Ahkam al-Mahiyyah (Hukum-hukum quiditas)

philosophy_imageQuiditas merupakan jawaban dari pertanyaan apa itu dan dapat menerima beragam pensifatan, baik Wujud atau ketiadaan, Satu atau banyak, parsial atau general, Quiditas dalam tingkat quiditasnya bukanlah sesuatu (La maujudah wa la la maujudah) sehingga pada tingkat  ini tertolak segala kontradiksi tertolak sekalipun pada realitasnya diluar menjadi keharusan

Karenanya Quiditas dapat dipropoisiskan pada proposisi primer (al-Haml al-Awwali)

 

Quiditas dapat dikenali dalam tiga bentuk

• Dengan syarat sesuatu
• Dengan syarat Tidak
• Tidak bersyarat sesuatu

Quiditas dengan syarat sesuatu

 

Quiditas dalam bentuk ini disebut Makhluttoh

Yang dimaksud,

Quiditas yang didapat  dari spesifikasi yang menyertainya sehingga dapat dikonfirmasikan pada generalitas objeknya

Seperti : Manusia yang diambil dari spesifikasi Zaid dan dapat dikonfirmasikan pada Zaid.

 

Quiditas dengan syarat Tidak

 

Quiditas dalam bentuk ini disebut al-Mujaraddah

Yang dimaksud: Quiditas yang tidak ada sesuatu bersamanya, quiditas dalam kontek ini dapat dibagi ke dalam dua kategori :

1.Quiditas dalam tingkat zatnya bukanlah sesuatu selain dirinya yang setara antara Wujud dan ‘Adam
2.Quiditas sebagai quiditas yang sekiranya di tambahkan spesifikasi baginya maka hal tersebut sebagai tambahan baginya.

Quiditas yang tidak bersyarat sesuatu

 

Quiditas dalam bentuk ini disebut al-Muthlaqqah

Yang dimaksud: Quiditas dalam kontek kemutlakannya baik ada qarinah bersamanya ataupun tidak

 

Sedangkan Quiditas yang membagi (al-Maqsam) terhadap ketiga bagian quiditas disebut sebagai Quiditas Generalitas alamiah (al-Kulli al-Thabi’i)

 

Makna Esensi (Zati) dan Aksiden (Ardhi)

 

Zati : Merupakan subjek yang membentuk makna (Maudhu’) bagi quiditas, tidak berada di luar dari makna tersebut bahkan tidak akan terealisir makna tanpa dirinya
Seperti; Manusia sebagai subjek bagi Zaid, Amr dsb. atau Hewan bagi manusia.

 

Ardhi: Merupakan  subjek yang berada diluar dari esensi makna dan datang kemudian setelah seluruh  esensinya sempurna.

Seperti;  Tertawa bagi manusia.

 

al-Jins,  al-Fasl, dan  al-Nau’ 

 

Genus (Nau’) : Merupakan keseluruhan hakikat yang sama diantara bagian-bagian yang majemuk berdasarkan jumlah dalam menjawab pertanyaan apa itu .

Seperti; Manusia bagi Zaid, amr dsb.

 

Species (al-Jins) : Merupakan keseluruhan hakikat yang sama diantara bagian-bagian yang majemuk berdasarkan hakikat dalam menjawab pertanyaan apa itu.

seperti : Hewan bagi manusia dan Kuda

 

Diferensial (al-Fasl) : Merupakan bagian spesifik dari quiditas yang membedakan dari bagian quiditas yang lain.

Seperti: Rasio bagi Manusia,

 

Dalam definisi lain dapat disebutkan bahwa : Species merupakan genus yang tidak terspesifikasi (al- Mubham) Diferensial merupakan genus yang terspesifikasi (al-Muhassalan) Genus merupakan quiditas sempurna tanpa memandang apakah terspesifikasi atau tidak

 

Species dan Diferensial

 

Jauh;  Species dan Diferensial yang terletak  setelah  Species dan Diferensial yg dekat.

Spt; Fisik yang bergerak  dan menginderai dengan keinginan

Dekat; Species dan Diferensial yang dekat dengan genusnya. Spt; Rasio bagi Manusia

 

Species dan Genus

 

Jauh

Sedang

Dekat

 

Quiditas yang  terdiri atas beragam Genus jika dihadapkan pada beragam pensifatan yang dinisbahkan kepada dirinya merupakan materi sedangkan jika dinisbahkan kepada keseluruhan disebut sebagai Sebab Materi (Illat al-Madiyyah)

 

Karenanya Materi dan Species pada intinya merupakan kesatuan secara esensial akan tetapi berbeda dalam penyebutan ; Materi yang diambil tanpa syarat (La bi Syart) merupakan Species sedangkan Species jika diambil berdasarkan syarat tidak (Bi syart la) merupakan materi. Demikian pula Forma jika diambil tanpa syarat merupakan Diferensial dan Diferensial jika diambil dengan syarat tidak merupakan Forma.

 

Hukum  Diferensial

 

al-Mantiqi

Merupakan keharusan  yang ada pada Diferensial  dan dengannya diketahui Genus

Seperti; Akal bagi Manusia

 

al-Isytiqaqi

Merupakan dasar bagi terbentuknya  Diferensial al-Mantiqi

Seperti; Spesifikaksi akal bagi manusia

 

Hukum Genus

 

Quiditas genus dalam beragam bagiannya (Ajza’) terwujud

dalam wujud yang satu dan kesatuan yang terjadi adalah kesatuan kebersatuan (Ittihadi) dan bukan ketergabungan  (Indimami)

 

Segala bentuk Genus yang memiliki banyak  objek (Afrad) merupakan Materi sedangkan yang tidak memiliki materi disebut sebagai genus non-material (al-Mujarrad).

 

General (al-Kulli) dan Parsial (al-juz’i)

 

Ada pandangan yang beranggapan bahwa generalitas dan Parsialitas terjadi sebagai hasil pencerapan (Idrak). Pencerapan indrawi  karenma sangat jelas menyaksikan sesuatu maka sesuatu tertsebut menjadi parsial sedangkan jika yang melakukan pencerapan tersebut adalah akal maka karena lemahnya pencerapan terjadilah generalitas. Filosof menolak hal tersebut karena General merupakan mafhum yang dapat dikonfirmasi pada banyak objek sedangkan parsial adalah mafhum yang hanya dapat dikonfirmasi untuk satu objek.

 

Karenanya:

Generalitas dan Parsialitas keduanya merupakan bagian dari keberadaan quiditas

 

Personifikasi (Tasyakhus) dan Pensifatan (Tamiz) Quiditas

 

Personifikasi terjadi ketika quiditas tersebut tidak dapat dikonfirmasi pada objek yang banyak.

Seperti : Personifikasi Manusia pada Zaid

Sedangkan pensifatan terjadi ketika pembandingan antara satu quiditas dengan quiditas lainnya

Seperti: Pensifatan manusia dengan berakal setelah dibandingkan dengan Singa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s