Filsafat Wujud Mulla Shadra

molla_sadra Para filosof agama sejak dahulu kala telah banyak membuktikan ekistensi Tuhan secara tradisional, yang saya maksud tradisional disini ialah membuktikan dengan segala sesuatu selain Tuhan, karena “jalan menuju tuhan juga beragam” akan tetapi bukti-bukti tersebut memiliki nilai yang terbatas. Tuhan sebagai dasar dari segala sesuatu pada intinya tidak dapat dibuktikan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana kita dapat membuktikan sesuatu jika dirinya sendiri adalah bukti dari segala sesuatu. Maka dari itu Tuhan harus menjadi buktinya sendiri jika tidak maka ia benar-benar tidak dapat dibuktikan. Wujud merupakan satu-satunya realitas, dan memiliki keunikan ia meliputi segala sesuatu dan tak sesuatupun lepas darinya. Menjadi penting jika saya bukan membahas wujud sebagai konsep (mafhum) akan tetapi wujud sebagai realitas “being” sebagaimana sabzawari pernah berkata “kita tidak membicarakan wujud particular tetapi wujud sebagai hakikat atau realitas yang terbuka (thabi’ah mursalah)” realitas yang terbuka ini adalah Tuhan dengan bentuknya yang absolute dan tunggal sehingga kita tidak perlu mencari Tuhan diluar alam wujud akan tetapi harus ditemukan dalam wujud sebagai dasar yang absolute “Tuhan adalah kesaksian dirinya” (QS.Ali Imran : 18). Tetapi bagi filosof iluminasi hanya esensi sebagai realitas sebenarnya, bukan wujud yang ia sebut sebagai abstraksi mental. Mulla Shadra banyak memberikan kritik terhadap alira-aliran filsafat sebelumnya terkait mazhab paripatetik dan iluminasi.

 

Kesadaran eksistensi menjadi penting ketika kita menyadari bahwa selama ini kita hanya merefleksikan dialektika esensi yang tiada akhir karena sifat dasar dari esensi ialah keberagaman yang memunculkan banyak perbedaan. Epistemology menjadi alat untuk memperjelas terma-terma untuk mengetahui sesuatu akan tetapi kesadaran eksistensi tidak lagi menggunakan alat mediasi atau sekalipun terma-terma. Maka dari itu Heidegger filosof barat mengatakan bahwa selama ini para filosof dari zaman yunani klasik sampai abad ke 17 hanya berkutat pada hal yang bersifat esensi dan memperdebatkan benar atau salah. Sedangkan substansi filsafat adalah “Being” maka dari itu tidak salah jika Corbin mengatakan bahwa pemikiran dari Heidegger merupakan catatan kaki pada pemikiran Mulla Shadra. Kesadaran eksistensial melahirkan ontology minus epistemology sehingga terma-terma yang saya buatpun dalam menjelaskan ini bukan lah kesadaran eksistensial itu sendiri, kesadaran akan “wujud” mungkin dapat kita sebut sebagaimana yang dikatakan Kantian sebagai Filsafat Transenden walaupun Kant menjelaskan Filsafat trasenden terkait mendamaikan 2 arus besar filsafat empiric dan rasionalis. Akan tetapi pembahasan wujud menjadi domain filsafat “beyond” karena usaha-usaha rasional kita untuk memahami wujud adalah hanya menjadi sebuah “preparation” untuk menyiapkan wadah “kesadaran eksistensial”, maka dari itu kesadaran eksistensial menjadi begitu penting untuk kita menyadari bahwa posisi keberagaman dan ketunggalan merupakan keniscayaan sehingga membentuk pandangan dunia yang dapat memahami keberagaman sebagaimana mestinya dan memiliki pandangan dunia “Tauhid”.

 

Hierarki Esensi (Tasykik Al-Mahiyyah) bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena esensi memang dasar dari lahirnya perbedaan sehingga Syaikh Isyraq pun tidak sulit untuk menjelaskan terjadinya keberagaman pada esensi dan itu yang menjadikannya tumpuan bahwa segala keberagaman itu terjadi pada sisi esensi. Edmund Husserl seorang fenomenolog asal Barat juga menyadari hal tersebut sehingga dia memberikan contoh mengenai konsep “Quila” ketika kita melihat warna merah dan menjelaskan kepada orang lain dengan kata merah, apakah kata merah dapat mewakili “merah” dalam maksud penglihatan kita tadi ? perbedaan mengenai intensitas ini yang disebut “Quila” oleh Husserl maka dari itu fenomonelogi hanya mengantarkan manusia pada “intersubjectivity” bukan kesadaran yang bersifat “onthos” . Kasus tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa tayskik al mahiyyah memang tempat segala keberagaman. Masalah muncul ketika kita mengaitkan keberagaman yang begitu banyak tadi terhadap ketunggalan dan ini yang menjadi polemic dalam dialektika filosof muslim selama berabad-abad. Esensi merupakan tempat dari segala perbedaan dan keberagaman memperjelas posisi eksistensi dalam filsafat yang menjadi dasar dan tumpuan dari segala sesuatu yang ada yang paling simple,paling jelas,dan tunggal.

