Ilmu, A’lim dan Ma’lum

ilustrasi-_120531080600-686

 

 

 

 

 

 

Telah diketahui bahwa mawjud (yang ada) dibagi menjadi:

1.Yang memiliki potensialitas, seperti materi dan sesuatu yang bersifat materi (material things)
2.Yang memiliki aktualitas, seperti sesuatu yang non-materi (immaterial things)

Sesuatu yang pertama kali mengaksiden pada yang non-materi akan menjadi ‘ilm (ilmu), ‘ālim (subyek yang mengetahui), dan ma’lūm (objek yang diketahui).

Ilmu merupakan wujud yang non-materi hadir pada wujud yang non-materi.

*

Kita mendapatkan ilmu merupakan hal yang sudah jelas dengan sendirinya.

Konsep ilmu juga merupakan konsep yang bagi kita sudah jelas dengan sendirinya dan tidak perlu lagi didefinisikan.

Dalam pembahasan wujud mental (wujud dzihni) bahwa manusia mengetahui hal-hal yang eksternal atau yang berada di luar dari dirinya. Artinya dia memiliki pengetahuan terhadap sesuatu yang berada pada realitas eksternal.

Sesuatu yang ada pada realitas eksternal itu hadir melalui kuiditasnya (mahiyah, quiddity) bukan melalui wujud sesuatu yang eksternal dimana ia memiliki efek.

Jika tidak demikian, maka api hadir pada manusia dalam bentuk wujud eksternalnya yang memiliki efek hingga membakar pikirannya.

Jadi, sesuatu itu hadir dalam bentuk kuiditasnya hingga efeknya tidak terjadi. Kuiditas sesuatu hadir atau tampak dalam pikiran manusia. Ini merupakan salah satu jenis ilmu yang dinamakan dengan ilmu hushuli (mediated knowledge, acquired knowldege).

*

Ilmu atau pengetahuan seseorang terhadap esensinya sendiri juga merupakan salah satu jenis ilmu.

Esensinya juga ditunjukkan sebagai “aku”, karena manusia tidak lengah dari dirinya sendiri dalam keadaan apapun, baik saat sendiri atau di tengah keramaian, baik dalam keadaan tidur maupun dalam keadaan sadar atau bangun, atau dalam keadaan apapun.

Kuiditas esensi orang itu atau dzatnya hadir pada padanya bukan dalam bentuk konsep atau ‘ilmu hushuli.

Hal ini disebabkan karena konsep yang hadir pada pikiran diasumsikan bagaimana pun juga pasti memiliki banyak ekstensi, sementara dirinya terindividuasi dengan wujud eksternal.

*

Diri kita  yang kita saksikan yang diibaratkan dengan “aku” merupakan sesuatu yang bersifat individual pada esensinya yang tidak bisa disharing dengan yang lain.

Individuasi merupakan keadaan wujud itu sendiri.

Pengetahuan kita terhadap diri kita merupakan hadirnya diri kita pada diri kita sendiri dalam wujud eksternalnya yang bersifat individu dan memiliki efek.

Ini merupakan bagian lain dari ilmu dan disebut dengan ‘ilmu hudhuri.

*

Dengan demikian, ma’lum (obyek yang diketahui) yang dihasilkan oleh alim (subyek yang mengetahui).

Jika ma’lum itu dalam bentuk kuiditasnya maka disebut ilmu hushuli, dan jika ma’lum itu dalam bentuk wujudnya maka disebut ilmu hudhuri.

Ilmu dihasilkan oleh kita, berarti ma’lum dihasilkan oleh kita, karena ilmu merupakan ma’lum secara esensi.

Jadi, ilmu merupakan ma’lum dihasilkan oleh kita. Meraih sesuatu artinya kehadiran sesuatu, yang tidak lain merupakan wujudnya, sementara wujudnya itu adalah dirinya sendiri.

Ma’lum diraih oleh alim berarti penyatuan alim dengan ma’lum, baik ma’lum bersifat ilmu hudhuri atau bersifat ilmu hushuli.

*

Hadirnya ma’lum pada diri ‘alim mengharuskan keberadaan ma’lum sebagai sesuatu yang sempurna secara aktualitas tanpa bergantung atau terikat pada materi dan potensialitas yang menyebabkan ketidaksempurnaannya.

Hadirnya ma’lum juga meniscayakan ‘alim yang menerima ilmu juga merupakan sesuatu yang sempurna secara aktual tanpa kekurangan dari sisi kebergantungan dengan potensialitas. Jadi, ‘alim itu non-materi serta terlepas dari potensialitas.

