MONOTHEISTIC CONCEPTION OF THE WORLD (Muthahhari)

laila2copie1

PENDAHULUAN

 

Setiap doktrin dan setiap filsafat kehidupan tentu didasarkan pada kepercayaan, evaluasi tentang kehidupan, dan interpretasi serta analisis tentang alam semesta. Cara berpikirsebuah mazhab tentang kehidupan dan alam semesta dianggap sebagai dasar dari segenap pemikiran mazhab itu. Dasar ini disebut konsepsi mazhab tentang alam semesta.

Semua agama, system social, mazhab pemikiran, dan filsafat social didasarkan pada konsepsi tertentu tentang alam semesta. Semua sasaran yang dibeberkan sebuah mazhab, cara dan metode untuk mencapai sasaran itu, merupakan akibat wajar dari konsepsi mazhab tersebut tentang alam semesta.

 

Menurut para filosof, ada dua macam kearifan: kearifan praktis dan kearifan teoritis. Yang dimaksud dengan kearifan teoritis adalah mengetahui apa yang ada seperti adanya. Sedangkan kearifan praktis adalah mengetahui bagaimana semestinya kita hidup. “semestinya” ini merupakan hasil logis dari “bagaimana itu” , khususnya “bagaimana itu” yang menjadi pokok bahasan filsafat metafisis.

 

            ‘Setiap doktrin atau filsafat hidup secara tak terelakkan berdasar atas semacam kepercayaan, suatu penilaian tentang hidup dan semacam penafsiran tentang dunia. Cara berpikir suatu mazhab (pemikiran) mengenai hidup dan dunia dipercayai merupakan dasar dari seluruh pemikiran aliran tersebut. Dasar ini disebut sebagai pandangan atau konsepsi-dunia. Semua agama, sistem sosial, dan filsafat sosial (pada gilirannya) didasarkan pada suatu pandangan-dunia tertentu. Semua tujuan yang diajukan suatu mazhab pemikiran, cara-cara dan metode-metode yang dilahirkannya merupakan bagian dari pandangan dunia yang dianutnya’[1]

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

            Kita tidak boleh mengacaukan konsepsi tentang alam semesta dengan persepsi indera tentang alam semesta. Konsepsi tentang alam semesta mengandung arti kosmogoni (asal-usul alam semesta) dan ada kaitannya dengan masalah identifikasi. Tidak seperti persepsi indera, yang lazim dimiliki manusia dan makhluk hidup lainnya, identifikasi hanya dimiliki oleh manusia. Konsepsi ini bergantung pada pemikiran dan pemahamannya.

 

Pada umumnya ada tiga macam konsepsi tentang alam semesta atau identifikasi tentang alam semesta, atau dengan kata lain interpretasi manusia tentang alam semesta. Sumber interpretasi ini adalah tiga hal: ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Maka dapat dikatakan bahwa ada tiga macam konsepsi tentang alam semesta: konsepsi ilmiah, konsepsi filosofis, dan konsepsi religious.

 

Semua karakteristik dan kualitas mutlak harus dimiliki oleh sebuah konsepsi yang baik tentang alam semesta, dimiliki oleh konsepsi tauhid. Konsepsi tauhid merupakan satu-satunya konsepsi yang memiliki semua karakteristik dan kualitas ini. Konsepsi tauhid merupakan kesadaran akan fakta bahwa alam semesta ada berkat suatu kehendak arif, dan bahwa system alam semesta ditegakkan di atas rahmat dan kemurahan hati dan segala yang baik. Tujuannya adalah membawa segala yang ada menuju kesempurnaannya sendiri. Konsepsi tauhid artinya adalah bahwa alam semesta ini “sumbunya satu” dan “orbitnya satu”. Artinya adalah bahwa alam semesta ini “dari Allah” dan “akan kembali pada Allah”.

 

Segala wujud di dunia ini harmonis, dan evolusinya menuju ke pusat yang sama. Segala yang diciptakan tidak ada yang sia-sia, dan bukan tanpa tujuan. Dunia ini dikelola dengan serangkaian system yang pasti yang dikenal dengan “hokum (sunnah) Allah”. Diantara makhluk yang ada manusia memiliki martabat yang khusus, tugas khusus dan misi khusus. Manusia bertanggung jawab untuk memajukan dan menyempurnakan dirinya, dan juga bertanggung jawab untuk memperbarui masyarakatnya. Dunia ini adalah sekolah. Allah memberikan balasan kepada siapapun berdasarkan niat dan upaya konkretnya.

