Konsep Ketuhanan Agama Ibrahimik

513458202_640Sejak Zaman Yunani Klasik manusia didorong oleh nalurinya berusaha mencari sebab dari segala sesuatu, manusia terdorong untuk mencari sebuah jawaban untuk menjawab segala misteri alam dan akibat-akibat yang terjadi pada realitas. Filosof terdahulu seperti Thales dan lainnya berusaha menjawab segala persoalan tersebut untuk mencari sebab dari segala sebab atau prima kausa. Entitas yang tidak terbatas ini menurut para filosof menjadi sebab pertama yang sifatnya tidak terbatas, karena tidak memerlukan sebab sebelumnya, ia hanya menjadi sebab tidak memiliki sifat akibat, bagi para orang beriman inilah yang mereka sebut dengan Tuhan. Pengakuan keberadaan prima kausa adalah masalah utama dalam setiap agama dan filsafat, agama tanpa kepercayaan kepada Yang Tertinggi tidak disebut sebagai agama. Filsafat sama hal nya dengan agama bahwa pembahasan yang muncul sebagai yang pertama adalah terkait dengan metafisika.

Dalam perkembangan selanjutnya, Plato dan Aristoteles mengemukakan pendapat yang sudah sampai memikirkan sesuatu realitas yang di luar alam, bersifat imateri, abadi, satu, dan sempurna. Plato menamakannya ide kebaikan, dan Aristoteles menyebutnya sebab utama atau penggerak yang tidak digerakkan, yakni sebab pertama bagi gerak alam.[1]

Filsafat sebagai refleksi dan pemikiran sistematis manusia atas realitas di sekitarnya tentu saja tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh di ruang dan tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial, alam, dan potensi diri akan ikut memengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Pemikira filsafat muncul didorong oleh situasi yang menantang untuk dicarikan jawabannya. Namun, sesungguhnya dorongan manusia untuk berfilsafat juga merupakan desakan intrinsik, yang berkembang sejak usia kanak-kanak, sebagaimana setiap orang memiliki dorongan untuk makan ketika lapar, dorongan untuk minum ketika haus, dan dorongan tidur ketika mengantuk. Hanya saja, sebuah pemikiran disebut sebuah pemikiran filsafat manakala dilakukan secara sistematis, konsisten, mendalam, radikal, dan ditujukan kepada sebuah objek kajian tertentu.[2]

Hasil penelitian para ilmuwan menunjukkan bahwa sejarah manusia sejak awal telah berkelindan dengan agama dan seseorang tidak mungkin tidak butuh dengannya. Bahkan, banyak pula diantara kaum ateis yang menyakini bahwa “kosongnya dunia dari agama” merupakan angan-angan absurd lantaran masa depan masyarakat manusia, sebagaimana masa lalunya senantiasa beriringan dengan kepercayaan-kepercayaan agama[3]. Tuhan (bagi orang beriman) atau kepercayaan mengenai sesuatu entitas yang tidak terbatas dan sebab awal / prima kausa merupakan konsekuensi akal dan merupakan sebuah keniscayaan. Orang beriman menganggap pembahasan mengenai ketuhanan adalah sesuatu yang sakral akan tetapi konsep kita mengenai realitas Wujud Tetinggi tersebut tidaklah sakral dan dapat berubah-berubah mengikuti perkembangan zaman, budaya, dan sosial. Konsep Ketuhanan menjadi dasar pondasi dari setiap agama theism yang ada sehingga harus ada sebuah mutual understanding oleh setiap perbedaan yang ada pada setiap agama.

            All religions concede that humans on their own cannot arrive at a knowledge of God. For most traditions God is an entity who created the world and brought everything into being. But it is difficult to see how humans, who are a small part of the created order, can have knowledge of the creator. Therefore all religious traditions rely on revelation – a text or a person revealing God to us. It is possible to have a partial knowledge of God from other sources[4].

Zaman Modern membuat studi agama mengalami evolusi menjadi lebih luas, para peneliti berusaha memahami agama dari segala sudut pandang ilmu-ilmu yang ada, sehingga agama tidak hanya menjadi sebuah ritus belaka. Studi agama berusaha memahami hakikat dari suatu ajaran agama yang memiliki nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap ajarannya. Toleransi antar agama menjadi tema yang paling banyak dibahas dan sebagai antitesis dari sikap para fundamentalis ektrimis agama di zaman modern ini. Para peneliti dan tokoh agama berusaha mencari titik temu dalam kehidupan sosial masyarakat yang memiliki keberagaman. Dialog antar umat beragama tidak hanya dilakukan pada unsur kehidupan sosial bermasyarakat akan tetapi juga banyak dari para tokoh agama yang berdialog mencari titik temu dalam ranah teologis.

            Many sociologists have long believed that religious communities in modern societies face particular challenges in passing on religious faith and practice to their youth[5].