Ilmu merupakan hadirnya mawjud non-materi pada mawjud non-materi, baik sesuatu yang dihasilkan itu merupakan diri ‘alim itu sendiri, seperti ilmu sesuatu terhadap dirinya sendiri, atau sesuatu yang dihasilkan itu bukan diri ‘alim, seperti ilmu sesuatu terhadap kuiditas yang di luar dari dirinya.

*

Ilmu Hushuli dibagi menjadi Universal dan Partikular

Universal adalah konsep yang memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada banyak ekstensi.

Contoh: ilmu atau pengetahuan terhadap kuiditas manusia. Jenis pengetahuan atau ilmu ini disebut ‘aql atau ta’aqqul (inteleksi).

Partikular adalah konsep yang tidak memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada banyak ekstensi.

Contoh: ilmu atau pengetahuan terhadap “manusia ini” (ada hubungan keterikatan dengan materinya yang hadir). Jenis pengetahuan atau ilmu ini disebut ilmu inderawi (‘ilm ihsasi, sensory knowledge).

Contoh: ilmu atau pengetahuan terhadap salah satu individu manusia (materinya tidak hadir). Jenis pengetahuan atau ilmu ini disebut ilmu imajinatif (‘ilm khyali, imaginary knowledge).

Kedua jenis ilmu ini (ilmu inderawi dan ilmu imajinatif) tidak memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada banyak ekstensi. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan alat inderawi dengan ma’lum yang ada pada realitas luar dalam ilmu inderawi. Adapun ilmu imajinatif bersandar pada ilmu inderawi. Jika tidak demikian, maka bentuk mental bagaimana pun diasumsikan tetap memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada banyak ekstensi

*

Ilmu universal dan partikular itu keduanya non-materi karena shurah ‘ilmiyyah (bentuk ilmiah) itu bersifat aktual pada esensinya dan tidak mengalami perubahan.

Shurah ‘ilmiyyah (bentuk ilmiah) bagaimana pun diasumsikan memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada banyak ekstensi. Sementara mawjud yang bersifat materi itu terindividuasi hingga tidak memiliki kapabilitas untuk dikorespondensikan pada lebih dari satu ekstensi.

Jika bentuk inderawi atau bentuk imajinatif itu bersifat materi dan berada pada salah satu bagian tubuh manusia, maka bentuk tersebut bisa terbagi jika tempatnya dibagi (dipotong) dan berada pada waktu dan ruang. Sementara hal tersebut tidak sedemikian itu.

Ilmu tidak dapat dibagi (dipotong) dan ditunjuk untuk ditentukan posisi tempatnya. Ilmu juga tidak terikat dengan waktu, karena kita bisa mengkonsepsikan bentuk inderawi pada waktu tertentu setelah beberapa lama sebagaimana bentuknya tanpa ada perubahan pada bentuknya. Sekiranya bentuk itu terikat oleh waktu niscaya bentuk itu akan berubah dengan perjalanan waktu.

*

Adapun pandangan bahwa menghasilkan ilmu itu bersamaan dengan waktu, pada dasarnya merupakan kebersamaan dengan syarat-syarat menghasilkan kesiapan bukan ilmu itu sendiri.

Dengan perantara alat-alat indera dalam menghasilkan bentuk inderawi dan kebersandaran ilmu imajinatif pada ilmu inderawi, pda dasarnya merupakan upaya menghasilkan kesiapan khusus bagi jiwa supaya mampu mengkonsepsikan shurah ilmiyah (bentuk ilmu).

Pandangan filsuf bahwa “ta’aqqul” (berinteleksi) merupakan proses melepaskan (mengabstraksikan) ma’lum dari materi dan karakteristiknya hingga yang tersisa hanyalah kuiditas. Seperti konsep manusia yang telah diabstraksikan dari materi bendawi dan karakteristik waktu, ruang, posisi, dan selainnya.

Berbeda dengan “mengindera” karena disyaratkan dengan hadirnya materi dan bersama karakteristiknya.

Mengkhayal atau berimajinasi disyaratkan dengan tetapnya karakteristik ma’lum meskipun materi bendawi tidak hadir.

Pandangan ini merupakan untuk memudahkan dipahami.

*

Obyek inderawi merupakan bentuk yang non-materi, adapun syarat hadirnya materi dan bersama dengan karakteristiknya untuk menghasilkan kesiapan pada jiwa supaya bisa mengindera.

Obyek inderawi merupakan bentuk yang non-materi, adapun syarat bersama dengan karakteristiknya untuk menghasilkan kesiapan pada jiwa supaya bisa mengkhayal.

Begitu juga dengan syarat pengabstraksian kuiditas dari materi dan karakteristiknya supaya bisa berinteleksi.

