. Semua pengikut syiah memercayai Ali sebagai orang yang berhak menjabat sebagai khalifah sesuai dengan amanat yang disampaikan Rasulullah sebelum beliau meninggal.

SIAPA SAJAKAH YANG DISEBUT DENGAN SYIAH?                                                                     

Syiah artinya pengikut, atau orang yang mengikuti ajaran tertentu. Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa orang-orang menyebut kelompok atau golongan yang setia pada Imam Ali dan putera-puteranya sebagai syiah. Semua orang yang merasa dan mengaku sebagai pengikut keluarga Rasulullah sampai saat ini disebut sebagai penganut mazhab syiah.

Perpecahan dalam Islam

Selama kekhalifahan Usman, Imam Ali adalah penasihat bagi pemerintahan Usman. Beliau tidak memaksa untuk mengambil kekuasaan yang seharusnya menjadi hak beliau. Imam Ali tetap memilih untuk mengedepankan kepentingan umat.

Setelah kekhalifahan Usman, Imam Ali menjabat sebagai khalifah. Selama masa pemerintahan beliau, seorang Gubernur melakukan pemberontakan sehingga terjadi peperangan dan dalam menempuh perdamaian karena kelicikan Muawiyah, gubernur tersebut, terjadi arbitrase yang menyebabkan perpecahan diantara pengikut Imam Ali itu sendiri.

Kaum Khawarij menganggap sesat Imam Ali karena menerima arbitrase tersebut dan menganggap Imam Ali dan Syiahnya telah melakukan dosa besar, setiap orang yang telah melakukan dosa besar dianggap telah kafir. Tanpa berusaha untuk mencari tahu mengenai penyebab Imam Ali menerima arbitrase tersebut, kaum Khawarij telah meng-kafirkan Imam Ali.

Selain Kaum Khawarij, di badan syiah juga terjadi perpecahan lain, diantaranya adalah munculnya syiah Zaidiyah dan Syiah Ismailiyah. Masing-masing muncul dengan alasan tidak menerima Imam penerus telah dipilih sebagai Imam mereka, tetapi mereka lebih cenderung kepada Imam lain yang sesuai dengan pemahaman mereka. Seperti misalnya Zaidiyah yang mengakui keimamahan Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, mereka tidak menerima Imam Ali Zainal Abidin sebagai salah seorang Imam yang patut diikuti. Namun mereka langsung mengimami Imam Husain karena keberanian dan pengorbanan beliau di karbala. Syiah Ismailiyah mengakui Imam sampai pada Imam Ja’far ash-Shadiq, tetapi pengganti beliau bukanlah Imam Musa al-Kazim tetapi Isma’il bin Ja’far.

Perpecahan diantara Syiah sendiri merupakan salah satu hal yang tidak terelakkan. Hal ini dikarenakan oleh keberadaan Imam yang belum tentu dipercaya oleh umat pada masa itu. Ditambah lagi, rata-rata Imam memiliki lebih dari satu putera, sehingga ketika beliau menunjuk Imam dari salah seorang putra beliau, maka putra lain yang juga memiliki pengikut dan pengikutnya tidak bersedia mengikuti Imam lain tetap setia pada atau putra yang tidak menjadi Imam.

 

Aliran-aliran dalam Syiah

  1. 1.       Syiah Zaidiyah

Golongan syiah ini menganggap Zaid bin Ali Zainal Abidin As-Sajjad. Zaid memberontak melawan khalifah Bani Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik dan sekelompok orang menyatakan bai’at padanya. Pertempuran berkecamuk di Kufah antara Zaid dan pasukan khalifah, dan Zaid berhasil ditewaskan.

Para pengikut Zaid menganggapnya sebagai Imam ke-5 dari Ahlulbayt. Putranya, Yahya bin Zaid—yang kemudian memberontak melawan kekhalifahan Walid bin Yazin juga kemudian terbunuh—dinobatkan sebagai pengganti Zaid. Setelah Yahya, Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah yang memberontak melawan Khalifah Abbasiyyah, Mansur Ad-Dawniqi—yang juga terbunuh kemudian—dipilih sebagai imam-imam.[5]

Menurut kepercayaan Zaidiyyah, seorang keturunan Fathimah, putri Rasulullah, yang melancarkan pemberontakan demi membela kebenaran, dapat menjadi imam apabila memiliki pengetahuan keagamaan, berakhlak bersih, berani dan murahhati. Namun, untuk beberapa waktu setelah Imam mereka, Urthusy dan keturunannya, tak ada imam yang dapat menggerakkan pemberontakkan dengan senjata. Akan tetapi, belum lama ini di Yaman, Imam Yahya berhasil menggerakkan pengikutnya untuk melawan Kerajaan Usmaniah. Oleh karena itu, keturunan Imam Yahya kemudian menjadi Imam di daerah itu hingga akhir-akhir ini.

