NILAI PROPOSISI ETIKA DAN HUKUM

ethics2Karakteristik Pengetahuan Etika dan Hukum

Pengetahuan Etika dan Hukum disebut juga dengan Pengetahuan Nilai

Pengetahuan ini memiliki karakteristik yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

a.Karakteristik yang berkaitan dengan konsep-konsep tashawwur yang membentuk term-term etika dan hukum.
b.Karakteristik yang berkaitan dengan figura dan bentuk term-term nilai tersebut. Figura atau bentuk terdiri dari 2 macam, yaitu:
1.Bentuk anjuran, perintah, dan larangan (seperti dalam kitab suci)
2.Bentuk berita dan proposisi logis yang memiliki subyek dan predikat atau anteseden dan konsekuen
¢

Kalimat “Dirikanlah shalat!”

“Jangan mencuri!”

Kalimat ini tidak dinyatakan benar atau salah.

Supaya menjadi kalimat yang mengandung benar atau salah maka kalimat tersebut diubah menjadi,

“Mendirikan shalat itu disukai oleh pemberi perintah”

“Mencuri itu dibenci oleh pemberi larangan.”

atau

“Jika Anda mendirikan shalat maka Anda disukai oleh pemberi perintah”

“Jika Anda mencuri maka Anda dibenci oleh pemberi larangan.”

¢

Standar Kebenaran dan Kesalahan dalam Proposisi Nilai

Proposisi etika dan hukum dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu:

a.Merepresentasikan suatu ketetapan prinsip khusus dalam aturan tertentu. Contoh,

“Berdusta untuk mendamaikan kelompok yang bertikai dibolehkan dalam Islam”

“Memotong tangan pelaku pencurian itu wajib dalam Islam”

Standar “benar” dan “salah” dalam proposisi ini adalah kesesuaian atau ketidaksesuaiannya dengan sumber atau referensi etika atau hukum tsb.

Cara mengetahuinya adalah merujuk pada sumber atau referensi yang berkaitan dengan aturan tersebut.

Cara mengetahui prinsip-prinsip etika dan hukum dalam Islam adalah merujuk pada Al-Quran dan Sunnah

¢
b.Merepresentasikan fakta dan ketetapan realitas tanpa memperhatikan aturan nilai tertentu, atau masyarakat sendiri sudah menerima hal tsb.

Hal ini disebut dengan prinsip-prinsip umum dalam etika dan hukum.

Contoh dalam proposisi etika

“Keadilan itu baik”

“Tidak dibolehkan menzalimi siapa pun juga”

Contoh dalam proposisi hukum

“Setiap manusia itu berhak untuk hidup”

“Siapa pun tidak boleh dibunuh tanpa alasan yang benar.”

¢

Pandangan yang Masyhur ttg Proposisi Etika dan Hukum

A. Sebagian filsuf etika dan hukum tidak menerima prinsip umum dalam etika dan hukum

Positivisme menganggap masalah ini merupakan suatu hal yang sia-sia dan tanpa makna, karena itu tergolong pemikiran metafisik dan tidak ilmiah.

Dasar positivisme terfokus pada hal-hal inderawi.

Jika demikian maka akan menyebabkan adanya perubahan nilai-nilai etika dan hukum dalam berbagai macam masyarakat dan waktu yang berbeda.

Jika demikian maka akan menjurus pada keyakinan pada relativitas etika dan hukum serta  keraguan atau pengingkaran pada prinsip-prinsip nilai yang bersifat tetap.

¢

B. Sebagian filsuf menganggap proposisi nilai itu berdasarkan pada nilai-nilai sosial yang bersumber dari kebutuhan manusia dan perasaan batin. Nilai-nilai ini berubah sesuai dengan perubahan faktor-faktor tersebut.

Jika demikian, proposisi etika dan hukum berada di luar kajian argumentatif yang didasarkan pada prinsip-prinsip kepastian, niscaya, dan abadi.

Standar “benar” atau “salah” dari proposisi tersebut adalah kebutuhan dan kecenderungan yang membentuk nilai-nilai tersebut.