Kenabian Ibrahim as merupakan akar kenabian dari 3 agama besar di dunia atau yang biasa disebut sebagai Agama Samawi (agama langit), yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Nabi Ibrahim as menjadi poros dari ketiga agama samawi tersebut, nilai-nilai luhur dan tradisi yang dibawa oleh kenabian Ibrahim as dan para turunannya menjadi sebuah nilai dan tradisi yang dianut oleh agama samawi, meskipun memiliki perbedaan yang identik pada setiap agama. Perhaps the greatest contribution of the Middle East to global civilization, and the biggest way in which it changed our world forever is monotheism[6] . Konsep Ketuhanan menjadi hal yang fundamental dalam setiap agama, karena konsep ketuhanan merupakan dasar dari setiap agama dan menentukan bagaimana world view agama tersebut termasuk dalam hal kosmologi. Creatio ex nihilo is a central teaching in Jewish, Christian and Muslim thought[7] . Konsep ketuhanan dari ketiga agama samawi tersebut juga berbeda seperti Yahweh, kerajaan tuhan dan Allah swt akan tetapi memiliki kesamaan dalam ranah tertentu.

           I will make your name great, And you shall be a blessing. I will bless those who bless you And curse him that curses you; And all the families of the earth Shall bless themselves by you[8] .

Pasca kenabian Ibrahim as, keturunannya yang meneruskan ajaran dan tradisi yang dibawa oleh nabi Ibrahim as, turunan nabi Ibrahim as menjadi pemeran penting sebagai penerus wahyu tuhan sebagai penyambung lidah ketuhanan kepada kaumnya. Kenabian ketiga agama tersebut terbukti memiliki garis keturunan yang sama yang bermuara kepada “ayah para nabi” yaitu nabi Ibrahim as. Nabi Musa as yang membawa kitab Taurat merupakan keturunan nabi Ibrahim as dari anaknya nabi ishak as, nabi Isa as yang membawa kitab Injil juga keturunan dari anak nabi Ibrahim as melalui nabi Ishak as, dan nabi Muhammad saww yang membawa kitab Al-Quran merupakan keturunan nabi Ibrahim as dari anaknya nabi Ismail as.

            Abraham went into the desert, a place of nothing, and created something entirely new. And that something new was based on something invisible. He collected technology and know Ishmael how from all the places he visited. He mixed them with this big, unknowable, untouchable God, and he passed that down to both of his sons. And that’s what changed the world. If we’re fighting over stones, we’re missing the point. Abraham was about a single idea, and that idea he gave to us all [9].

Kisah nabi Ibrahim as di ketiga kitab suci agama samawi diabadikan dalam kisah-kisah yang terdapat dalam kitab suci tersebut yang menceritakan mengenai kehidupan nabi Ibrahim as dan keluarganya. Tema utama dalam kisah-kisah tersebut adalah kisah ketika nabi Ibrahim as mencari Tuhan. Proses analitik dan pengalaman spiritual yang dialami oleh nabi Ibrahim as menjadi dasar konsep ketuhanan dari ketiga agama samawi tersebut.

            The universal mystical spirituality of the children of Abraham is a robust, precious, and little known heritage upon which the fabric of the Judaic, Christian, Islamic, and perhaps even the Tantric religions are woven.[10]

Realitas Mutlak atau Yang Tertinggi yang dikonsepsikan oleh manusia memiliki beberapa pandangan, yaitu teisme,[11] deisme,[12] dan panteisme[13]. Para penganut konsep Tuhan sepakat mengenai Tuhan sebagai kausa prima, namun mereka berbeda pandangan mengenai cara berada, aktivitas dan hubungan Tuhan dengan alam dan manusia.

Tuhan sebagai yang personal baru dikenal dalam teisme, seperti dalam teisme Yahudi, Kristen, dan Islam. Konsep Tuhan dalam ketiga agama itu jelas identitas dirinya dan aktif serta memiliki berbagai sifat kesmepurnaan. Yang jelas Tuhan yang personal bukan hasil ide atau pikiran manusia, tetapi diperoleh lewat informasi wahyu yang dibawa oleh utusan-Nya. Personifikasi Tuhan tercantum dalam kitab suci yaitu Tuhan adalah pencipta alam semesta dan sekaligus pemeliharanya.

Al-Ghazali adalah tokoh teolog dan filosof yang berusaha memurnikan ajaran Islam dari pengaruh bidah kaum filosof. Menurutnya filsafat murni tidak mampu mencari hakikat realitas mutlak yang sebenarnya. Untuk menemukan realitas mutlak dibutuhkan perjalanan filosofis yang lebih dalam, yaitu selain dibutuhkan akal sehat juga memerlukan bantuan pengalaman batin dan wahyu. Perjalanan filosofis Al-Ghazali untuk menemukan realitas mutlak dilakukan setelah melalui beberapa tahap, hal itu sejalan dengan perkembangan pemikirannya. Mulanya ia mendalami pemikiran kaum teolog, lalu ajaran-ajaran filsafat, aliran kebatinan, dan aliran tasawuf. Akhirnya Al-Ghazali berhasil dengan cermat melakukan suatu sintesa yang selalu dikaitkankannya dengan jalan berpikir yang logis dan ajaran Islam.