*

Wujud dari sisi terabstraksi dari materi dan tidak terabstraksi dari materi, terbagi menjadi tiga alam universal, yaitu:

1.Alam materi dan potensialitas
2.Alam yang terabstraksi dari materi tetapi tidak terabsraksi dari karakteristiknya, seperti bentuk, ukuran, posisi, dll. Dalam alam ini terdapat bentuk bendawi dan karakteristiknya tanpa ada materinya yang membawa potensialitas. Alam ini disebut juga dengan alam mitsal dan barzakh antara alam akal dan alam materi.
3.Alam yang terabstraksi dari materi dan karakteristiknya.

Alam mitsal dibagi menjadi dua, yaitu:

a.Alam mitsal besar yang bersandar pada dirinya sendiri.
b.Alam mitsal kecil yang bersandar pada jiwa. Jiwa bertindak dalam alam ini sesuai kehendaknya berdasarkan dorongan yang berbeda-beda, hakiki atau tidak hakiki, kadang ia mengadakan bentuk yang real dan kadang bentuk yang fantasi.
*

Ketiga alam tersebut memiliki urutan secara vertikal.

Yang lebih tinggi dan lebih dahulu ada serta lebih dekat dari Sumber Awal adalah alam akal (non-materi karena aktualitasnya sempurna dan esensinya terlepas dari campuran materi dan potensialitas.

Kemudian diikuti oleh alam mitsal yang terlepas dari materi, tetapi tidak terlepas dari karakteristiknya.

Kemudian alam materi, yang merupakan tempat segala kekurangan dan kejahatan.

*

Ilmu dibagi menjadi Universal dan Partikular.

Yang dimaksud dengan universal adalah sesuatu yang tidak berubah dengan perubahan ma’lum bi al-ardh (objek aksidental dari ilmu).

Contoh: Bentuk bangunan yang dikonsepsikan oleh tukang batu pada dirinya supaya dia membangun bangunan seperti bentuk tersebut.

Bentuk bangunan ada pada diri tukang batu sebelum dibangun, saat dibangun, dan setelah dibangun, dan tetap ada meskipun bangunan itu telah hancur. Ini dinamakan ilmu sebelum pluralitas.

Ilmu yang dihasilkan melalui melalui sebab-akibat disebut universal.

Contoh lain seperti ilmu astronomi tentang gerhana matahari dan gerhana bulan

*

Yang dimaksud dengan partikular adalah sesuatu yang berubah dengan perubahan ma’lum bi al-ardh (objek aksidental dari ilmu).

Contoh: Pengetahuan kita melalui indera penglihatan terhadap gerakan Zaid, ketika dia berhenti dari gerakannya maka shurah ‘ilmiyah juga berubah dari bergerak menjadi diam. Ini disebut dengan ilmu setela pluralitas.

Ilmu terhadap perubahan bukan berarti ilmu berubah. Yang berubah itu tetap dalam perubahannya dan tidak berubah.

Ilmu berkaitan dengan sesuatu yang berubah, artinya hadirnya sesuatu yang berubah itu pada alim dari sisi yang tetap bukan dari sisi yang berubah.

 

*

Macam-macam Ta’aqqul (Berinteleksi)

’Aql bi al-quwwah (inteleksi secara potensial), artinya secara aktual bukan merupakan sesuatu dari ma’qulat (obyek yang diinteleksi) dan tidak memiliki sesuatu pun dari dari ma’qulat (obyek yang diinteleksi), karena jiwa masih kosong dari seluruh ma’qulat (obyek yang diinteleksi).

Akal menginteleksikan salah satu atau beberapa ma’qulat (obyek yang diinteleksi) secara aktual dengan membedakan sebagian dengan sebagian yang lain dan mengaturnya. Ini disebut dengan ‘aql tafshili (inteleksi secara detail)

Akal menginteleksi ma’qulat (obyek yang diinteleksi) tanpa membedakan sebagian dengan sebagian yang lain, tetapi dalam bentuk akal basith (sederhana, simple). Ia dalam bentuk ijmali (tanpa ada bentuk yang dibedakan) yang di dalamnya terdapat semua dalam bentuk detail.

Contoh: Jika Anda ditanya tentang beberapa pertanyaan fiqih, dan Anda memiliki pengetahuan fiqih. Pengetahuan fiqih Anda disebut ilmu ijmali, sedangkan jawaban Anda terhadap pertanyaan itu disebut ilmu tafshili.