 

“Mengapa pada zaman dahulu ada kenabian dan ada turunnya kitab suci ? dan mengapa sekarang tidak ada lagi seorang nabi dan tidak turun lagi sebuah kitab suci ? karena pada zaman dahulu manusia belum mengalami perkembangan dalam berpikir dan masih rendahnya rasionalitas manusia sehingga satu-satunya jalan tuhan dalam menunjuki manusia kepada jalan yang benar adalah dengan melalui wahyu dengan mengutus seorang nabi ke daerah tersebut dan karena manusia tidak dapat menjaga ajaran kitab suci tersebut karena masih rendahnya pemikiran manusia seperti seorang anak kecil yang kita beri sebuah buku maka dia tidak akan dapat menjaga buku itu dengan baik. Tapi jika kita memberikan buku itu pada seorang yang dewasa maka dia akan dapat menjaga buku itu dengan baik. Maka dari itu semakin berkembangnya pemikiran manusia maka tidak perlu lagi turunnya wahyu karena daya pikir manusia yang semakin maju dapat menjaga ajaran-ajaran yang diturunkan dari kitab suci” [2]

Konsepsi tauhid tentang dunia ini mendapat dukungan dari logika, ilmu pengetahuan dan argument yang kuat. Setiap partikel di alam semesta ini merupakan tanda yang menunjukkan eksistensi Allah Maha Arif lagi Maha Mengetahui, dan setiap lembar daun pohon merupakan kitab yang berisi pengetahuan spiritual.

 

            “Mahatma Gandhi memberikan kita pedoman yang baik sekali:”Nama-nama itu adalah sebutan deskriptif dari Tuhan yang Esa. Para pujangga keagamaan telah memberi persemayaman lokal maupun nama pada atribut Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya. Dan hal ini tidak ada salahnya karena ia tidak disalahartikan oleh pemujanya maupun pihak lain. Bila manusia memuja Tuhan dia kan membayangkannya menurut kecenderungannya sendiri. Nahkan bila kita berdoa kepada Tuhan yang sama sekali tanpa bentuk maupun atribut sesungguhnya kita sudah memberikannya sifat-sifat. “[3]

 

Konsepsi tauhid mengenai alam semesta memberikan arti semangat dan tujuan kepada kehidupan. Konsepsi ini menempatkan manusia di jalan menuju kesempurnaan yang selalu ditujunya tanpa pernah berhenti pada tahap apapun. Konsepsi tauhid ini memiliki daya tarik khusus. Konsepsi ini memberikan vitalitas dan kekuatan kepada manusia. Menawarkan tujuan yang suci lagi tinggi, dan melahirkan orang-orang yang peduli. Konsepsi ini merupakan satu-satunya konsepsi tentang alam semesta yang membuat tanggung jawab manusia terhadap sesamanya menjadi memiliki makna. Juga merupakan satu-satunya konsepsi yang menyelamatkan manusia dari terjungkal ke jurang kebodohan.

 

Dari sudut pandang persepsi indera tentang alam

 

Yang pertama dan yang utama yang akan saya kemukakan menyangkut pandangan-pandangan Muthahhari dalam bidang teologi adalah tentang tauhid (keesaaan Tuhan). Hal ini dikarenakan masalah tersebut merupakan dasar utama keislaman dan atas dasar hal tersebut pula tercermin sikap hidup seseorang.

 

Muthahhari, sebagaimana setiap Muslim meyakini kebenaran tauhid, membagi tauhid menjadi dua bagian, yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Keberadaan kedua bagian ini dibuktikannya melalui analisis terhadap keempat macam tauhid yang dikenal oleh ulama Islam sebelumnya yaitu: (1) Keesaan Tuhan, (2) Keesaan sifat, (3) Keesaaan Perbuatan, dan (4) Keesaaan Ibadah.

