Filsafat Cahaya Suhrawardi

urlMateri dan bentuk menjadi tema utama perdebatan para filosof selama berabad-abad. Dalam memecahkan masalah materi dan bentuk, pengikut paripatetik berpendapat bahwa keduanya adalah dasar bagi terbentuknya segala sesuatu. Bagi mereka, eksistensi hayula mesti bergabung dengan bentuk.[1] Suhrawardi memberikan kritik yang ditujukan kepada pengikut paripatetik yang berasal dari aliran platonisme. Pengikut paripatetik mengatakan bahwa yang pertama muncul adalah jasad mutlak dan setelah itu baru bentuk.[2] Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali muncul adalah fisik lalu setelah itu aksiden-aksiden datang kepadanya. Menurut Suhrawardi pendapat dari kalangan paripatetik ini sangat lemah dan tidak berdasar., sebab seperti bentuk fisik manusia tidak mungkin bentuk fisik manusia muncul terlebih dahulu dan baru aksiden-aksidennya. Sehingga bentuk fisik lalu aksidennya adalah tidak benar dan mustahil. Maka dari itu tidak mungkin jismiah muncul terlebih dahulu baru diikuti dengan individu-individu, seperti pendapat Plato.

Suhrawardi mengatakan bahwa sesuatu yang dapat di inderai itu sebenarnya tidak ada tanpa adanya penyinaran dari Cahaya. Penyinaran cahaya yang dimaksud Suhrawardi dalam bentuk penyinara akali saja, yang dapat memberi bentuk wujudnya jasad, menurut Suhrawardi adalah perpaduan Jauhar gelap dan bentuk gelap, jasad juga hanya dapat mewujud melalui penyinaran cahaya.[3] Suhrawardi berupaya memasukkan teori Plato ke dalam teori iluminasinya melalui penyinaran akal dengan meletakkan bentuk akali setara dengan dunia ide Plato. Dengan demikian Suhrawardi menegaskan bahwa dunia yang terindera ini bukan dunia yang sebenarnya, akan tetapi dunia yang tidak terindera itulah dunia sebenarnya.

 

Tuhan adalah Cahaya dalam pemikiran filosofis Suhrawardi, Cahaya terasa lebih tepat daripada penyebutan lain. Dalam menggunakan istilah cahaya untuk menyebut Tuhan, Suhrawardi mengikuti argument yang digunakan oleh Ibn Sina dan al-Ghazali. Dalam hal ini Suhrawardi menggunakan terminology Nur al-Anwar untuk menyebut Tuhan. Dalam konsep filosofi Suhrawardi, alam semesta merupakan sebuah proses penyinaran raksasa, dimana semua wujud bermula dan berasal dari prinsip yang utama yang Esa. Dalam filosofi Paripatetik, cahaya ini sama dengan akal (Wajib al-Wujud), sumber segala sumber tidak ada sesuatupun yang menyamai kedudukannya, semua bergantung kepadanya.

Aturan yang dijadikan dasar acuan adalah tiap cahaya yang menduduki posisi lebih tinggi selalu meneruskan cahayanya ke cahaya yang berada dibawahnya sebanyak cahaya yang dimilikinya. Kemudian tiap tingkatan masing-masing menerima pancarannya. Kemudian tiap tingkatan masing-masing menerima pancaran satu kali langsung dari Nur al-Anwar dengan cara Musyahadah. Cahaya dibawahnya menerima limpahan pancaran dari tiap-tiap cahaya yang ada di atasnya sebanyak jumlah pancaran yang dimilikinya. Dengan demikian, jumlah pancaran yang diperoleh cahaya yang lebih rendah semakin banyak, karena akan memperoleh limpahan cahaya yang berlipat-lipat dari cahaya-cahaya yang berada diatasnya.[4] Semakin banyak limpahan cahaya yang didapat maka semakin redup dan semakin gelap, sebab limpahan cahaya tersebut selalu dibarengi dengan barzakh-barzakhnya. Cahaya yang menerima limpahan cahaya-cahaya dari atas berarti semakin jauh dari sumber aslinya.

 

Suhrawardi mengembangkan prinsip emanasi menjadi teori pancaran (iluminasi). Menurutnya, pancaran cahaya bersumber dari sumber pertama yang ia sebut Nur al-Anwar. Pancaran dari sumber pertama akan berjalan terus sepanjang sumbernya tetap eksis. Konsekuensinya, alam semesta akan selalu ada selama Tuhan ada, dan prinsip ini menimbulkan paham adanya dualism ke-qadim-an alam dan Tuhan. Akan tetapi, Suhrawardi mengatakan bahwa alam dan Tuhan adalah dua hal yang berbeda sama sekali. Dalam hal ini, ia mengumpamakan hubungan antara lampu dan sinarnya, lampu sebagai sumber cahaya jelas berbeda dari sinar yang dihasilkannya.