*

Tingkatan-tingkatan akal, yaitu:

a.‘Aql bi al-quwwah, bersifat potensial jika dibandingkan dengan semua ma’qulat (obyek yang diinteleksi). Disebut juga ‘aql hayulani (akal material) kosong dari ma’qulat (obyek yang diinteleksi). Ia serupa dengan materi awal yang bersifat potensial dibandingkan dengan semua bentuk (form).
b.‘Aql bi al-malakah (akal bakat), akal menginteleksikan konsep-konsep (tashawwurat) dan penilaian-penilaian (tashdiqat) yang sudah jelas dengan sendirinya (badihi, self-evident). Pengetahuan terhadap hal-hal yang sudah jelas dengan sendirinya (badihi) itu lebih dahulu dari pengetahuan terhadap hal-hal yang spekulatif (nazhari).
c.‘Aql bi al-fi’l (akal aktual), akal berhubungan dengan hal-hal yang spekulatif (nazhari) melalui perantara hal-hal yang sudah jelas dengan sendirinya (badihi), meskipun sebagian dari hal-hal yang spekulatif (nazhari) bersandar pada hal-hal lain yang spekulatif (nazhari). Artinya, yang pertama bersifat pokok dan yang lain bersifat cabang. Seperti pembuktian bahwa ilmu itu non-materi, atas dasar ini dibuktikan bahwa jiwa juga non-materi.
d.Akal menginteleksikan semua yang didapatkan dari ma’qulat badihi dan ma’qulat nazhari yang sesuai dengan hakikat-hakikat di alam yang tertinggi dan yang terendah. Dengan kata lain, semuanya itu hadir pada dirinya secara aktual. Akal menjadi alam pengetahuan yang  menyerupai alam eksternal. Ini disebut juga ‘aql mustafad (akal perolehan)
*

Yang Memancarkan Shurah Ilmiyyah

Yang memancarkan bentuk-bentuk inteleksi universal, yang juga mengeluarkan manusia dari potensialitas menuju aktualitas, adalah akal non-materi (‘aql mufariq). Semua bentuk-bentuk inteleksi universal ada pada akal non-materi.

Argumentasinya:

Anda mengetahui bahwa bentuk-bentuk inteleksi (shuwar ‘aqliyyah) dari sisi sebagai ilmu merupakan hal-hal yang non-materi. Atas dasar ini, bentuk-bentuk inteleksi ini universal dan bisa disharing pada banyak ekstensi.

Setiap sesuatu yang menempati materi itu satu dan individual yang tidak bisa disharing pada banyak ekstensi.

Jadi, bentuk-bentuk inteleksi itu non-materi. Yang memancarkan bentuk-bentuk inteleksi itu merupakan sesuatu yang non-materi, karena sesuatu yang bersifat materi merupakan wujud yang lemah. Kesimpulannya, sesuatu yang lebih kuat daripadanya tidak mungkin berasal dari wujud yang lemah. Hal ini berdasarkan esensi materi disyaratkan dengan posisi yang khusus, sementara sesuatu yang non-materi tidak memiliki posisi

*

Sesuatu non-materi yang memancarkan bentuk-bentuk inteleksi bukanlah jiwa yang menginteleksikan bentuk-bentuk inteleksi yang non-materi, karena jiwa (sebelum mengetahuinya) bersifat potensial dibandingkan bentuk-bentuk inteleksi. Relasinya bersifat potensial yang menerima bukan bersifat aktual yang memberi.

Sesuatu yang bersifat potensial mustahil bisa mengeluarkan dirinya dari potensialitas menuju aktualitas.

Atas dasar ini, yang memancarkan bentuk-bentuk inteleksi adalah substansi intelek yang non-materi. Padanya, terdapat semua bentuk inteleksi universal dalam bentuk ilm ijmali.

Jiwa yang siap menginteleksi menyatu dengan substansi intelek non-materi sesuai dengan kesiapannya atau kemampuannya, kemudian substansi intelek non-materi memancarkan bentuk-bentuk inteleksi kepada jiwa yang siap menerimanya.

Adapun yang memancarkan bentuk-bentuk ilmiah yang partikular adalah substansi imajinal (mitsali) yang non-materi. Padanya, terdapat semua bentuk imajinal partikular dalam bentuk ‘ilm ijmali. Jiwa menyatu dengan substansi imajinal itu sesuai dengan kesiapan yang dimilikinya.

*

Ilmu Hushuli dibagi menjadi Tashawwur dan Tashdiq.

Jika ilmu hushuli, atau bentuk yang dihasilkan dari satu ma’lum (seperti satu individu manusia) atau banyak ma’lum (seperti banyak individu manusia) tanpa diafirmasikan atau dinegasikan maka disebut konsep atau tashawwur, seperti konsep manusia, benda, substansi.

Jika ilmu hushuli, atau bentuk yang dihasilkan dari ma’lum disertai dengan mengafirmasikan sesuatu pada sesuatu yang lain, atau menegasikan sesuatu dari sesuatu yang lain, maka disebut penilaian atau tashdiq, seperti pernyataan “manusia itu tertawa” atau “manusia itu bukan batu.” Dari sisi hukumnya disebut proposisi.