 

Muthahhari menjadikan tauhid Zat sebagai tahap awal karena menurutnya, “Pertanyaan pertama yang muncul dalam benak seseorang menyangkut wujud ini adalah : Apakah ada sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak membutuhkan sesuatu dan bahkan dibutuhkan oleh segala sesuatu?” Setelah tauhid Zat disusul oleh Tauhid Sifat.

 

Dalam sekian banyak karya ilmiahnya, seperti Allah fi Hayah Al-Insan dan Ihtiram Al Huquq wa Tahqir Al-Dun-ya, Muthahhari menekankan bahwa “ Keesaaan Tuhan dalam sifat-Nya harus dipahami sebagai satu kesatuan dengan Zat-Nya”. Pendapatnya ini sejalan walaupun tidak sama dengan pendapat Mu’tazilah. Alasan yang dikemukakannya adalah “bahwa konsekuensi dan Keesaaan sifat, menuntut penafian segala bentuk penyusunan (tarkib) dan pembilangan (ta’addud), sehingga walaupun diakuinya bahwa Allah memiliki sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan, namun hal tersebut tidak berarti adanya perbedaan sifat Allah dan sifat lainnya. Perbedaan menurut Muthahhari, dapat mengakibatkan keterbatasan Wujud Yang Maha agung. Dan jika terjadi demikian, maka Ia sama dengan makhluk.

Muthahhari dalam hal ini agaknya ingin berkata : “ Sifat Allah SWT tidak dimiliki oleh makhluk-Nya sehingga tidak mungkin Ia sama dengan apa yang dimiliki selain-Nya, dan dalam saat yang sama Ia tidak berbilang, sehingga Ilmu, Hidup, dan Qudrah-Nya adalah Satu… dia…juga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Dia mengetahui dengan Qudrah-Nya, Dia berkuasa dengan Hidup-Nya, dan hidup dengan Ilmu-Nya. Hal ini juga berlaku untuk sifat-sifat lain dan inilah  menurut Muthahhari arti Ahad dalam ayat pertama Surah Al-Ikhlas : Qul Huwa Allah Ahad.

 

Jelas sekali bahwa Muthahhari membedakan pengertian kata Wahid dan ahad. Kata Wahid memungkinkan adanya “dua”, “tiga”, dan seterusnya, baik dalam benak ataukah dalam kenyataan, tetapi tidak demikian halnya dengan kata Ahad.

 

Ahli tafsir Thabathaba’i-yang sealiran dan semasa dengan Muthahhari, sekaligus guru yang disebut belakangan-menjelaskan hal ini dalam tafsirnya dengan memberikan contoh dua ungkapan, yaitu: ma ja’ani wahid min al-qawm, dan ma ja’ani ahad min al-qawn. Ungkapan yang pertama hanya menafikan kehadiran satu orang, tapi mungkin yang hadir dua atau tiga orang; sedangkan ungkapan kedua menunjukkan, jangankan dua orang seorangpun tidak.

Keesaan dalam perbuatan-Nya berarti bahwa alam raya dan bagian-bagiannya yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya, kesemuanya tunduk di bawah kekuasaaan Allah dan bergerak sesuai dengan kehendak-Nya tanpa campur tangan dari selain-Nya. Ini berarti bahwa dengan tauhid tidak dapat memilih-milih apa yang terjadi di alam raya dengan berkata,” Atas dasar inilah agaknya Muthahhari menolak secara tegas paham positivisme Comte, sambil menyatakan bahwa”seharusnya ia menambahkan satu fase lagi dalam perkembangan pemikiran manusia yaitu “pemikiran keIslaman” yang menghimpun ketiga fase yang dikemukakan Comte dalam satu kesatuan.”

 

Muthahhari menilai Keesaaan dalam perbuatan Tuhan menolak anggapan bahwa hanya hal-hal yang tidak diketahui sebabnya yang ditafsirkan sebagai perbuatan Tuhan atau dengan istilah lain,” kita baru mencari Tuhan pada ruang lingkup ketidaktahuan kita”. Hal ini jelas tertolak karena jika demikian halnya, maka penemuan-penemuan ilmiah yang tentunya dapat mempersempit wilayah ketidaktahuan akan mempersempit pula peran Tuhan sehingga pada akhirnya ungkapan “ilmu telah menyingkirkan Tuhan setelah sebelumnya Dia dihargai dan diagung-agungkan perbuatan-perbuatan-Nya.”