 

 

Filosof muslim memiliki tugas berat untuk menjelaskan kedua hal yang paling fundamental dalam agama yaitu menjelaskan Tauhid sekaligus menghubungkannya dengan keberagaman yang ada pada realitas. Banyak filosof yang bertumpu pada “esensialis” yang memandang bahwa realitas yang kita lihat adalah berupa “artificial” bukan realias sesungguhnya sehingga pluralitas yang ada para realitas dianggap sebagai bentuk yang tidak nyata dan ini yang melahirkan sebuah pemikiran mengenai ketuhanan baru yang disebut “Monisme” yaitu yang menyakini bahwa yang Wujud hanyalah Tuhan dan tidak Wujud selain Tuhan, bahwa kita dan alam sekitar kita hanyalah berupa bayangan dari realitas sesungguhnya yaitu Tuhan. Wujud sebagai satu-satunya realitas memang tidak pernah ditangkap oleh pikiran, karena pikiran hanya dapat menangkap esensi atau gagasan umum, maka dari itu ada perbedaan mendasar antara gagasan umum wujud atau eksistensi dengan esensi. Esensi tidak pernah mengada per se, tetapi hanya timbul dalam pikiran dari bentuk-bentuk dan mode-mode wujud particular, dengan demikian menjadi hanya sebuah fenomena mental yang pada prinsipnya dapat diketahui sepenuhnya dengan pikiran. Sebaliknya gagasan umum tentang wujud yang timbul dalam pikiran tidak dapat mencerminkan atau menangkap hakikat wujud. Karena wujud merupakan realitas objektif dan transformasinya ke dalam konsep mental yang abstrak pasti mengandung kesalahan. Maka dari itu satu-satunya jalan ialah melalui “Kesadaran Eksistensial”

Semua gagasan yang timbul dari (pengalaman kita mengenai) dunia eksternal dan yang sepenuhnya ditangkap oleh pikiran, maka esensi mereka tersimpan (dalam pikiran) meskipun mode wujud mereka berubah (dalam pikiran). Tetapi karena hakikat wujud adalah diluar pikiran dan segala sesuatu yang hakikatnya diluar pikiran tidak mungkin masuk ke dalam pikiran atau juga hakikatnya akan benar-benar ditransformasikan karenanya wujud tidak dapat (secara konseptual) diketahui oleh pikiran. (Asfar, I, 1, hlm. 3, baris 16-19)

Kesadaran Eksistensi mengantarkan kita kepada konsep ketuhanan yang tidak menafikan realitas sebagai bayangan dan terpisahnya antara wujud tuhan dan manusia, akan tetapi bahwa Wujud itu ialah realitas itu sendiri dan berdiri diatas Wujud. Kesadaran eksistensi berusaha menyadarkan kita bahwa agama menjadi sesuatu yang real bukan lagi menjadi suatu dunia yang terpisah dari kehidupan materi. Kesadaran terhadap gradasi wujud menghindarkan kita dari sesuatu yang membawa kita kepada non-wujud atau ketiadaan.

Ketahuilah bahwa wujud adalah kebaikan dan kebahagiaan, dan bahwa kesadaran tentang wujud juga adalah kebaikan dan kebahagiaan. Namun, wujud-wujud itu mempunyai derajat keutamaan dan berbeda di dalam tingkatan kesempurnaan dan kekurangannya. Saat wujud itu semakin sempurna, keterpisahannya dengan non wujud semakin sempurna pula dan kebahagiaan di dalamnya semakin melimpah ruah. Ketika kekurangannya semakin banyak, ketercampurannya dengan keburukan dan penderitaan semakin banyak pula. (Spiritual Psychology, terjemahan Al-Asfar jilid 8 dan 9, hal. 447)

Kesadaran Eksistensi pada akhirnya memberikan pandangan hidup yang baru yaitu memahami dengan benar arti tauhid/ketunggalan dan keragaman yang terjadi, tidak lagi terjebak pada esensi yang hanya ditangkap oleh pikiran. Dengan kesadaran eksistensial akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah saw menjadi relevan karena setiap perbuatan baik adalah bentuk perfeksi dan segala perbuatan jahat adalah mengantarkan kita kepada ketiadaan. Etika menjadi penting ketika kita memiliki kesadaran tersebut karena bukan lagi akhlak terhadap sesama manusia akan tetapi juga terhadap alam/kosmos, yang merupakan keragaman yang lahir dari manifestasi-manifestasi ilahi yang berada pada wujud Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s