NILAI PENGETAHUAN

_60921845_brain_activity-smallerApakah manusia bisa menyingkap kebenaran dan meraih informasi tentang realitas?

Bagaimana caranya supaya sampai pada kebenaran itu?

Apakah standar untuk membedakan kebenaran dari yang tidak benar dan berbeda dengan realitas?

Nilai pengetahuan menjadi kajian yang mendasar dalam epistemologi

}

Ada pengetahuan manusia yang sempurna tanpa perantara dan bentuk hudhuri, artinya menemukan realitas itu sendiri.

Pengetahuan hudhuri tidak memungkin untuk salah.

Pengetahuan hudhuri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia, oleh sebab itu diperlukan pengetahuan hushuli.

}

Apakah kebenaran itu?

Bagaimana bisa membuktikan bahwa pengetahuan manusia itu berkorespondensi dengan realitas?

Masalah ini muncul karena adanya perantara antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Ilmu bukan obyek yang diketahui.

Jika tidak ada perantara, maka subyek yang mengetahui menemukan keberadaan entitas dari obyek yang diketahui.

}

Pengetahuan yang bisa benar –sesuai dengan realitas- dan pengetahuan yang bisa salah –tidak sesuai dengan realitas- adalah pengetahuan hushuli.

Kebenaran dari nilai pengetahuan adalah bentuk mental pengetahuan sesuai dengan realitas yang direpresentasikannya.

Kebenaran menurut pragmatisme adalah pemikiran yang bermanfaat dalam kehidupan praktis manusia.

 

}

Kebenaran menurut relativisme adalah pengetahuan yang cocok dengan perangkat persepsi yang sehat

Kebenaran adalah apa yang disepakati oleh semua orang

Kebenaran adalah pengetahuan yang bisa dibuktikan dengan pengalaman inderawi.

“Kebenaran faktual” adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (hal ini diukur dengan dapat tidaknya diamati secara indrawi) apa yang dinyatakan.

Contoh: Pernyataan “bumi itu bulat” apakah pernyataan ini merupakan suatu pernyataan yang memiliki kebenaran faktual atau tidak. Intinya , kebenarannya harus bisa diuji berdasarkan pengamatan indrawi.

}

Kebenaran materialisme Ilmiah menyamakan kebenaran dengan kenyataan yang dapat dibuktikan berdasarkan pengamatan indrawi, atau kenyataan yang bersifat publik dan impersonal.

Kebenaran eksistensial menyamakan apa yang secara pribadi (personal) berharga bagi subjek konkret yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.

}

“Kebenaran nalar” adalah kebenaran yang bersifat tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia ini, tetapi dapat merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini.

“Kebenaran nalar” dapat membantu untuk memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran faktual.

“Kebenaran nalar” adalah kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika.

}

Standar untuk Mengetahui Kebenaran

Rasionalisme berpandangan bahwa standar untuk mengetahui kebenaran adalah fitrah akal atau bawaan akal. Proposisi yang dihasilkan dengan benar jika bersandar pada prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya. Proposisi yang bersifat inderawi dan pengalaman dinyatakan benar jika bisa dibuktikan dengan dalil-dalil yang rasional.

Setelah akal mengkonsepsikan subyek dan predikat dalam proposisi yang jelas dengan sendirinya, maka akal menetapkan bahwa subyek dan predikat itu menyatu –bersifat mendatangkan keyakinan- tanpa perlu pada pengalaman.

}

Emperisme berpandangan bahwa standar kebenaran pengetahuan yaitu bisa dibuktikan melalui pengalaman.

1.Standar ini hanya berlaku pada hal-hal inderawi dan bisa dialami secara praktis.
2.Hasil pengalaman inderawi dan praktis harus dipersepsikan dengan perantara ilmu hushuli.

Pertanyaannya, apa yang menjamin kebenaran ilmu hushuli?

 

}

Yang bisa dinyatakan benar atau salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikan.

Yang bisa betul atau keliru adalah orang yang mempersepsikan.

}

Proposisi “Aku takut”, “Aku ada”, dan “Aku ragu” merupakan proposisi yang tidak mungkin diragukan, karena proposisi ini berasal dari fitrah dan indera batin.

Bandingkan dengan proposisi “Kamu takut”, “Kamu ragu”

}

Proposisi logika yang merepresentasikan bentuk dan konsep mental.

“Konsep manusia itu adalah konsep universal”

Proposisi yang merepresentasikan salah satu karakteristik konsep manusia yang merupakan konsep yang hadir dalam pikiran. Ini bisa diketahui dengan pengalaman mental.

Kita mengetahui bahwa konsep ini tidak merepresentasikan individu khusus dan konsep ini berkorespondensi dengan banyak ekstensi, tanpa perlu menggunakan alat inderawi dan tanpa perlu perantara bentuk persepsi yang lain.

 

}

Konsep filosofis merupakan konsep yang berakhir pada ilmu hudhuri.

Konsep filosofis seperti kebergantungan dan kemandirian serta sebab dan akibat merupakan konsep yang didapatkan dari pengetahuan yang tanpa perantara dan diketahui secara hudhuri.

Hukum penyatuan antara subyek dan predikat merupakan proposisi analisis yang memilah konsep subyek dalam proposisi tersebut untuk mendapatkan konsep predikat.

“Setiap akibat memerlukan sebab”

Akibat adalah sesuatu yang keberadaannya terkait dengan keberadaan sesuatu yang lain.

}

“Setiap yang ada memerlukan sebab”

“Memerlukan sebab” tidak ditemukan dari analisis konsep “yang ada”

Proposisi ini bukan proposisi yang jelas dengan sendirinya.

Proposisi yang jelas dengan sendirinya merupakan ilmu hudhuri.

}

Referensi

Sudarminta, J. Epistemologi Dasar. Pengantar Filsafat Pengetahuan. (Yogyakarta: Kanisius, 2002).

Mishbah, Muhammad Taqi. Al-Manhaj al-Jadid fi Ta’lim al-Falsafah (Qom: Jamiah al-Mudarrisin, 1407)

}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s