Dalam hal kepercayaan, Zaidiyyah sejalan dengan Mu’tazilah dalam masalah-masalah ushul atau prinsip-prinsip Islam. Sementara dalam masalah furu’ atau hukum dan lembaga-lembaga, Zaidiyyah sejalan dengan fiqh Hanafi.

  1. 2.       Syiah Isma’iliyyah

Syiah Isma’liyyah meyakini bahwa putra Sulung Ja’far Ash-Shadiq sebagai Imam ke 7 bukan Musa bin Ja’far. Menurut riwayat, Isma’il telah meninggal sebelum ayahnya. Akan tetapi, para pengikutnya berkeyakinan bahwa Isma’il tidak meninggal melainkan berada dalam masa Ghaib Kabir dan ia akan kembali sebagai Imam Mahdi yang selama ini dijanjikan dan dinanti-nantikan. Keimamaman selanjutnya diserahkan pada putranya, Muhammad bin Isma’il dan keturunannya.

Dalam berfilsafat, pengikut Isma’iliyyah sejalan dengan kaum Sabaiyyah (pemuja bintang) yang digabungkan dengan unsur kebatinan India. Dalam pengetahuan dan kepercayaan-kepercayaan Islam, mereka percaya bahwa setiap realitas lahir mempunyai aspek batin dan masing-masing unsur wahyu mengandung takwil.

Orang-orang Isma’iliyyah meyakini bahwa setiap hal di bumi ini tidak akan terwujud tanpa adanya Hujjatullah atau bukti dari Tuhan. Hujjatullah ada dua macam, natiq atau yang berbicara dan shamit atau yang diam. Yang berbicara adalah nabi dan yang diam adalah imam atau wali.

Prinsip hujjatullah berputar di sekitar angka tujuh. Seorang nabi yang diutus Tuhan mempunyai fungsi nubuwat yakni membawa syariat Ilahi. Seorang nabi merupakan manifestasi sempurna dari Tuhan, mempunyai walayat, kemampuan esoteris untuk menuntun manusia ke dalam rahasia-rahasia ketuhanan. Sesudahnya terdapat tujuh pelaksana wasiatnya yang mempunyai washayat yakni kemampuan melaksanakan wasiat-wasiatnya. Orang ketujuh memiliki dua kemampuan yaitu walayat dan washayat, selain itu juga mempunyai kemammpuan tambahan yaitu kemampuan kenabian (nubuwat). Lingkaran tujuh orang ini akan terus berulang dengan orang yang ketujuh sebagai nabi. [6]

Mereka menganggap pelaksana wasiat nabi adalah: Ali, Husai bin Ali (mereka tidak menganggap Hasan bin Ali sebagai salah seorang Imam), Ali bin Husain As-Sajjad, Muhammad al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, Isma’il bin ja’far dan Muhammad bin Isma’il. Setelah rangkaian ini terdapat keturunan Isma’il yang nama-namanya mereka sembunyikan. Setelah mereka terdapat tujuh penguasa pertama dari kekhalifahan Fathimiyyah di Mesir. Penguasa pertama itu adalah Ubaidillah al-Mahdi, pendiri Dinasty Fathimiyyah.

Orang-orang Isma’iliyya juga percaya bahwa disamping Hujjatullah selalu hadir dua belas pimpinan (naqib) yang merupakan sahabat dan pengikut elite Sang Hujjah.

 

PEMIKIRAN KEAGAMAAN DALAM SYIAH

Yang dimaksud dengan pemikiran keagamaan adalah pola pikiran mengenai persoalan yang bersifat keagamaan dalam suatu agama tertentu. Pola pemikiran ini berdasarkan pada sumber-sumber yang kuat kedudukannya dan jelas asal-usulnya. Islam memiliki sumber hukum dan sumber keagamaan utama, yang turun sebagai bimbingan Tuhan bagi umat manusia, dari langit. Al-Quran, merupakan sumber segala hukum, sumber segala rujukan permasalahan keagamaan yang sering terjadi dalam masyarakat.