 

Muthahhari menegaskan bahwa alam raya, dengan segala isinya adalah pengejawantahan dari kekuasaan, ilmu, hikmah, dan kehendak Allah, baik yang diketahui maupun tidak.

Pandangan Muthahhari di atas tentunya berarti penolakan terhadap “sebab-akibat” atau peremehan terhadap “hukum-hukum alam”, tetapi yang dimaksudkannya adalah bahwa kedua hal tersebut pada hakikatnya hanya merupakan “ikhtisar dari pukul rata statistik” dan bahwa hukum-hukum “alam” merupakan perbuatan Tuhan yang berfungsi karena kehendak-Nya, tetapi ia dapat tidak berfungsi bila dikehendakiNya.

 

Dalam bukunya, Al Imdad Al-Ghaybiy fi Hayah Al-Basyariyah, Muthahhari menekankan adanya apa yang dinamai “ bantuan gaib dari alam metafisika”. Segala sesuatu yang terjadi, kejadiannya bersumber dari hal gaib tersebut, dan dalam saat yang sama, terkadang terjadi hal-hal khusus yang juga bersumber darinya. Hal ini dapat dirasakan atau dialami dalam kehidupan pribadi atau masyarakat berupa petunjuk atau ilham maupun berupa terciptanya satu kondisi yang memungkinkan terjadinya hal-hal yang menggembirakan.

 

Tiga macam keesaaan di atas-Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan tercakup dalam bagian tauhid yang bersifat teoritis, karena yang dimaksud oleh Muthahhari dengan kata teoritis dalam hal ini adalah “cara berpikir yang mengantar seseorang kepada kesimpulan-kesimpulan, sementara kesimpulan-kesimpula itu bersifat teoritis serta berada dalam lingkup pemikiran”. Ketiga hal di atas berbeda dengan keyakinan Tauhid dalam ibadah.

 

Tauhid ibadah, menurut Muthahhari adalah “ketaatan yang diarahkan hanya kepada Allah semata sehingga menjadikan-Nya tumpuan hati serta tujuan segala langkah dan gerak. Mengarahkan pandangan kepada yang maujud, baik lahir maupun bathin, tidak mengurangi arti tauhid ibadah selama yang bersangkutan ketika mengarah ke sana menjadikannya sarana guna menuju kepada Allah SWT. Atas dasar pengertian ini, Muthahhari antara lain mengecam aliran-aliran yang melarang ziarah kubur atau melakukan tawassul. Dia menganalogikan hal ini sebagai mengarahkan kepada rambu-rambu lalu lintas.” Seseorang yang memperhatikan rambu-rambu lalu lintas untuk mengantarkannya kepada tujuan hakikatnya bukan berarti mengarah kepada rambu-rambu tersebut tetapi mengarah kepada tujuan itu sendiri.” Kata Muthahhari.

Keesaaan dalam ibadah menurut Muthahhari mempunyai dua sisi. Sisa pertama berkaitan dengan Tuhan dan sisi kedua berkaitan dengan manusia. Sisi pertama mengantarkan seseorang untuk tidak mengabdi kecuali kepada Allah, sedangkan sisi kedua mendorong manusia melakukan pengabdian hanya kepada-Nya.

 

Keesaan dalam bidang ini adalah penerapan bidang-bidang teoritis di atas dan karena itu kepercayaan Tauhid berbeda dengan sekian banyak masalah yang berada dalam ruang lingkup pemikiran pasti menghhasilkan buah pada cara berpikir dan pengamalan.

