Teori Pengetahuan Comparative (Plato, Aristoteles, Ibn Sina dan Mulla Shadra)

_60921845_brain_activity-smaller

Para filosof sejak zaman yunani kuno sampai zaman postmodern saat ini membahas mengenai realitas dan berusaha mengartikulasikan realitas menjadi definisi yang dapat dipahami setiap orang melalui terma-terma. Rasio menjadi cahaya bagi manusia untuk melihat kemisterian dari sesuatu yang tidak ketahui sebelumnya dan bergerak untuk menjadi mengetahuinya. Pembahasan mengenai hakikat sesuatu adalah tujuan dari filsafat yang dijuluki sebagai “mother of science” cara untuk mengetahui hakikat sesuatu meniscayakan lahirnya epistemology, sehingga epistemology adalah sebuah keniscayaan dalam Filsafat, sehingga dapat dikatakan kapan pencetusan epistemology itu lahir ? yaitu dapat diberikan jawaban saat manusia berfilsafat. Filsafat berusaha memahami realitas menggunakan nalar (ratio) sehingga butuh akan sebuah pendetakan (approach) yang memberikan warna pada setiap pemikiran para filosof dan mengartikulasikan pemikirannya dengan terma-terma yang mengikat agar orang lain dapat memahami atau yang sering disebut oleh seorang fenomenolog Edmund Husserl sebagai Intersubjectivity.

Saya ingin memperjelas posisi ilmu dan informasi, sering terjadi kesalahpahaman banyak orang mengenai definisi dari keduanya bahkan sulit menemukan perbedaan dari kedua definisi kata tersebut, ilmu adalah tetap dan tidak mengalami perubahan karena jika ilmu mengalami perubahan maka tidak abash lagi kita sebut sebagai ilmu, bagaimana sesuatu itu benar disuatu tempat atau zaman dan pada tempat atau waktu yang lainnya sesuatu itu salah sehingga menjadi kontradiksi jika kita menyebutkan bahwa ilmu itu berubah. Ilmu adalah sesuatu yang unchangeable sedangkan informasi adalah sebaliknya dapat berubah dan tidak pasti karena merupakan data sebagai bahan mentah dari ilmu tersebut. Muncul pertanyaan penting dari pembahasan ini adalah bagaimana atau alat ukur apa yang dipakai oleh kita untuk mengetahui kebenaran dari suatu ilmu?

Semangat saintifik telah membuat suatu Rules yang dianggap sebagai absahnya ilmu atau apa saja yang dapat disebut sebagai ilmu yaitu harus sejalan dengan pola :

–          Logico

–          Hypotetico

–          Verifikatif

Verifikatif atau justification adalah alat ukur untuk mengetahui keabsahan atau kebenaran suatu ilmu, maksud dari justification adalah ilmu yang benar adalah yang sama dan tidak berubah yang berlaku pada realitas, sebagai contoh luas persegi adalah sisi x sisi tidak mungkin di tempat lain dan di zaman yang lain rumus dari persegi itu berubah. Ilmu tidak akan mengalami perubahan karena perubahan merupakan oxymoron dari ilmu. Maka dari itu filosof besar Plato menjelaskan bahwa ilmu yang berdomisili di alam ide lah yang memberikan efek pada realitas bukan realitas yang memberikan efek pada ilmu karena realitas meniscayakan perubahan sedangkan alam ide berupa ketetapan.

Plato membagi 2 alam yaitu alam ide dan alam materi, alam ide adalah alam dimana bersemayamnya hakikat dari segala sesuatu dan bersifat immateri sehingga mustahil mengalami perubahan, sedangkan alam materi adalah sebaliknya mengalami perubahan dan tidak pasti karena terus berubah, sebagai contoh ketika di alam materi ada berbagai macam segitiga akan tetapi di alam ide ada hakikat dari segitiga dan itu satu dan tidak berubah, karena kecenderungan materi adalah perubahan sedangkan immateri adalah ketetapan.