Al-Quran merupakan sumber ilmu Islam yang tiada terbatas, senantiasa dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang masa. Kedudukan Al-Quran yang tidak terbantahkan dalam Islam merupakan pedoman utama bagi umat muslim dalam  menjalankan syariat-syariat yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai tata cara penyempurnaan diri. Al-Quran tidak saja merupakan sumber hukum fiqih tapi juga sumber pemikiran-pemikiran teologis, sumber ‘irfan, dan sumber segala sumber ilmu pengetahuan yang ada di dunia.

Tak hanya itu, jika makna Al-Quran masih tersirat atau sukar dipahami, penjelasan nabi pun memiliki kekuatan hukum yang sama dengan Al-Quran. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, “Dan kami turunkan kepadamu Peringatan untuk kau jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan bagi mereka”(QS, 16: 44).

Ayat-ayat tersebut merupakan dukungan terhadap kepercayaan manusia pada hadis-hadis yang disampaikan oleh nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun taqrir nabi (ketetapan nabi dalam diam). Jika semua tindakan nabi tidak memiliki implikasi hukum dalam kehidupan manusia saat ini, maka manusia akan tetap berada dilingkupi kegamangannya dalam upaya memahami Al-Quran. Apalagi jika penjelasan itu sampai pada kita dengan jalur yang jelas dan dapat dipercaya.

Selain Nabi, dalam Syiah mempercayai bahwa Imam-Imam keturunan Nabi dari Ali  bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra, sampai berjumlah 12 orang, memiliki keistimewaan dalam agama. Ilmu mereka tentang agama telah mengalir dalam tubuh mereka sebagaimana aliran darah yang menghidupkan. Seseorang yang suci pasti berasal dari keturunan orang-orang suci lagi disucikan, demikian halnya dengan keturunan-keturunan sesudahnya. Hal ini dikarenakan darah suci yang mengalir pada diri mereka terus terwariskan pada keturunan-keturunannya. Jadi, selain hadis dari Nabi Muhammad, orang-orang syiah memercayai hadis-hadis dari 13 manusia suci lainnya dengan syarat hadis tersebut logis dan dapat dipertanggungjawabkan sanadnya.

Selain keluarga nabi, orang-orang yang hidup di sekeliling nabi selama masa penyebaran Islam, sering kita kenal sebagai sahabat nabi. Dalam pandangan syiah, kedudukan sahabat tak ada bedanya dengan umat muslim yang lain pada saat ini, dengan keistimewaan mereka bertemu dengan nabi sementara kita tidak. Sahabat tidak memiliki kekuatan hukum yang dapat menuntun kita untuk mengikuti hal-hal yang mereka anjurkan. Kecuali hal itu juga dianjurkan oleh Nabi. Jika tidak maka hal itu harus tidak bertentangan dengan al-Quran.

Demikian halnya dengan hadis dan juga sunah, keduanya harus tidak bertentangan dengan al-Quran agar dapat dijadikan sebagai sumber hukum Islam. Selain itu, harus menyertakan garis informasi yang jelas dan terpercaya bahwa hadis atau suna tersebut berasal dari nabi atau ahlul bait. Syarat lain diterimanya hadis atau sunah adalah tidak bertentangan dengan Al-Quran. Mazhab Syiah menolak dengan tegas terhadap berlakunya hadis yang bertentangan dengan Al-Quran, sementara bagi yang tidak jelas pertentangannya, hadis tersebut tidak dihukumi ditolak atau diterima.

KEDUDUKAN AKAL

Kedudukan akal dan rasionalitas dalam Syiah sangat penting. Rasional sebagai bagian dari pemikiran keagamaan. Al-Quran dan hadis yang disampaikan Rasulullah, hendaknya dipahami dengan baik, dipilah dan dicerna oleh akal, sehingga tidak sekedar menjadi sesuatu yang berlalu. Akal juga berperan melakukan pembuktian intelektual yangmembantu mencari jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang sedang terjadi. Pembuktian intelektual ini akan sejalan dengan Al-Quran karena akal lahir sebagai fitrah manusia, dan al-Quran tidak mungkin bertentangan dengan fitrah itu.

Al-Quran memerintahkan manusia untuk melakukan perenungan terhadap hal-hal yang terjadi di alam dunia ini, tentang wujud universal, tata alam semesta, maupun susunan khusus seperti tata surya, siang, malam dan lain sebagainya. Selain itu Al-Quran juga memerintahkan kita untuk menggunakan pemikiran dialektis (diskusi teologis) dengan ketentuan ia gunakan sebaik mungkin yaitu dengan tujuan mendapatkan kebenaran.