 

Seseorang telah dianggap mengesakan Tuhan apabila ia telah mencapai ketiga fase teoritis. Namun, ia belum lagi mengesakan-Nya secara sempurna sebelum bagian yang bersifat teoritis tersebut dapat diterapkan dalam kehidupannya dan yang dampaknya antara lain tampak pada kebutuhan kepribadian (personality)-nya. Yang mengesakan Tuhan secara praktis tidak akan dikuasai oleh dua pengaruh atau kekuatan yang saling bertentangan, tetapi ia hanya tunduk kepada satu kekuatan yang dan dipengaruhi oleh-Nya.[4]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Pada dasarnya, tauhid adalah pandangan ketuhanan (teologi).  Tauhid tersimpul dalam kredo persaksian (syahadat) Muslim, “tidak ada tuhan selain Allah.” Kalimat tersebut  terdiri dari dua konsep, yakni “menidak” (nafi), dan “meng-iya” atau peneguhan (itbat). “Menidak” adalah tindakan khas manusia, sebuah pola eksistensial (mengada). Inilah konsep destruksi tauhid: peruntuhan, dan penghancuran segenap tuhan-tuhan palsu. Destruksi Tauhid merupakan keniscayaan, prasyarat mutlak untuk afirmasi, atau  konstruksi Tauhid: pengakuan kepada Tuhan Yang Esa, Allah.

 

Murtadha Muthahhari, ulama-filosof Iran,  membagi tauhid menjadi dua, yaitu tauhid teoretis dan tauhid praktis. Tauhid teoretis terdiri dari: pertama, tauhid dzati yakni meyakini bahwa Allah adalah wajib al-wujud, maha esa,  tidak ada dualitas atau pluralitas, dan tak memiliki kesamaan. (QS. 42:11, 112:4) Kedua, tauhid sifati, yaitu meyakini ketunggalan sifat dengan zat-Nya. Ketiga, tauhid fi’li adalah mempercayai bahwa Allah adalah pencipta, penguasa, dan pengatur kosmos raya. Sedangkan tauhid praktis adalah tauhid dalam ibadah. Tauhid tipe ini memiliki dua sisi, yaitu sisi Allah dan sisi manusia. Sisi Allah adalah bahwa tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah. Sisi manusianya adalah bahwa hamba-hamba  (abid) tidak boleh menyembah sesembahan (ma’bud) selain Allah.

 

Dalam Islam, bagi Muthahhari,  tauhid bukan sekedar gugus keyakinan teologis, tetapi juga sebuah bingkai epistemologis. Dengan kata lain, tauhid adalah teropong realitas, cara memandang dunia. Oleh sebab itu, tauhid merupakan  pandangan dunia.

 

Muthahhari mendefinisikan pandangan-dunia tauhid adalah pemahaman bahwa alam dapat maujud melalui kehendak bijak, dan bahwa tatanan kemaujudan berdiri di atas dasar kebaikan dan rahmat, agar maujud-maujud dapat mencapai kesempurnaan mereka (Muthahhari 1994, 19).  Dengan kata lain, alam semesta ini sumbunya satu (unipolar) dan orbitnya satu (uniaxial). Artinya, hakekat alam semesta ini berasal dari Allah/Inna Lillah dan akan kembali kepada-Nya/Inna ilaihi raji’un.[5]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muthhhari, Murtadha, Pandangan-Dunia Tauhid, Bandung: Yayasan Muthahhari, 1994

Muthahari,Murtadha, Kenabian Terakhir, Jakarta,2005 : Lentera

Oka GD, Bagus, Mahatma Gandhi, Bali, 1982 : Yayasan Bali Canti Cena

Makalah Prof. DR. Quraish Shihab ini pernah termuat di Jurnal Al-Hikmah, Jumada Al-Ula- Jumada Al-Tsaniyah, 1413H/November-Desember 1992. Yayasan Muthahhari Bandung

Muthahahri, Murtadha, Manusia dan Alam Semesta, Jakarta: Lentera, 2002


[1] Muthhhari, Murtadha, Pandangan-Dunia Tauhid, Bandung: Yayasan Muthahhari, 1994

[2] Muthahari,Murtadha, Kenabian Terakhir, Jakarta,2005 : Lentera

[3] Oka GD, Bagus, Mahatma Gandhi, Bali, 1982 : Yayasan Bali Canti Cena

[4] Makalah Prof. DR. Quraish Shihab ini pernah termuat di Jurnal Al-Hikmah, Jumada Al-Ula- Jumada Al-Tsaniyah, 1413H/November-Desember 1992. Yayasan Muthahhari Bandung

[5] Muthahahri, Murtadha, Manusia dan Alam Semesta, Jakarta: Lentera, 2002

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s