Bertenz (1999) menjuruskan dunia Idea/Form pada istilah ‘pengenalan’ tentang ide-ide. Pengenalan tentang ide-ide inilah yang merupakan pengenalan yang sesungguhnya yang dinanamakan Plato epistêmê atau pengetahuan (knowledge). Objek yang dituju oleh pengenalan atau pengetahuan ini bersifat teguh, jelas dan tidak berubah. Untuk mencapai pengetahuan ini dibutuhkan rasio. Pengetahuan yang dicapai oleh rasio inilah yang dipraktekkan di dalam ilmu pengetahuan. Jika dihubungkan dengan dunia fisik atau dunia pengalaman, maka pengetahuan inilah yang harus memengaruhi yang fisik atau pengalaman, bukan sebaliknya.[1]

Tujuan pengetahuan menurut Plato dapat kita lihat dari mitos Plato yang sudah masyhur sekali tentang penunggu-penunggu gua yang termuat dalam dialog Politea. Manusia dapat dibandingkan – demikian katanya – dengan orang-orang tahanan yang sejak lahir terbelenggu dalam gua; mukanya tidak dapat bergerak dan selalu terarah kepada dinding gua. Dibelakang mereka ada api bernyala. Beberapa orang budak belian mondar-mandir di depan api itu, sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan rupa-rupa bayangan yang dipantulkan pada dinding gua. Karenyanya orang tahanan itu menyangka bahwa bayang-bayang itu merupakan realitas yang sebenarnya. Namun sesudah beberapa waktu satu orang tahanan dilepaskan. Ia melihat sebelah belakang gua dan api yang ada disitu. Ia sudah memperkirakan bahwa bayang tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia dihantar keluar gua dan melihat matahari yang meyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir ia sudah meninggalkan realitas. Tetapi berangsur-angsur ia menginsafi bahwa itulah realitas yang sebenarnya dan bahwa dahulu ia belum pernah memandangnya. Pada akhirnya ia kembali ke dalam gua dan bercerita kepada teman-temannya bahwa apa yang mereka lihat bukannya realitas sebenarnya melainkan hanya bayang-bayang saja. Namun mereka tidak mempercayai orang itu dan seandainya mereka tidak terbelenggu, maka mereka pasti akan membunuh setiap orang yang mau melepaskan mereka dari gua (dengan sebutan terakhir ini dikiaskan kematian Sokrates).[2]

Serupa halnya dengan Plato, Aristoteles juga mengemukakan tentang adanya dua pengetahuan, yakni pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi merupakan hasil dari keadaan konkrit sebuah benda, sedangkan pengetahuan akali merupakan hasil dari hakekat jenis benda itu sendiri. Memang, pengetahuan indrawi mengarah kepada ilmu pengetahuan tetapi ia sendiri bukan ilmu pengetahuan lantaran ilmu pengetahuan hanya terdiri dari pengetahuan akali. Itu sebabnya mengapa Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah didapat dari hal-hal yang konkrit, melainkan mengenai hal-hal yang sifatnya universal.[3]

Aristoteles bersebrangan dengan pandangan Plato dalam persoalan dari ilmu itu datang, menurut Aristoteles pandangan Plato terlalu bersifat utopis dan terlalu abstrak. Aristoteles berargumen bahwa ilmu yang kita dapat adalah hasil dari abstraksi, observasi dan penelitian kita terhadap realitas yaitu dunia materi. Dunia materi yang kita tangkap melalui inderawi dengan pengalaman itulah yang menghasilkan ilmu dan kita dapat melihat bahwa Aristoteles yang merupakan seorang murid Plato menggunakan logika berbalik dari sang guru yang terkesan memiliki pemikiran deduktif akan tetapi aristoteles bentuk pemikirannya adalah induktif. Sehingga banyak yang menyebut aristoteles sebagai seorang realism.