Pemikiran filosofis tidak akrab dengan orang-orang Arab secara umum. Namun, Ali bin Abi Thalib telah menuliskan sebuah kitab metafisis yang sarat dengan pemikiran filsafat yang mendalam. Ali juga lah yang kemudian menjadi rujukan seluruh umat Islam dalam pemikiran metafisika, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Selanjutnya lahirlah filosof-filosof syiah mulai dari Khwajah Nashirud-Din Thusi, Mir Damad, Sadrud-Din Syirazi dan masih banyak lagi.

 

 

METODOLOGI SYIAH

Syiah sebagai sebuah mazhab besar di dunia menjadi sorotan publik. Di beberapa Negara di dunia, Syiah merupakan aliran minoritas yang bahkan disesatkan oleh penganut paham atau aliran lain. Namun, Syiah juga menjadi mayoritas di beberapa Negara. Meskipun demikian, anggapan sesat masih belum lepas dari tubuh syiah. Berbagai informasi yang berasal dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab telah mengakibatkan banyak orang yan tidak mengetahui syiah tetap menganggapnya sebagai aliran sesat yang tidak patut diikuti.

Metodologi merupakan langkah-langkah spesifik seseorang dalam studi sehingga dapat mencapai apa yang ditujunya. Setiap disiplin ilmu memerlukan metode tertetntu agar penelitian yang dilakukan dapat mencapai hasil yang optimal, sehingga keakuratan data yang diperoleh tidak perlu diragukan lagi dan dapat dijadika pedoman oleh orang banyak.

Dalam aliran syiah sendiri terdapat beberapa metodologi untuk memelajarinya, yaitu:

  1. 1.       Teori Pengetahuan

Prinsip-prinsip Syiah Imamiah mengenai pengetahuan adala:

  1. Pengetahuan yang didapat melalui proses penigndraan merupakan sumber segala pengetahuan manusia.
  2. Dari pengetahuannya tentang fenomena atau bagian pikiran mengembangkan sebuah pengetahuan universal tentang entitas atau wujud.
  3. Mendapat pengetahuan entitas atau wujud dengan berbasis pengetahuan tentang bagian-bagian pada dasarnya merupakan proses penyimpulan
  4. Pengetahuan dasariah tentang entitas diperoleh melalui pengindraan terhadap fenomena.
  5. Pengetahuan dasariah berfungsi sebagai pondasi untuk mencapai pengetahuan teoritis.
  6. Mazhab Imamiah menyimpulkan maka dapat disebutkan bahwa mengimani Allah dan keyakinan-keyakinan terkait berakar dalam premis yang bersumber dari pengetahuan tentang hal-hal yang terindrai.

Syiah Imamiah memang beranggapan bahwa indra adalah salah satu sumber manusia mendapatkan pengetahuan. Melalui panca indra, manusia menangkap hal-hal yang berada di sekitarnya, melakukan pengamatan sehingga akalnya berkembang dan ia mendapatkan pengetahuan baru. Untuk mendapatkan pengetahuan kita membutuhkan pemikiran meskipun sebenarnya pengetahuan bukanlah produk dari pemikiran[7]. Persepsi, sangat penting bagi manusia, karena Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan naluri dan meskipun orang tersebut kurang pengetahuan, ia bisa mendapatkan pengetahuan melalui panca indra yang dimilikinya.

Berpikir yang menghasilkan pengetahuan sebagaimana sebab menghasilkan akibat. Berpikir merupakan fungsi manusia sebagai manusia. Inilah sebabnya Syiah Imamiah sangat menekankan pada penggunaan akal dan rasio.

  1. 2.       Metode Doktrinal

Menemukan eksistensi Tuhan, menurut pemikiran Syiah Imamiah, merupakan kewajiban tiap orang, bukan sunnah atau boleh. Syiah beranggapan bahwa mengenal Allah sangatlah penting, karena setiap manusia harus mengenal kepada siapa mereka mengabdi, sehingga mereka bisa mengukur sejauh mana pengabdian mereka jika dibandingkan dengan Kebesaran Tuhan mereka.

Karena mengenal Allah itu penting, maka mengenal Allah hanya bisa dilakukan melalui berpikir dan mencari bukti. Di sini fungsi akal sangatlah berperan, akal yang bertugas mencari tahu kebenaran segala sesuatu. Akal yang bertugas menemukan bukti-bukti yang berserakan, akal pula yang bertugas mengamati dan memilah-milahnya berdasarkan urutan kepentingan. Allah dapat dikenali melalui bukti bukan dengan meniru orang lain.

