Kritik Terhadap Filsafat Transenden Kant

Immanuel-KantKant berusaha mendamaikan dua arus besar dalam Filsafat yaitu antara Rasionalis dan Empiris, pemikiran kant di zaman pencarian kebeneran diwarnai oleh dua aliran yang bersitegang tersebut. Rasionalis yang diwakili oleh filosof seperti Leibniz menolak pengetahuan yang didapat dari penginderaan hanya rasionalitas yang memiliki validitas untuk mengetahui sesuatu, sedangkan para filosof empiris seperti Hume berpandangan sebaliknya bahwa yang memiliki kapasitas untuk mengetahui sesuatu hanyalah melalui indera karena kerancuan dan tidak ilmiahnya dan kerelatifan konsep-konsep rasionalitas maka harus ada verifikasi yang mutlak dan satu-satunya jalan ialah dengan ilmiah empiris.

Kant menolak kedua pemikiran tersebut dalam mengkritik filsafat transenden Kant saya perlu menjelaskan aksioma-aksioma dan proposisi-proposisi yang coba dibangun oleh Kant dalam kritik-kritiknya terhadap kedua aliran besar filsafat tersebut. Kant berusaha mensintesakan kedua aliran pemikiran tersebut, dengan mengkombinasikan antara rasionalitas dan empiris kan menemukan jalan keluar untuk mengetahui sesuatu dengan benar.

Schopenhauer banyak mengkritik pemikiran Kant walaupun kita melihat bahwa sebagian besar pemikirannya dibangun oleh filsafat Kant, sebagaimana Schopenhauer mengkritik bahwa seharusnya Kant memperjelas terma-terma yang dibuat oleh Kant dalam setiap karyanya agar tidak ada kesalahpahaman, sebagaimana kata-kata “konsep” “pengetahuan” “pemahaman” terma-terma tersebut menjadi tumpang tindih dalam karya kant sehingga sulit kita menilai konsep yang ingin dijelaskan oleh Kant pada karya-karyanya.

Kant berpandangan ketika kita melihat kursi gambaran kursi dan konsep kursi yang masuk dalam pikiran kita ialah bukan kursi itu “sendiri” atau yang sering disebut dengan istilah das ding an sich. Schopenhauer mengkritik bahwa pemikiran Kant mengenai bukan kursi itu sendiri adalah juga buah dari presepsi sehingga dalam kasus tersebut kita melihat kasus yang sama dilihat dari 2 sudut pandang yang berbeda. Kant berusaha membangun kesadaran peran-peran akal dan batasan akal memahami realitas dan memberikan porsi yang seimbang antara akal dan iman yang keduanya memang niscaya harus dipenuhi, akan tetapi bagi Schopenhauer yang mendeklarasikan dirinya sebagai atheis bahwa kita dapat memahami kursi tadi dengan sendirinya yaitu dengan kehendak, bahwa noumena adalah sebuah kehendak yang ada dibalik realitas luar yang ada tanpa mengaitkan kehendak tadi dengan konsep ketuhanan yang sebagaimana Kant lakukan.

Kant menggagas filosofi transedental sebagai usaha untuk menjelaskan sebuah jiwa yang inheren inilah, yang akan kita lihat sebagai pandangan metafisikanya yang lebih jelas melalui filosofi transendental, Menurutnya, ada pengetahuan yang transenden, yaitu pengetahuan yang tidak banyak berisi objek, akan tetapi lebih banyak berisi konsep objek yang apriori. Lebih lanjut, Kant menjelaskan proses masuknya pengetahuan apriori ini dengan istilah estetika transenden dimana proses mengkoordinasikan sensasi-sensasi dengan acuan persepsi ruang dan waktu dan logika transenden, dimana mengkoordnasi persepsi-persepsi yang sudah masuk dalam konsep ruang dan waktu dengan memasukkannya dalam kategori pemikiran.

Dalam hal ini Kant berdiri diantara Rasionalis dan empiris Kant tidak menolak tentang realitas akan tetapi tidak juga menolak ide. Kant telah membagi fenomena dan noumena untuk menjelaskan batasan-batasan akal tersebut. Akan tetapi pembagian ini juga memiliki dampak negative seperti terpisahnya antara alam adikodrati dan kodrati yang selama ini dianggap para agamawan sama. Sehingga menurut saya setiap tindakan merasionalkan Tuhan adalah sia-sia media mengenalkan Tuhan adalah “Kesadaran” bukan konsep-konsep, ketika kita meng-breakdown “kesadaran” itu kepada orang lain maka dibutuhkan lah konsep-konsep akan tetapi bukan “dirinya sendiri” itu hanya sebuah gambaran yang mendekatkan kita pada objek yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s