 

¢

Tanggapan:

Seluruh pengetahuan yang bersifat praksis itu berkaitan dengan perilaku ikhtiar manusia.

Perilaku ikhtiar manusia itu bersumber dari salah satu jenis kecenderungan manusia yang mengarah pada tujuan khusus.

Atasa dasar ini, terbentuklah konsep-konsep khusus yang dijadikan term-term dalam proposisi.

Pengetahuan praksis menjelaskan manusia tentang jalan yang dipilih di antara keinginan-keinginannya yang berlawanan supaya manusia sampai pada tujuan dasar dan luhur manusia dan supaya manusia mendapat petunjuk menuju kebahagiaan dan kesempurnaan.

Jalan ini tidak selamanya sesuai dengan keinginan banyak manusia yang lebih banyak mengarah pada keinginan hewani dan kenikmatan duniawi yang bersifat materi.

Jalan ini membawanya untuk bersikap “jalan tengah” atau “seimbang” di antara tuntutan naluri dan hewaninya serta menahan diri dari sebagaian kenikmatan duniawi.

¢

Jika yang dimaksud dari kebutuhan dan kecenderungan manusia adalah secara mutlak kebutuhan individu dan kelompok, yang selalu bertentangan hingga menyebabkan kerusakan dalam masyarakat, maka hal tersebut bertentangan dengan tujuan dasar dari etika dan hukum.

Jika yang dimaksud dari kebutuhan dan kecenderungan manusia adalah kebutuhan khusus dan kecenderungan manusiawi yang luhur maka hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip yang tetap, niscaya, pasti, dan universal.

Proposisi ini tidak keluar dari pengetahuan argumetatif.

 

¢

C. Prinsip-prinsip etika dan hukum berasal dari prinsip-prinsip yang sudah jelas dengan sendirinya berdasarkan akal praksis dan bersumber dari fitrah akal dan tidak memerlukan dalil.

Standar “benar” dan “salah” adalah kesesuaian dan ketidaksesuaiannya dengan hati nurani.

¢

Kajian Masalah

Proposisi etika dan hukum berkaitan dengan perilaku ikhtiar manusia.

Perilaku itu menjadi perantara untuk menghantarkan manusia menuju tujuan yang diinginkan. Nilai-nilai itu menjadi perantara untuk meraih tujuan tersebut.

Tujuan-tujuan itu direalisasikan supaya bisa menjamin kebutuhan duniawi dan memenuhi naluri hewani atau bisa menjamin kemaslahatan sosial tanpa ada kerusakan, atau bisa sampai pada kebahagiaan yang abadi dan kesempurnaan maknawi.

Kebutuhan duniawi  tidak terkait dengan etika. Kemaslahatan sosial merupakan sumber nilai.

Kebahagiaan abadi juga merupakan sumber nilai.

¢

Tujuan-tujuan tersebut memiliki dua sisi, yaitu:

a.Sisi yang menjadi tuntutan manusia supaya sampai pada kebahagiaan dan kesempurnaan. Sisi ini bersifat personal dan mengikuti pengetahuan serta prinsip-prinsip ilmiah dan persepsi.
b.Sisi yang bersifat ontologis, bersifat objektif dan mandiri terhadap kecenderungan, keinginan, dan pengetahuan manusia.

Jika dipandang dari sisi tujuan yang dikehendaki maka diabstraksikan konsep “nilai”.

Dalam tinjauan ontologisnya yang berkaitan dengan hasil yang terealisasi maka diabstraksikan konsep “wajib” dan “harus”

Standar “benar” dan “salah” dalam proposisi etika dan hukum adalah dampaknya dalam meraih tujuan-tujuan yang dikehendaki.

Dampak tersebut tidak mengikuti kecenderungan seseorang tetapi mengikuti realitas yang disebut dengan nafs al-amr (fakta), seperti hubungan sebab akibat.

Prinsip-prinsip etika dan hukum merupakan proposisi filosofis yang bisa dibuktikan.

¢

Referensi

Mishbah, Muhammad Taqi. Al-Manhaj al-Jadid fi Ta’lim al-Falsafah (Qom: Jamiah al-Mudarrisin, 1407)

¢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s