Akan tetapi akal tidak mungkin memeroleh segala sesuatu yang berkenaan dengan keimanan kepada Allah tanpa wahyu dan tanpa tuntunan Allah. Dalam kasus ini, Allah, yang kemudian mengungkapkan perintah-perintahNya dalam agama, mengoreksi dan mengatur tindakan manusia sedangkan akal menerima dan menemukan bukti-bukti nyata dari aturan tersebut. Agama juga memberikan pengetahuan tentang ajaran dan memandu akal, setelah eksistensi Allah dan kebesaran para rasulNya dapat dibuktikan, maka akal harus menerima apa saja yang dikemukakan oleh agama.

Imamiah meyakini bahwa hanya melalui akal maka eksistensi Allah dan keandalan para NabiNya pun daapt dibuktikan, dan pengetahuan ini hanya bisa didapap melalui akal[8]. Syiah juga menganggap bahwa kita tidak bisa menerima riwayat begitu saja, segala sesuatu harus diuji kebenarannya melalui akal. Hal ini dikarenakan banyak hal yang bisa terjadi selama masa periwayatan, dan orang-orang dengan kepentingan tertentu berkemungkinan merubahnya atau merusak keaslian suatu riwayat.

Doktrin dan  pandangan Syiah Imamiah:

  1. Doktrin Dasar

Merupakan bagian yang tidak terbantah dan sangat mendasar. Hal-hal yang menjadi sorotan utama berkaitan dengan Keesaan Allah, Kesempurnaan sifatNya, kebenaran wahyu dan hari kebangkitan.

  1. Topik-topik ajaran

Berkaitan dengan ajaran-ajaran praktikal yang berbeda-beda dan mengandalkan penafsiran dari pimpinan-pimpinan keagamaan (ulama).

Imamiah meyakini bahwa perbedaan cara peribadatan diantara umat Islam tidaklah menjadi masalah selama semuanya berpegang pada ajaran Nabi dan keluarga beliau.

KEESAAN ALLAH

Keesaan Allah merupakan doktrin mutlak dalam Islam yang tidak perlu lagi dipertanyakan. Dalam berbagai riwayat Allah berfirman tentang keesaanNya, tentang tiada sekutu bagiNya. Allah dengan ketinggianNya yang tidak terjangkau oleh akal manusia, sehingga dalam beberapa kesempatan beberapa imam ahlul bayt mengungkapkan bahwa kita harus berpegang pada fikih dan al-Quran ketika kita berusaha mengenal Allah. [9]

Ketinggian Allah tidak dapat dijangkau dengan mudah oleh manusia, sehingga perlu aturan yang membatasi manusia agar tidak melayang terlalu jauh dalam usahanya mengenal Allah. Dalam hal ini al-Quran telah mengungkapkan banyak bagian mengenai keesaan Allah, termasuk beberapa hadits qudsi. Sehingga al-Quran dan hadits dapat dijadikan sebagai pembatas dalam manusia berusaha mengenal Allah.

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata bahwa keyakinan religius yang berkenaan dengan keesaan Allah terdapat dalam penjelasan-penjelasan yang terungkap dalam al-Quran. Jangan menyimpang dari al-Quran dan jangan tersesat karena keyakinan religius yang benar mudah dijerumuskan.

KEADILAN ALLAH

Keadilan dalam hal ini adalah menyucikan Allah dari kedzaliman. Keadilan Allah adalah sebenar-benarnya adil yang tidak dapat diganggu gugat lagi[10]. Syiah Imamiah meyakini bahwa manusia tidak berbuat berdasarkan kehendak Ilahi, Allah menjadi hakim bagi kehidupan manusia. Segala tindakan di dunia ini telah Allah tetapkan petunjuk-petunjuknya. Namun manusia mendapat kebasan untuk memilih atau tidak memilih petunjuk dari Allah itu. Oleh karena itu manusia kelak akan mendapatkan hukuman. Jika semua tindakan manusia adalah atas kehendak Allah, seperti yang diyakini oleh asy’ariyah, maka tidak adil jika kemudianmanusia dihukum atas apa yang dilaukannya.