Thomas Aquinas adalah tokoh teolog dan filosof yang terbesar pada masa skolastik dia berusaha mengawinkan ajaran aristoteles dengan ajaran Kristen, sehingga kerangka filsafatnya berhubungan erat dengan dengan teologi dan dengan tegas ia menunjukkan bahwa iman seseorang dapat diperkuat dengan akal. Sebagai sesorang filosof dan teolog yang membela hak-hak akal dan mempertahankan kebebasan akal, namun tetap memberi kebenaran alamiah wahyu, Thomas menyimpulkan adanya dua pengetahuan yang tidak saling betentangan, tetapi berdiri sendiri secara berdampingan, yaitu pengetahuan alamiah, yang brpangkal pada fakta yang terang serta memiliki hal-hal yang bersifat umum sebagai sasarannya, dan pengetahuan iman yang memiliki kebenaran ilahi, yang ada dalam kitab suci.

Al-Ghazali menganggap bahwa pengenalan Tuhan sebagai hal yang fitrah pada setiap orang, sama dengan realitas-realitas matematis (hukum yang pasti). Kewajiban manusia adalah merealisasikan fungsi tersebut secara sempurna, sehingga diperlukan wahyu.[14] Sedangkan Thomas Aquinas menolak pengetahuan bawaan mengenai Tuhan Thomas secara mantap tidak mengakui bahwa kita mengenal Tuhan sejak lahir, tetapi lewat pengetahuan yang bersifat a posteriori, yakni dari akibat-akibat.[15] Bagi Maimonides sedikit berbeda bahwa keesaan Tuhan adalah bersifat mutlak, Tuhan tidak dapat diberikan atribusi-atribusi seperti terma Aristotelian akan tetapi hanya dapat diberikan penafian bahwa Tuhan bukan seperti itu atau yang digambarkan dalam pemikiran kita, sehingga bahwa siapa saja yang percaya bahwa Tuhan itu satu tetapi memiliki banyak atribut maka ia mengesakan Tuhan lewat bibirnya akan tetapi menyekutukan Tuhan lewat pemikirannya. Bagi Maimonides bahwa keesaan Tuhan tidak dapat didiskusikan dengan terma atribusi positif.

[1] Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm. 157.

[2] Gilson, Etienne. Tuhan di Mata Para Filosof. Bandung: Mizan, 2004. Hlm. 12.

[3] Yusufian, Hasan. Kalam Jadid : Pendekatan Baru Dalam Isu-Isu Agama. Jakarta: Sadra Press, 2014. hlm. 2.

[4] Segal, Robert. The Blackwell Companion To The Study of Religion. Victoria: Blackwell Publishing, 2006. hlm. 195.

[5] Heft, James. Passing on The Faith. New York: Fordham University Press, 2006. hlm. 55.

[6] Chaterwood, Christopher. The Middle East. New York: Caroll & Graf Publishers, 2006. hlm. 27.

[7] Burrell , David. Creation and The God of Abraham. London: Cambridge, 2010. hlm. 24.

[8] Genesis 12:2‒3

[9] Feiler, Bruce. Abraham (A Journey to The Heart of Three Faiths). Australia: HarperCollins Publishers , 2002. hlm. 80-81.

[10] Feldman, Daniel. Qabalah (The Mystical Heritage of The Children of Abraham). California : Work of Chariot, 2001. hlm. 23.

[11] Teisme adalah paham yang berpendapat bahwa alam diciptakan Tuhan yang tidak terbatas, antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Tuhan disamping berada di alam (imanen), tetapi dia juga jauh dari alam (transenden). Ciri lain dari teisme menegaskan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara alam. Karena itu dalam teisme mukjizat yang menyalahi hukum alam diyakini kebenarannya. (Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997. hlm. 80-81).

[12] Kata deisme berasal dari bahasa latin deus yang berarti Tuhan, menurut paham ini Tuhan berada jauh di luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, ia tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Dengan paham Deisme Tuhan diibaratkan dengan tukang jam yang sangat ahli, sehingga setelah jam itu selesai tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah tersusun dengan rapi. (Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997. hlm. 88).

[13] Panteisme adalah ajaran yang menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya yang nyata, dunia tidak lain daripada sebuah rangkaian pernyataan diri-Nya atau emanasi-Nya yang tidak memiliki sebuah kenyataan tetap ataupun sebuah zat yang berbeda (Leahy, Lous. Filsafat Ketuhanan Kontemporer. Yogjakarta: Kanisius, 1993. hlm. 245).

[14] Al-Ghazali. Misykatul Anwar. Kairo, 1964. Hlm. 5. Dikutip oleh Mahmud Hamdi Zaqzuq dalam Al-Ghazali Sang Sufi Sang Filosof. Bandung: Penerbit Pustaka, 1987. hlm. 63.

[15] Bagus, Loren. Metafisika. Jakarta: Gramedia, 1991. hlm. 171-172.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s