 

*

Proposisi yang mencakup penetapan sesuatu pada sesuatu yang lain atau penegasian sesuatu dari sesuatu yang lain, itu tersusun dari beberapa bagian.

Pandangan umum, proposisi afirmatif tersusun dari subyek, predikat, relasi hukum, yaitu relasi predikat terhadap subyek, dan hukum terhadap penyatuan subyek dengan predikat. Ini berkaitan pada haliyyah murakkabah, yaitu predikat-predikatnya bukan merupakan wujud subyeknya. Predikat pada haliyyah murakkabah merupakan sifat-sifat khusus subyek, dengan kata lain predikatnya merupakan wujud yang terikat, tetapi predikat pada haliyyah basithah merupakan wujud mutlak.

Adapun pada haliyyah basithah, yaitu predikatnya merupakan wujud subyek, seperti pernyataan “manusia itu ada” maka bagian-bagiannya hanya tiga, yaitu subyek, predikat, dan hukum. Keberadaan relasi hukum tidak bermakna, artinya wujud rabith (yang mengikat) antara sesuatu dengan dirinya.

*

Proposisi negatif itu tersusun dari subyek, predikat, dan relasi hukum positif. Tidak ada hukum pada proposisi negatif. Hukum peniadaan juga tidak terdapat pada proposisi negatif, karena hukum merupakan menjadikan sesuatu sebagai sesuatu yang lain, sementara menegasikan hukum merupakan tidak menjadikannya sesuatu bukan menjadikan sesuatu yang tiada.

Pandangan Allamah Thabatabai:

Relasi hukum bukan merupakan bagian dari proposisi, karena keperluan untuk mengkonsepsikan relasi hukum dari sisi hukum itu ditinjau sebagai tindakan jiwa, bukan ditinjau sebagai bagian dari proposisi.

Bagian-bagian proposisi itu adalah subyek, predikat, dan hukum. Dalam realisasi proposisi sebagaimana proposisi itu tidak perlu mengkonsepsikan relasi hukum. Keperluan untuk mengkonsepsikan relasi hukum supaya hukum terealisasi dari jiwa dan menjadikan subyek sebagai predikat.

Hal ini dibuktikan bahwa proposisi pada haliyyah basithah terealisasi tanpa relasi hukum yang mengikat predikat dengan subyek.

*

Atas dasar ini, dibuktikan bahwa:

Proposisi afirmatif memiliki tiga bagian, yaitu subyek, predikat, dan hukum. Proposisi negatif memiliki dua bagian, yaitu subyek dan predikat. Relasi hukum dibutuhkan oleh jiwa dalam tindakannya untuk memberi hukum, bukan supaya proposisi terealisasi maka perlu pada relasi hukum.

Hukum merupakan tindakan dari jiwa dalam pengetahuan mental. Jiwa melaksanakan tugasnya dalam memberikan hukum pada proposisi, bukan datang dari luar dirinya secara pasif.

Hakikat hukum dalam proposisi “Zaid itu berdiri”, jiwa menerima satu mawjud “Zaid yang berdiri” melalui indera, kemudian jiwa membaginya menjadi konsep “Zaid” dan konsep “berdiri”, lalu menyimpan kedua konsep pada dirinya, kemudian jika jiwa ingin mengisahkan apa yang ditemukannya pada realitas luar. Jiwa lalu mengambil bentuk “Zaid” dan bentuk “berdiri” dari perbendaharaannya. Bentuk itu ada dua, kemudian jiwa menjadikan keduanya satu yang memiliki satu wujud. Inilah yang disebut dengan hukum. Hukum merupakan aktivitas jiwa yang mengisahkan realitas luar sebagaimana adanya.

*

Hukum merupakan aktivitas jiwa, di samping juga merupakan salah satu dari bentuk-bentuk mental yang mengisahkan  realitas luar.

Bentuk Zaid yang hadir pada pikiran merupakan keadaan jiwa yang bersifat pasif terhadap bentuk tersebut. Adapun berkaitan dengan hukum, maka itu merupakan aktivitas jiwa.

Jika jiwa dihubungkan dengan bentuk realitas eksternal maka jiwa sebagai penerima bentuk itu.

Jika jiwa dihubungkan dengan hukum, maka jiwa sebagai pelaku, artinya jiwa yang mengadakan hukum.

Sekiranya hukum itu merupakan konsep yang diambil dari realitas luar maka proposisi tidak akan membuat sebuah pernyataan yang sempurna

Tashdiq bersandar atas konsepsi subyek dan predikat. Tidak ada tashdiq tanpa tashawwur.