Prinsip-prinsip keadilan Ilahi yang diyakini oleh Syiah Imamiah adalah:

  1. Keyakinan adanya hukum hubungan sebab-akibat dan sebab pertama dalam alam dan masyarakat ddan keyakinan bahwa manusia merupakan faktor kausal aktif di dunia ini.
  2. Manusia memiliki kemampuan untuk berbuat bajik atau dosa.
  3. Allah tidak memberikan kepada manusia kewajiban yang berada di luar kemampuannya.
  4. Manusia merupakan pelaku yang melakukan perbuatan-perbuatannya dan segenap konsekuensinya bisa dibebankan kepadanya.
  5. Manusia bisa melakukan apa yang diinginkan, memiliki kemampuan untuk memilih dan inilah sebabnya kenapa dia akan mendapat pembalasan.

MISI KENABIAN

Nabi adalah orang yang menyampaikan dari Allah tanpa perantara manusia. Misi kenabian sebagai sebuah syarat yang sangat penting bagi kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. Manusia tidak mungkin menemukan jalan lurus, memeroleh keridhaan Allah dan hidup bahagia tanpa adanya misi kenabian dan nabi sendiri.

Imamiah memercayai bahwa kemaksuman para nabi adalah hal yang tidak terelakkan. Maksum (ishmah) merupakan keadaan terpelihara dari apa saja yang tidak diinginkan. Menurut penafsiran Imam Ja’far, maksum adalah keadaan terpelihara dari semua larangan Allah. Pemilikan para nabi akan kemaksuman merupakan sebuah kondisi wajib bagi keberhasilan misi kenabian yang mereka emban. Menurut Imamiah semua tindakan dan perbuatan para nabi adalah benar dan sesuai dengan ajaran agama.

Para nabi dipandu dan dilindungi dari berbuat salah dalam penyampaian risalah Allah dan dalam mengurus umat manusia. Jika seorang nabi melakukan kesalahan atau pernah melakukan tindakan yang bertentangan dengan agama, maka hal itu akan menjadi senjata yang diajukan umatnya tentang ketidaksempurnaan sifat dan ajaran yang dibawanya.

IMAMAH (KEPEMIMPINAN)

Menurut alamah al-Hilli pemimpin adalah orang yang meneruskan risalah kenabian, baik dalam urusan religius ataupun duniawi. Imamah atau kepemimpinan adalah hal yang sangat penting hukumnya. Semua orang memerlukan pemimpin sebagai penuntunnya menuju jalan kebenaran.

Dalam ajaran Imamiah pemimpin tidak hanya menduduki fungsi religius, tapi juga fungsi intelektual dan politis. Dalam hal ini orang-orang yang pantas untuk menduduki jabatan imam adalah orang-orang terpilih yang terpelihara kesuciannya. Imamah meyakini bahwa Rasulullah berasal dari keluarga yang taat kepada Allah, sehingga penerus beliau pun seharusnya adalah orang yang terpelihara. Imam haruslah orang yang paling luas ilmunya, otoritas agamanya dan merupakan sumber ilmu bagi para teolog dan agama.

Dalam imamiah, imam ditentukan berdasarkan keturunan nabi. Imam telah ditentukan oleh Allah, bukan berdasarkan musyawarah yang dilakukan manusia, sehingga penentuan imam hanya bisa dilakukan oleh imam atau pemimpin sebelumnya atas petunjuk dari Allah. Dalam mazhab ahlul bait, imam dimulai dari Ali bin Abi Thalib hingga sebelas keturunannya, yang berakhir pada Imam Mahdi. Sehigga mazhab ini dikenal dengan Syiah Itsna ‘asyariyah karena meyakini dua belas imam.

Selain itu, Imamiah juga meyakini bahwa Imam adalah orang yang ma’shum (terpelihara kesuciannya) sehingga dalam hidupnya mereka terbebas dari perbuatan dosa. Kepercayaan ini disarkan pada hal yang sama dengan kepercayaan mengenai kemaksuman Rasulullah. Seandainya Imam atau Rasul tidak maksum, maka cacat pula risalah yang mereka bawa. Maka kesempurnaan pembawa risalah menentukan pula nasib risalah tersebut.

HARI AKHIR

Menurut Syiah, Roh dan raga melangkah bersama dalam evolusi dan transformasi natural menuju kesempurnaan, dalam proses-proses yagn sesuai dengan masing-masing roh sampai roh berpisah dari raga. Namun, perpisahan ini akan menyatu kembali setelah semua manusia dibangkitkan dari kubur untuk dihisab amal-amalnya. Meskipun dalam hal kebangkitan terdapat perbedaan pandangan diantara para ulama dan pemikir Islam.