Sebagai filsuf realis, sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan sangatlah besar, dan sampai sekarang masih kerap digunakan, yakni mengenai abstraksi: aktifitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Tentang abstraksi tersebut, ada tiga macam menurut Aristoteles sendiri, yakni: Abstraksi Fisis/Fisika, Abstraksi Matematis, dan Abstraksi Teologi/Metafisis.[4]

Berbeda dengan aristoteles Ibn Sina seorang filosof sekaligus seorang mistikus memahami ilmu sebagai elaborasi dari kedua pemikiran Plato dan Aristoteles, disini tercium kekhasan filsafat islam yang membangun paradigm dan identitas filsafatnya sendiri dengan memberikan sumbangan besar terhadap pembagian ilmu, menurut Ibn Sina ilmu adalah proses rekoleksi dan berasal dari akal ke X yaitu akal aktif yang merupakan bersifat kehadiran akan tetapi Ibn Sina juga dikenal sebagai seorang saintis yang berpandangan juga seperti Aristoteles memahami realitas, akan tetapi Ibn Sina berpandangan bahwa ilmu yang bersifat hushuli hanya sebagai bentuk preparation atau hanya mendekatkan kita pada ilmu yang bersifat kehadiran.

Ibn Sina memahami tujuan filsafat adalah penetapan realitas segala sesuatu, sepanjang hal itu mungkin bagi manusia.[5] Ada dua tipe filsafat, teoritis dan praktis. Yang pertama mencari pengetahuan tentang kebenaran; sedang yang kedua pengetahuan tentang kebaikan. Tujuan filsafat teoritis adalah menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan semata-mata. Tujuan filsafat praktis adalah menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga jiwa bertindak sesuai dengan pengetahuan ini.[6] Filsafat teoritis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang ada bukan karena pilihan dan tindakan kita, sedangkan filsafat praktis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang ada berdasarkan pilihan dan tindakan kita.

Mulla Shadra seorang filosof besar muslim memiliki pandangan sendiri terkait dengan ilmu, menurut Mulla Shadra pengetahuan bukanlah pengurangan, seperti abstraksi dari materi juga bukan hubungan tetapi suatu wujud. Ia bukan sembarang wujud, tetapi wujud actual, bukan potensial. Bahkan ia bukan sekedar wujud actual tetapi wujud murni yang tidak tercampur dengan non wujud. Semakin meningkat kebebasannya dari non wujud, intensitasnya sebagai pengetahuan pun semakin meningkat.

 

Pencapaian dan pemilikan merupakan esensi pengetahuan. Karena itu badan dan kaitan-kaitan fisik lainnya tidak dapat menjadi objek pengetahuan yang sebenarnya kecuali melalui bentuk, yang berbeda dari bentuk jasmani. Bentuk lain ini merupakan bentuk yang baru yang memiliki karakter spiritual, bentuk yang timbul dari dalam jiwa. Jadi pengetahuan adalah wujud murni bebas dari materi, wujud semacam itu adalah jiwa.

Jadi pengetahuan adalah wujud murni bebas dari materi[7] wujud semacam itu adalah jiwa, ketika ia benar-benar telah berkembang menjadi intelek perolehan. Jiwa tidak memerlukan lagi bentuk-bentuk yang melekat ke dalamnya, seperti aksiden-aksiden nya, tetapi menciptakan bentuk-bentuk dari dalam dirinya atau, dari bentuk-bentuk ini. Inilah makna identitas pemikiran dan wujud.

Mulla Shadra sendiri menegaskan bahwa pengetahuan tidak langsung mengenai diri juga mungkin, hal mana ia bukan intuisi, tetapi pengetahuan tentang tatanan konseptual.[8]

 

[1] Bertenz, K. (1999). Sejarah filsafat Yunani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Hicks, P. (2003). The Journey So Far Philosophy Through The Tges. Michigan: Zondervan

[2] http://theologyphilosophy07.blogspot.com/p/teori-pengetahuan-menurut-plato_29.html

[3] Mustansyir R & Munir M; Filsafat Ilmu; Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2008;

[4] Hamersma Harry; Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat; Yogyakarta: Kanisius; 1981.

[5] Al-Madkhal : 12

[6] Al-Madkhal 12-14

[7] Asfar, hlm 292, baris ke-6

[8] Asfar, IV, 1, hlm. 47 baris 5 dst.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s