*

Ilmu Hushuli terbagi atas Badihi dan Nazhari

Badihi merupakan sesuatu yang dalam tashawwur dan tashdiqnya tidak perlu pada refleksi atau pemikiran spekulatif.

Contoh:

Konsep “sesuatu”, “satu”, dsb.

Pernyataaan bahwa dua itu bilangan genap, keseluruhan lebih besar daripada sebahagian.

Nazhari merupakan sesuatu yang dalam tashawwur dan tashdiqnya bersandar pada refleksi atau pemikiran spekulatif.

Contoh:

Konsep kuiditas manusia, kuda

Pernyataan bahwa manusia itu memiliki jiwa yang non-materi

*

Ilmu Nazhari itu berakhir pada ilmu badihi. Ilmu Nazhari itu menjadi jelas dengan ilmu badihi. Jika tidak demikian maka tidak akan berakhir.

Badihi itu banyak jenisnya dijelaskan pada logika. Yang pertama adalah menerima prinsip-prinsip primer, yaitu proposisi yang dalam penilaiannya cukup dengan mengkonsepsikan subyek dan predikat, seperti pernyataan bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebahagian.

Proposisi bahwa dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa berkumpul merupakan dasar dari prinsip-prinsip primer. Artinya, jika proposisi afirmatifnya benar, maka proposisi negatifnya salah, atau jika proposisi afirmatifnya salah, maka proposisi negatifnya benar.

*

Yang dimaksud dengan ma’qūl (bentuk plural, ma’qūlāt)  adalah apa yang dipahami oleh pikiran atau akal. Ma’qūlāt itu sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu ma’qūl awwal (apa yang dipahami pertama kali) seperti quiditas, ma’qūl tsānī manthiqī (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal secara logis) seperti universal dan partikular, dan ma’qūl tsānī falsafī (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal secara filosofis) seperti wujud (ada) dan satu.

Konsep (mafhūm), makna, dan bentuk (shūrah) yang ada pada pikiran dibagi menjadi dua, yaitu makna universal dan makna partikular. Makna-makna yang universal itulah dinamakan dengan ma’qūl, sementara makna-makna partikular tidak diistilahkan dengan ma’qūl. Jadi, ma’qūlāt adalah bentuk-bentuk universal yang ada pada pikiran. Adapun makna-makna partikular yang ada pada pikiran dibagi menjadi makna-makna inderawi, makna-makna imajinatif, dan makna-makna ilusif. Sementara makna-makna universal dibagi menjadi dua, ma’qūlāt awwaliyah (apa yang dipahami pertama kali) dan ma’qūlāt tsāniyah (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal)

*

Yang dimaksud dengan ma’qūl (bentuk plural, ma’qūlāt)  adalah apa yang dipahami oleh pikiran atau akal. Ma’qūlāt itu sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu ma’qūl awwal (apa yang dipahami pertama kali) seperti quiditas, ma’qūl tsānī manthiqī (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal secara logis) seperti universal dan partikular, dan ma’qūl tsānī falsafī (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal secara filosofis) seperti wujud (ada) dan satu.

Konsep (mafhūm), makna, dan bentuk (shūrah) yang ada pada pikiran dibagi menjadi dua, yaitu makna universal dan makna partikular. Makna-makna yang universal itulah dinamakan dengan ma’qūl, sementara makna-makna partikular tidak diistilahkan dengan ma’qūl. Jadi, ma’qūlāt adalah bentuk-bentuk universal yang ada pada pikiran. Adapun makna-makna partikular yang ada pada pikiran dibagi menjadi makna-makna inderawi, makna-makna imajinatif, dan makna-makna ilusif. Sementara makna-makna universal dibagi menjadi dua, ma’qūlāt awwaliyah (apa yang dipahami pertama kali) dan ma’qūlāt tsāniyah (apa yang dipahami setelah ma’qūl awwal)

*

Sebagian filsuf menjelaskan bagaimana proses mendapatkan makna universal yang ada pada pikiran. Ma’qūl awwal merupakan bentuk langsung dari sesuatu yang ada pada pikiran, atau kuiditas sesuatu. Awalnya, pikiran berhubungan dengan realitas luar melalui daya inderawi. Ketika terjadi hubungan antara pikiran dengan realitas luar maka terealisasi bentuk inderawi dari sesuatu yang ada pada realitas luar sebagai pengetahuan inderawi.