Imamah meyakini bahwa seseorang diinterogasi di dalam kubur setelah kembalinya roh ke badan.  Oragn-orang yang diinterogasi di dalam kubur adalah orang-orang mukmin salih dan ahli bidah, orang-orang zindik dan murtad, sedangkan orang-orang yang berbuat kebajikan dan kejahatan diadili pada Hari Kebangkitan. Di alam Barzakh, orang beriman menerima pahala, sedangkan ahli bid’ah atau orang zindik atau murtad mendapat adzab hingga Hari Kebangkitan tiba.

Dalam hal kebangkitan, Imamiah memercayai bahwa kebangkitan merupakan prinsip dasariah dan itu berarti bahwa Allah akan mengembalikan raga kita ke kondisi semual sebelum matinya, sehingga dapat dimintai pertanggungjawaban dan diberi pahala atau adzab.

SYAFA’AT

Syiah Imamiah meyakini bahwa keluarga Rasulullah dan keluarga berhak untuk memberikan syafa’at di Hari Kebangkitan kelak. Tak hanya Rasulullah, melainkan juga semua umat muslim yang menerima kehormatan untuk memberikan syafaat bagi orang lain. Selain Rasulullah, orang yang berhak memberikan syafa’at adalah para nabi lain, Keluarga Nabi, dan orang-orang mukmin (untuk orang mukmin tidak semua bisa memberi syafa’at, hanya orang tertentu saja dan kepada orang-orang yang tertentu pula, tidak ke sembarang orang.)

Menanggapi syafa’at, maka hukum yang layak diterima oleh seorang mukmin karena perbuatan dosanya, bisa ditiadakan. Sehingga orang itu terbebas dari hukuman. Syafa’at diterikan atas izin Allah kepada orang-orang yang dikenhendakiNya pula. Orang mukmin yang berbuat dosa berat juga bisa mendapat pertolongan dari syafaat.

TAWASSUL

Syiah Imamiah meyakini bahwa doa yang disampaikan oleh seseorang dapat sampai lebih dekat bila melalui perantara orang-orang yang memang dekat denganNya. Dalam hal ini, orang-orang yang dekat dengan Rasulullah adalah ahlul bayt nabi, keluarga nabi.

Seandainya kita, dengan segala dosa dan kenistaan kita, menghadap Allah, menyampaikan hajat-hajat dan harapan-harapan kita, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Allah tidak menghiraukan permohonan kita. Alasannya bisa jadi karena keberadaan dosa dan kenistaan diri kita menjadi penghalang bagi terkabulnya doa kita.

Untuk menyiasati hal-hal yang seperti itu, maka Imamiah meyakini untuk berdoa melalui perantara-perantara yang dicintai Allah, sehingga melalui cara ini diharapkan doa kita lebih cepat terkabul. Dengan menyebut nama-nama mereka dan berdiri untuk memuliakan mereka, kita semua berdoa dengan tujuan agar Allah lebih cepat melihat doa kita yang dilengkapi dengan ‘rekomendasi’ dari ahlul bayt.

PANDANGAN SYIAH TERHADAP SAHABAT

Dalam beberapa kesempatan, diungkapkan bahwa mazhab syiah adalah sebuah mazhab yang menkafirkan beberapa sahabat dan tidak menganggap bahwa mereka adalah sahabat Nabi. Yang terjadi sebenarnya adalah perbedaan penyimpulan akan makna sahabat itu sendiri. Mazhab syiah tidak menganggap sahabat kepada orang yang baru datang ke kehidupan Rasulullah dan sekedar bertemu untuk beberapa kali pertemuan saja kemudia dia pergi lagi kembali ke asalnya. Sementara menurut ahlussunnah orang yang demikian tetap saja disebut dengan sahabat.

Selain itu, syiah menempatkan sikap kritis terhadap sahabat. Pada dasarnya tidak hanya pada sahabat tetapi juga kepada Rasulullah. Imamiah beranggapan bahwa segala sesuatu itu memerlukan bukti agar dapat meningkatkan keyakinan dan keimanan kita terhadap hal itu. Dalam hal ini dimaksudkan pula sahabat. Syiah juga menilai sahabat berdasarkan tingkat ketakwaannya jadi tidak semua sahabat menjadi orang yang patut diikuti syariatnya dan diterapkan dalam kehidupan manusia.

