Jiwa dan Badan menurut Ibn Sina

url

Jiwa dan badan merupakan tema besar hasil dialektika para filosof muslim sejak dahulu hingga sekarang, kerahasiaan jiwa dan hubungannya dengan badan membuat para filosof muslim maupun Barat berusaha memahami keterkaitan diantara keduanya. Sejak kemunculan positivism di Barat persoalan mengenai jiwa dan badan tidak lagi relevan karena jiwa yang dimaksud telah bergeser dari makna aslinya. Jiwa yang semula bersifat immateri dipahami sebagai bentuk neuron-neuron dan berupa hubungan antara stimulus dan respon atas kerja otak manusia, mematerikan jiwa sejalan dengan menolak spiritualitas manusia dan memandang manusia hanya sebagai hewan yang memiliki differensia berupa rasio saja minus spiritual.

Filosof muslim berusaha memahami pengertian-pengertian agama yang bersifat spiritual dan menyelaraskan dengan segala penemuan baru dalam bidang Sains tanpa mengorbankan spiritualitas manusia yang dianggap sebagai “secret” bagi kaum agamawan dan sekaligus dianggap sebagai “delution” bagi para positivis. Salah satu filosof muslim besar yang membahas tema besar tersebut yaitu antara jiwa dan badan adalah Ibn Sina.

Saya ingin membahas sedikit mengenai latar belakang Ibn Sina sebelum kita masuk kepada pembahasan utama yaitu pemikiran Ibn Sina mengenai jiwa dan badan. Abu Ali al-Husain ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Di Eropa dikenal dengan nama Avicenna. Ia dilahirkan pada tahun 370 H (980 M) disuatu tempat yang bernama Afsyana di Bukhara. Wilayah ini dikuasai oleh daulat Samani khalifahnya adalah Nuh ibn Manshur (340 H / 980 M).[1] Para peneliti banyak menemukan bukti sejarah bahwa Ibn Sina adalah seorang Syiah Ismailiyah yaitu aliran dalam Mazhab syiah yang menyakini 7 Imam setelah Nabi Muhammad saww, kematian imam yang terakhir yaitu imam Ismail ibn Ja’far Shodiq melahirkan pemikiran dan keyakinan baru dalam mazhab Syiah bahwa kepimimpinan Ismail merupakan kepemimpinan secara spiritual bukan lagi dalam bentuk materi secara real di dunia. Bentuk keyakinan dan ajaran dari Syiah Ismailiyah yang sangat bercorak mistik ini mewarnai setiap filosof yang berafiliasi pada mazhab Ismailiyah. Ibn Sina saya piker termasuk filosof yang cenderung dipengaruhi oleh latar belakangya sebagai seorang Syiah Ismailiyah terlepas dari benar atau tidaknya mengenai latar belakang filosof besar ini, sehingga menjadi penting sekali pembahasan jiwa bagi Ibn Sina dan keterkaitannya dengan badan.

Konsep Jiwa (an-nafs), menurut Ibn Sina terbagi menjadi tiga: Jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya: makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa binatang memiliki dua daya: daya bergerak dan daya menangkap. Daya bergerak dapat berbentuk marah, syahwat dan berpindah tempat. Adapun daya menangkap terbagi dua: daya menangkap dari luar dengan menggunakan indera-indera luar yang lazim disebut pancaindera, terdiri atas: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan lidah, dan perasaan tubuh; dan daya menangkap dari dalam melalui pancaindera batin, yaitu indera bersama (al-hiss al-musytarak), indera penggambar (al-khayal), indera pereka (al-mutakhayyilah), indera penganggap (al-wahamiah), dan indera pengingat (al-hafizah). Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang jiwa manusia hanya mempunyai satu daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua; akal praktis (‘amilah) yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya konkret dan akal teoritis yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya abstrak. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan , yaitu 1). Akal Materiil, yang beru merupakan potensi, untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, (2). Akal bakat, yaitu akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah mulai nampak, (3). Akal aktual, yaitu akal yang telah terlatih untuk menangkap arti-arti murni, dan (4). Akal perolehan, yaitu tingkat akal yang tertinggi dan terkuat dayanya, yaitu akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanyan sedia untuk dikeluarkan dengan mudah. Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif (akal kesepuluh). Menurut penjelasan Ibn Sina, akal aktif itu adalah Jibril.[2]

 

Ia menjelaskan bahwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga jiwa itu yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat binatang, sebaliknya jika jiwa manusia yang dominan berpengaruh, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat malaikat dan dekat pada kesempurnaan. Jika jiwa manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia akan memperoleh ksesenangan abadi diakhirat. Sebaliknya, jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terpengaruh oleh godaan hawa nafsu, maka ia akan sengsara selama-lamanya diakhirat.