*

Kemudian daya imajinatif membuat bentuk imajinatif yang serupa dengan bentuk inderawi itu, dan menjaga bentuk tersebut sesuai dengan kedudukannya. Bentuk yang ada pada daya inderawi berbeda dengan bentuk yang ada pada daya imajinatif. Daya inderawi mengambil bentuk dari wujud eksternal, sementara daya imajinatif mengambil bentuk dari daya inderawi. Daya inderawi menjaga bentuk yang sesuai dengan daya inderawi, sedangkan daya imajinatif membuat bentuk lain selain bentuk inderawi. Bentuk yang ada pada daya inderawi merupakan bentuk partikular. Begitu juga bentuk yang ada pada daya imajinatif merupakan bentuk partikular. Kemudian pada tingkatan yang lebih tinggi, daya intelek mengambil bentuk dari daya imajinatif dan menjaganya sesuai dengan kedudukannya. Bentuk itu disebut dengan bentuk universal. Oleh sebab itu, obyek yang diketahui melalui indera dan imajinasi disebut makna partikular, sementara obyek yang diketahui oleh akal disebut makna universal. Mengutip pandangan Mulla Sadra, Mutahhari menjelaskan bentuk inderawi tetap terjaga pada kedudukannya, kemudian daya intelek mewujudkan bentuk lain yang sesuai dengan kedudukannya. Artinya, bentuk eksternal menjadi bentuk inderawi, kemudian menjadi bentuk imajinatif, kemudian menjadi bentuk intelek. Bentuk intelek inilah yang disebut dengan “quiditas sesuatu.” Merah datang dari wujud luar menuju indera, kemudian menuju imajinasi, kemudian menuju intelek. Dari sinilah didapatkan konsep universal dari merah.

*

Mas’ud Ismaili menjelaskan ciri-ciri khusus dari ma’qūl awwal (apa yang dipahami pertama kali), di antaranya ma’qūl awwal merupakan konsep quiditas yang menjelaskan keapaan sesuatu, ma’qūl awwal didapatkan tanpa perantara konsep akal yang lain dan didahului oleh indera, ma’qūl awwal memiliki individu partikular, dan ma’qūl awwal merupakan predikat pada hal-hal yang ada pada wujud luar

Hal ini bisa dicontohkan ketika kita mengatakan, “Benda ini merah” maka benda dan putih merupakan dua konsep kuiditas. Benda disifatkan dengan merah pada realitas luar. Benda dan merah juga berbeda pada realitas luar.

*

Kesimpulannya, ma’qūlāt awwaliyyah merupakan bentuk-bentuk universal atau makna-makna universal yang langsung pada sesuatu-sesuatu yang ada pada pikiran, atau dengan kata lain ma’qūlāt awwaliyyah adalah kuiditas-kuiditas dari sesuatu-sesuatu. Ma’qūlāt awwaliyyah juga merupakan sepuluh kategori. Jadi, kategori-kategori itu sama dengan ma’qūlāt awwaliyyah dan sama dengan kuiditas-kuiditas, yaitu makna-makna universal yang didapatkan oleh pikiran secara langsung dari realitas. Seperti maka buku yang bersifat universal yang ada pada pikiran, makna putih yang bersifat universal, makna kertas yang bersifat universal, dan sebagainya.

*

Ma’qūlāt tsāniyah merupakan sifat-sifat atau keadaan-keadaan dari ma’qūlāt awwaliyyah. Ma’qūlāt tsāniyah bukan merupakan bentuk-bentuk dari entitas luar. Ma’qūlāt tsāniyah tidak didahului oleh proses inderawi serta tidak melalui tahapan-tahapan, seperti tahapan bentuk inderawi, tahapan bentuk imajinatif, dan tahapan bentuk intelek. Ma’qūlāt tsāniyah tidak dikhususkan pada sesuatu tertentu sebagaimana ma’qūlāt awwaliyyah dikhususkan pada suatu kelompok khusus, artinya sebagian dikhususkan pada kelompok substansi, sebagian dikhususkan pada kelompok kualitas, sebagian dikhususkan pada kelompok kuantitas, dan sebagainya.

*

Ma’qūlāt tsāniyah dibagi menjadi dua, yaitu bersifat logis dan yang bersifat filosofis. Yang bersifat logis seperti universal, partikular, predikat, subyek, genus, differensia, spesis, aksiden umum, aksiden khusus, dan sebagainya. Sementara yang bersifat filosofis seperti mumkin (kontingen), pasti, niscaya, absurd, sebab, akibat, dan sebagainya.  Ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis bisa dicontohkan ketika kita memperhatikan konsep “kertas” dalam bentuk universal, maka konsep ini merupakan ma’qūl awwal, kemudian konsep “kertas” ini disifatkan dengan “universal.” Dengan demikian, konsep “kertas” yang ada pada pikiran itu universal bukan partikular. Konsep universal ini disebut dengan ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis. Penyifatan “kertas” dengan “universal” itu pada pikiran, sementara konsep “kertas” dan “universal” juga berbeda pada pikiran. Ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat filosofis bisa dicontohkan ketika kita menyatakan bahwa api itu merupakan sebab mendidih. Penyifatan “api” sebagai “sebab” dan “mendidih” sebagai “akibat” disebut ma’qūlāt tsāniyah. Penyifatan “api” sebagai “sebab” itu terjadi pada realitas luar sementara konsep “api” dan konsep “sebab” itu berbeda pada pikiran. Sebagaimana api merupakan ekstensi dari kuiditas api maka api juga merupakan ekstensi dari konsep “sebab”. Oleh sebab itu, konsep “sebab” merupakan ma’qūl tsānī