Di dalam Hayakil an-Nur, Suhrawardi membentangkan tigas jenis alam:

–          Alam Akal (‘alam al-‘aql)

–          Alam Jiwa (‘alam an-nafs)

–          Alam Materi (;alam al-jism)

Menurut terminologi yang dipahami oleh para filosof, akal adalah substansi yang tidak dapat dicerap indera dan tidak berinteraksi dengan materi. Sedangkan jiwa rasional sekalipun tidak memiliki bentuk jism akan tetapi ia berinteraksi dengan alam materi. Jiwa rasional yang berinteraksi dengan alam materi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu jiwa rasional yang berinteraksi di langit-langit dan jiwa rasional yang berinteraksi di dalam diri manusia. Sementara alam materi terbagi ke dalam eter dan unsur-unsur.

 

Pembahasan Suhrawardi mengenai gerak dan waktu ini berkaitan erat dengan penjelasan-penjelasan yang berkaitan dengan semua jenis pergerakan yang terjadi di alam semesta. Semua gerak bersumber dari yang pertama,[5] sedangkan waktu menurut Suhrawardi, adalah parameter gerak yang tergambar di dalam akal pikiran yang berkaitan erat dengan sebelum dan sesudah terjadinya gerakan.[6] Definisi yang diutarakan suhrawardi ini memiliki kesamaan pandangan dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa waktu ialah ukuran gerak yang dikaitkan dengan sebelum dan sesudah adanya gerakan.

Menurut Suhrawardi waktu tidaklah seperti jarak, sebab ukuran gerak berada diluar pikiran, bukan di dalamnya. Contoh waktu ialah gerak harian yang merupakan gerakan periodik. Menurutnya waktu tidak memiliki permulaan dan akhir, sebab jika waktu ditentukan awalnya, tentu terdapat waktu sebelum menentukan awal waktu. Oleh karena itu waktu bersifat abadi (azali).[7] Waktu juga tidak mengenal pembagian, ia terus berkesinambungan dari pengertian ini maka pembagian waktu masa lalu, sekarang, dan masa datang menjadi tidak sesuai dengan realitas.

 

Suhrawardi memberikan pengertian yang luas pada teosofos atau orang yang ahli dalam teosofi, menurutya teosofos adalah orang yang ahli dalam dua hikmah sekaligus, yaitu hikmah nazhariyyah dan hikmah ammaliyyah. Orang yang menguasai keduanya sekaligus dinamakan al hakim al muta’allih.[8] Adapun yang dimaksud dengan hikmah nzahariyyah ialah falsafah sementara hikmah ammaliyyah ialah tasawuf. Jadi, teosofos adalah orang yang mampu mengawinkan antara latihan intelektual teoritis dengan falsafah dengan penyucian jiwa melalui sufisme. Oleh karena itu ia tidak hanya menjadi pemilik pengetahuan rasional saja melalui kegiatan olah piker, melainkan juga menjadi orang suci melalui proses olah rasa.[9]

Puncak pemikiran Suhrawardi tertuang didalam karya monumentalnya, yakni Hikmah al-Isyraq, karya tersebut diberi titel itu karena kajian yang terdapat didalamnya berkaitan dengan penyingkapan-penyingkapan misteri ketuhanan yang paling dalam. Didalam kitab tersebut tertuang segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah ketuhanan yang terwakili melalui cahaya. Suhrawardi kemudia menjelaskan bahwa metode yang digunakan dalam menulis kitabnya itu didasarkan atas pengalaman yang dilihatnya di alam rububiyah.

 

[1] Suhrawardi Hikmah al-‘Isyraq, hlm 74

[2] Syams ad-Din Muhammad Syahrazuri, Syarh, Hikmah al-isyraq, hlm. 208

[3] Muhammad ‘Ali ‘Abu Rayyan, Ushul al-Falsafah al-Isyraqiyyah, hlm. 255

[4] Suhrawardi, Hikmah al-Isyraq, hlm 140-141

[5] Suhrawardi, Hikmah al-Isyraq, hlm 193

[6] Suhrawardi, Hikmah al-Isyraq, hlm 179

[7] Suhrawardi, Hikmah al-Isyraq, hlm 181-182

[8] Suhrawardi, Hayakil an-Nur, Cet 1, jilid 1, (Mesir, Al Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1956), hlm.12

[9] Seyyed Hossein Nasr, “Theology, Philosophy, and Spirituality”, dalam Seyyed Hossein Nasr (ed.), World Spirtuality: Islamic Spirituality, Manifestations, Vol. XX, (New York: The Crossroad Publishing Company, 1991), hlm. 427-428

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s