Menurut Ibn Sina jiwa merupakan satu kesatuan dan memiliki wujud tersendiri. Jiwa timbul dan tercipta setiap kali badan lahir dan cocok serta dapat menerima jiwa. Jiwa tidak memiliki fungsi-fungsi fisik, dan tugasnya adalah berpikir, oleh karenanya ia memerlukan badan manusia. Panca indera dan daya batin jiwa binatang yang meliputi indra bersama, estimasi, dan rekoleksi inilah yang menolong jiwa memperoleh konsep dan ide dari alam dan sekelilingnya. Jika jiwa mencapai kesempurnaan dengan memperoleh konsep-konsep dasar yang diperlukannya, maka ia tidak akan berhajat lagi pada badan. Bahkan badan beserta daya binatang yang ada di dalamnya akan menjadi penghalang dalam mencapai kesempurnaan. Kedua jiwa lainnya yaitu binatang dan tumbuhan keduanya akan hancur seiring matinya badan dan tidak akan dihidupkan kembali. Balasan bagi dua jiwa ini dibalas di dunia materi. Sebaliknya jiwa manusia karena selalu berhubungan dengan hal-hal abstrak maka tidak akan memperoleh balasan di dunia ini akan tetapi pada hari kiamat kelak. Jiwa manusia akan kekal akan tetapi jiwa binatang dan tumbuhan tidak kekal. Akan tetapi jika jiwa manusia mencapai kesempurnaannya sebelum berpisah dengan badan maka ia selamanya dalam keadaan kesenangan. Jika jiwa manusia berpisah dari badan dalam keadaan tidak sempurna, karena selama bersatu dengan badan ia selalu dipengaruhi hawa nafsu jasmani ia akan hidup dalam penyesalan dan terkutuk selamanya di akhirat.[3]

 

 

Manusia adalah makhluk Monodualisme. Dalam diri manusia terkandung dua oknum yang saling terkait, jiwa dan badan. Suhrawardi juga berpendapat bahwa jiwa dan badan dalam satu tubuh disebabkan karena adanya ketertarikan (syauqiyyah). Jiwa tidak akan hancur dengan hancurnya badan.[4]

Jika salah satu badan kita sakit, misalnya tangan kita sakit akibat luka, maka luka itu tentunya akan mengganggu diri kita, mungkin saking perihnya, hingga kita konsultasikan ke Dokter untuk mendapatkan penyembuhan. Tapi perhatikan dengan sakit dalam jiwa kita, misalnya disaat kita mengumpat, memfitnah, menghardik, berdusta, angkuh, merasa paling pintar, paling memahami, dst, alih-alih kita merasakan sakit, bahkan kita merasakan kelezatan dengan sakit itu. karena hal ini pula kita tidak merasa perlu berkonsultasi dengan Tabib Ruhani. Disinilah alasannya kenapa kita butuh seorang Nabi, sebab Nabi lah yang mengetahui kadar sakit dalam diri manusia sehingga juga mengetahui cara penyembuhannya. Jika seorang Dokter didatangi oleh pasien, karena pasien menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Namun Tabib Ruhani harus mendatangi pasiennya, karena pasiennya tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit. (Mulla Sadra)

 

[1] Muhaimin, dkk, Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi & Pendekatan, (Jakarta:Kencana,2012) h. 328.

[2] Van Hoeve, Ensiklipedi, h.168

[3] Harun Nasution, Falsafah & Mistisme dalam Islam, hlm.38.

 

[4] Suhrawardi, Hayakil an-Nur, hlm. 80.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s