*

Ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis merupakan ma’qūlāt tsāniyah yang hanya ada pada pikiran saja. Semua makna yang digunakan dalam logika tergolong dari ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis. Contohnya, keberadaan sesuatu sebagai “subyek” atau “predikat”. Manusia itu ada pada realitas luar dan “tertawa” juga ada pada realitas luar, tetapi “Manusia sebagai subyek” dan “tertawa sebagai predikat” dikhususkan pada “manusia” dan “tertawa” pada pikiran dengan menjadikan “manusia” sebagai “subyek” dan “tertawa” sebagai “predikat.” Pikiran yang memberikan bentuk proposisi, jika bukan pikiran maka proposisi itu tidak ada pada realitas luar. “Mu’arrif (yang mendefinisikan) juga tergolong ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis, karena “yang mendefinisikan” hanya ada pada pikiran. Tidak sesuatu pada realitas luar yang mendefinisikan sesuatu yang lain. Namun, konsep dan makna datang pada pikiran, kemudian dua konsep atau tiga konsep tersebut mendefinisikan konsep yang lain. Definisi hanya ada pada pikiran. Yang mendefinisikan, yang didefinisikan, argumentasi, silogisme, penalaran, induksi merupakan rangkaian makna yang disifatkan dengan universal pada pikiran.

*

Yazdanpanah mengutip penjelasan Muthahhari yang mempertanyakan posisi ma’qūlāt tsāniyah manthiqiyyah. Yaitu, jika konsep-konsep dari ma’qūlāt tsāniyah manthiqiyyah merupakan keadaan-keadaan dari quiditas-quiditas pada pikiran, maka apakah keadaan itu bersifat tambahan pada quiditas tersebut atau keadaan itu diambil dari esensi quiditas yang disifatkan?

Jika kita mengatakan, “Manusia itu universal,” maka “universal” yang merupakan keadaan atau sifat pada “manusia” itu merupakan keadaan tambahan atau keadaan yang diambil dari esensi konsep “manusia”. Muthahhari menjawab bahwa ma’qūlāt tsāniyah manthiqiyyah itu dikeluarkan atau diambil dari esensi subyek yang disifatkan dan bukan merupakan sifat tambahan pada subyek yang disifatkan. Jadi, kita tidak memiliki dua hal. Berbeda dengan ma’qūlāt awwaliyyah ketika kita mengatakan, “Benda itu putih,” kita memiliki dua hal, yaitu “benda” dan “putih” meskipun keduanya saling berkaitan.

*

Ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat filosofis merupakan makna-makna yang digunakan dalam filsafat. Makna-makna ini dari satu sisi bukan ma’qūlāt awwaliyyah yang merupakan bentuk-bentuk dari sesuatu pada realitas eksternal datang ke pikiran melalaui indera. Makna-makna ini juga bukan ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis karena ma’qūlāt tersebut hanya ada pada pikiran. Makna-makna ini merupakan sifat-sifat sesuatu yang ada pada realitas luar. Pada realitas luar sesuatu itu memiliki sifat pasti atau niscaya, mungkin, atau tidak mungkin. Jika kita mengatakan bahwa keteraturan semesta itu niscaya, maka pernyataan yang kita maksud bukan sesuatu yang di pikiran itu niscaya, tetapi sesuatu yang di realitas luar itu niscaya.

*

Ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat filosofis merupakan makna-makna yang digunakan dalam filsafat. Makna-makna ini dari satu sisi bukan ma’qūlāt awwaliyyah yang merupakan bentuk-bentuk dari sesuatu pada realitas eksternal datang ke pikiran melalaui indera. Makna-makna ini juga bukan ma’qūlāt tsāniyah yang bersifat logis karena ma’qūlāt tersebut hanya ada pada pikiran. Makna-makna ini merupakan sifat-sifat sesuatu yang ada pada realitas luar. Pada realitas luar sesuatu itu memiliki sifat pasti atau niscaya, mungkin, atau tidak mungkin. Jika kita mengatakan bahwa keteraturan semesta itu niscaya, maka pernyataan yang kita maksud bukan sesuatu yang di pikiran itu niscaya, tetapi sesuatu yang di realitas luar itu niscaya.

*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s