TAQIAH

Taqiah artinya menyembunyikan keimanan yang sejati dan mengakui keimanan yang lain untuk melindungi diri dari bahaya. Kaum ahlussunnah menganggap bahwa tindakan ini merupakan kemunafikan dalam beragama, tetapi yang dimaksudkan oleh Imamiah adalah agar tercipta keharmonisan hidup diantara umat beragama. Untuk keadaan yang membuat seseorang tidak memungkinkan untuk beribadah sebagaimana yang ia yakini, maka ia boleh beribadah sebagaimana orang-orang di sekitarnya beribadah.

Dalam syiah sendiri pun terdapat perbedaan pendapat dalam taqiah. Salah seorang marja’ mengatakan bahwa taqiah hanya wajib dilakukan bila kita berada dalam keadaan yang mengancam nyawa kita saja. Namun marja’ lain berpendapat bahwa taqiah dapat dilakukan walaupun tidak dalam keadaan terancam bahaya saja, tetapi dengan maksud untuk menghindari pertikaian dengan orang banyak dan untuk memelihara keharmonisan hidup bersama orang lain.

 

 

 

KESIMPULAN

Syiah Imamiah merupakan salah satu aliran teologi yang cukup besar di dunia ini, meskipun di beberapa Negara menjadi aliran yang diikuti sebagian besar penduduknya (mayoritas), seperti di Iran, Irak, Azerbaijan, dan beberapa Negara lain. Namun di sebagian Negara lain Syiah merupakan aliran minoritas, termasuk di Indonesia. Penganut syiah di Indonesia tidak sebanyak penganut Ahlussunnah, meskipun dewasa ini gaung penyebaran syiah sudah mulai terasa diantara masyarakat awam.

Syiah Imamiah sebagai sebuah aliran mendasarkan pemikirannya pada kesetiaan kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai pegangan hidupnya. Syiah Imamiah mengakui kemaksuman para nabi dan para imam penerus para nabi. Selain itu, Imamiah juga beranggapan bahwa seseorang diperbolehkan menyembunyikan keimanan sejatinya ketika ia sedang terancam bahaya ataupun ketika ia ingin memelihara keharmonisan dengan orang lain. Pandangan lain yang sangat khas dari kaum syiah ialah mengenai kewajiban menggunakan akal bahkan untuk membuktikan kebenaran eksistensi Tuhan. Imamiah meyakini bahwa indra merupakan sumber dari segala ilmu dasariah, dimana melalui indra maka selanjutnya adalah pengamatan yang akan dilakukan oleh akal, sehingga dengan mengamati dan berpikir maka akan didapatkan pengetahuan yang baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Musawi, Hashim. 2008. The Shia: Mazhab Syiah, Asal-Usul dan Keyakinannya, terj. Ilyas Hasan dari The Shia: Their Origin and Beliefs(1996). Jakarta:Lentera

Hashem, O. 1994. Saqifah: Awal Perselisihan Umat. Jakarta: Al-Muntazar

Hashem, O. 2000. Syiah Ditolak Syiah Dicari. Jakarta: ALHUDA

Shihab, Quraish. 20073. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?. Tangerang: Lentera Hati.

Thabathaba’I, Allamah Sayyid Muhammad Husayn. 1989. ISLAM SYIAH: Asal-Usul dan Perkembangannya, terj. Djohan Effendi dari Shi’ite Islam (1979). Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti


[1] O.Hashem. SAQIFAH: Awal Perselisihan Umat. 1994. Jakarta: al-Muntadzar.

[2] Imam Ali bin Abi Thalib, Nahj al-Balaghah, Beirut: Muassasat al-Hujra edisi 5. 1412 No. 74

[3] Hashim al-Musawi, The Syia: Asal usul dan Keyakinannya, Jakarta: Lentera, Hlm: 20 yang diutip dari Muhammad bin Mukaram bin Madzur, Lisan al-‘Arab, Beirut , Lebanon: Dar Shadr, Jilid 8 Hlm: 188-189

[4] Ibid, Hlm: 25

 

[5] Thabathaba’I, Allamah M.H. Islam Syiah: Asal-Usul dan Perkembangannya. 1989. Halaman: 81

[6] Ibid.halaman: 83

[7] Hashim al-Musawi. Op.cit. hlm: 43 dikutip oleh penulis dari al-Hasan bin Ysuf al-Alamah al-Hilli. Anwar al Malakut fi Syarh al-Yaqut. Qom, Iran: Maktabah Amir

[8] Hashim al-Musawi. Op.cit. Hlm:

[9] Dr. O. Hashem. Syiah Ditolak Syiah Dicari. 2000. Jakarta: ALHUDA, hlm: 75

[10] Quraish Shihab. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? 2007. Hlm: 137

Artikel Terkini :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s